Aktivitas Gempa di Jawa Tengah pada 2025
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa aktivitas kegempaan di Jawa Tengah selama tahun 2025 tergolong tinggi. Data yang diperoleh dari Stasiun Geofisika Banjarnegara menunjukkan sekitar 850 kejadian gempa bumi terjadi di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya pada tahun tersebut.
Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, hanya 10 gempa yang dirasakan oleh masyarakat. Meski guncangannya terasa, tidak ada dampak kerusakan maupun korban jiwa yang dilaporkan akibat gempa-gempa tersebut.
“Total kejadian gempa selama 2025 adalah sekitar 850 kejadian. Di antaranya, 10 gempa dirasakan masyarakat. Artinya, guncangannya terasa, tetapi tidak berdampak dan tidak menimbulkan kerusakan,” ujar Hery kepada Indonesiadiscover.com, Senin (12/1).
Distribusi Aktivitas Gempa
Berdasarkan data BMKG, aktivitas gempa terbanyak terjadi pada bulan April 2025 dengan sekitar 100 kejadian, satu di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Dari sisi kekuatan, kegempaan di Jawa Tengah didominasi oleh gempa bermagnitudo kecil. Sebanyak 698 kejadian gempa memiliki magnitudo kurang dari 3,0, sedangkan gempa bermagnitudo lebih besar jumlahnya relatif sedikit.
Ditinjau dari kedalaman, gempa bumi di Jawa Tengah sepanjang 2025 didominasi gempa dangkal. Sebanyak 581 kejadian merupakan gempa dengan kedalaman 0–60 kilometer yang sebagian besar bersumber dari aktivitas sesar di daratan Jawa Tengah serta zona pertemuan lempeng di selatan Jawa.
“Gempa dangkal ini salah satunya bersumber dari sesar-sesar yang ada di Jawa Tengah dan juga dari zona subduksi atau pertemuan lempeng di selatan Jawa, termasuk kawasan megathrust,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya mencatat 253 kejadian gempa menengah dengan kedalaman 60 – 300 kilometer, serta enam kejadian gempa dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer. Gempa menengah hingga dalam umumnya dipicu oleh tumbukan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.
Wilayah yang Paling Rawan Gempa
Secara spasial, wilayah selatan Jawa Tengah menjadi kawasan yang paling sering mengalami gempa bumi. “Paling banyak terjadi di pesisir selatan seperti Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri kerap mencatat aktivitas kegempaan karena lokasinya yang dekat dengan zona pertemuan lempeng. Sementara itu, Surakarta tercatat relatif jarang mengalami gempa,” ujarnya.
Meskipun aktivitas kegempaan cukup tinggi, Hery memastikan bahwa sepanjang 2025 tidak terdapat laporan kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat gempa bumi. Beberapa gempa yang dirasakan masyarakat hanya memiliki intensitas II hingga III MMI, sehingga tidak menimbulkan dampak berarti.
Imbauan untuk Masyarakat
Namun demikian, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman terhadap potensi gempa bumi. Menurut Hery, dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh jarak sumber gempa dan kondisi tanah di lokasi terdampak.
“Jenis tanah sangat berpengaruh. Tanah lunak cenderung memperbesar goncangan, sementara tanah keras atau batuan dapat meredam getaran. Ini penting untuk dipahami masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan gempa,” ujarnya.


