Atap Gedung DPR/MPR yang menjadi ikon tidak sengaja tercipta. Inspirasi berasal dari kuali serabi yang dipotong menjadi dua bagian.
Sejarah Unik Atap Gedung Parlemen
Gedung MPR/DPR di Jakarta memiliki atap yang sangat khas, dengan bentuk seperti kepakan sayap burung. Namun, keunikan ini justru lahir secara tidak disengaja. Awalnya, gedung ini dibangun sebagai tempat pelaksanaan Conference of The New Emerging Forces (Conefo), sebuah organisasi yang bertentangan dengan PBB. Bung Karno ingin membuat bangunan ini lebih megah dan mewah daripada Gedung PBB di New York.
Proses Pembangunan yang Tidak Biasa
Pembangunan dimulai pada 1965, dengan tujuan membangun kompleks yang bisa menampung 70 negara. Untuk menciptakan rancangan yang sesuai, dilakukan sayembara terbatas. Kelompok arsitek muda yang terdiri dari Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo dan rekan-rekannya berpartisipasi setelah usulan dari Menteri PUTL D. Suprayogi.
Proses pembangunan berjalan cepat. Dalam waktu dua minggu, mereka harus menyelesaikan gambar dan maket. Bahkan, Soejoedi menjual mobil untuk menutupi biaya awal. Dalam proses pembuatan maket, mereka menghadapi tantangan besar dalam membentuk kubah. Berbagai kali pengecoran gagal karena kubah retak atau pecah.
Inspirasi dari Kuali Serabi
Saat itu, Nurpontjo, salah satu anggota tim, mencoba memotong cetakan dari kuali serabi menjadi dua bagian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bentuk kubah yang stabil. Namun, ide ini justru menginspirasi Soejoedi untuk merancang dua busur yang menyerupai sayap burung. Ide ini akhirnya diadopsi dan menjadi ciri khas atap gedung.
Keberhasilan Rancangan
Soejoedi berhasil menang dalam kompetisi rancangan. Bung Karno mengapresiasi inovasi yang ditawarkan. Rancangan ini dinilai unik dan layak ditampilkan di forum internasional. Sutami, pelaksana teknis, menyatakan bahwa bentuk atap ini bisa direalisasikan.
Tim Kerja yang Luar Biasa
Untuk mempercepat pembangunan, dibentuk Komando Proyek New Emerging Forces (Kopronef) yang dipimpin oleh Menteri PUTL D. Suprayogi. Terdapat empat tim kerja:
Tim pertama dikomandani Dipl. Ing. Soejoedi, bertugas menyiapkan gambar.
Tim kedua dipimpin Jusuf Muda Dalam, bertugas di bidang dana dan administrasi.
Tim ketiga diketuai Ir. S. Danugoro, bertugas di bidang logistik dan perbekalan.
Tim keempat dibawahi Ir. Sutami yang bertugas di bidang pelaksanaan teknis lapangan.
Pembangunan yang Menggemparkan
Pembangunan dilakukan 24 jam sehari. Meski peralatan terbatas, semua instansi pemerintah dan non-pemerintah terlibat. Bahkan, bahan-bahan sisa dari proyek Senayan digunakan sebagai pengganti besi baja. Saat pengecoran atap, sebanyak 27.000 orang terlibat langsung.
Hasil yang Luar Biasa
Dalam delapan bulan, struktur bangunan selesai. “Bisa dikatakan pekerjaan ini ditangani oleh armada semut,” kenang Nurpontjo. Meskipun rencana Conefo gagal, gedung ini akhirnya digunakan sebagai Gedung MPR/DPR.

Kompleks yang Lengkap
Gedung utama MPR/DPR hanya satu dari lima bangunan dalam kompleks. Empat lainnya adalah:
Gedung sekretariat.
Banquet hall dan dapurnya.
Auditorium.
Mechanical building.
Pembangunan keseluruhan kompleks selesai pada 1975, meski upacara peresmian belum pernah digelar.

Kesimpulan
Atap Gedung DPR/MPR yang ikonik tidak diciptakan, tetapi ditemukan secara kebetulan. Inspirasi dari kuali serabi yang dipotong menjadi dua bagian, menghasilkan bentuk yang unik dan kuat. Proses pembangunan yang luar biasa dan kolaborasi antar tim, membantu merealisasikan rancangan ini.



