PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney memiliki rencana besar untuk mengubah 5 hingga 7 bandara utama di Indonesia pada tahun 2026. Transformasi ini akan dimulai dengan memperbaiki layanan dan infrastruktur di Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai sebagai proyek percontohan.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menjelaskan bahwa transformasi ini adalah kelanjutan dari upaya pembenahan bisnis yang telah dilakukan selama tiga hingga empat tahun terakhir. Perbaikan mencakup berbagai aspek seperti keuangan, tata kelola, dan model bisnis.
“Kami mulai dengan memperbaiki dasar-dasar dari semua aset, baik dari sisi bisnis maupun keuangan. Sebagai sebuah korporasi, kami harus memiliki tanggung jawab, profitabilitas, dan tata kelola yang baik,” ujar Maya dalam konferensi pers ‘4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia’, di Jakarta, Senin (19/1).
Maya menambahkan bahwa InJourney telah melakukan penyehatan keuangan di seluruh anak usaha agar memiliki modal yang cukup untuk mendukung pembangunan dan transformasi berkelanjutan. Setelah fundamental dinilai kuat dan model bisnis berjalan secara berkelanjutan, perseroan masuk ke fase akselerasi transformasi.
“Setelah evaluasi dasar selesai dan model bisnis sudah berjalan secara berkelanjutan, barulah kami bisa melakukan transformasi secara lebih cepat,” katanya.
Sektor bandara menjadi fokus utama transformasi InJourney. Saat ini, InJourney mengelola sekitar 37 bandara di Indonesia melalui penggabungan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II menjadi Angkasa Pura Indonesia. Melalui model engineering airport, perseroan melakukan standarisasi layanan bandara, mulai dari kebersihan, kualitas layanan, hingga skema komersial.
Pada 2025, transformasi difokuskan pada dua bandara terbesar, yakni Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, sebagai pilot project. Keberhasilan kedua bandara tersebut akan direplikasi ke bandara lain.
“Semua harus dimulai dari pilot project. Jika sudah ada contoh yang baik dan hasil positif, baru bisa direplikasi,” ujar Maya.
Memasuki 2026, InJourney akan memperluas transformasi ke 5 hingga 7 bandara utama. Beberapa bandara yang masuk prioritas antara lain Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Kualanamu, serta sejumlah bandara besar lainnya yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Transformasi bandara tersebut tetap mengusung konsep green airport dan penguatan budaya lokal sebagai DNA InJourney.
Selain bandara, InJourney juga tengah melakukan konsolidasi bisnis perhotelan. Maya mengungkapkan, proses konsolidasi terhadap 137 hotel yang berada di bawah ekosistem InJourney saat ini masih berjalan dan berada dalam tahap corporate action.
“Konsolidasi hotel sedang dalam proses. Saat ini masih berstatus corporate action, sehingga detailnya akan kami sampaikan dalam beberapa bulan ke depan, kemungkinan 2–3 bulan lagi,” ujarnya.
Konsolidasi tersebut dilakukan untuk mengembalikan seluruh lini bisnis InJourney pada core business masing-masing. Bandara difokuskan sebagai pengelola bandara, layanan aviasi pada jasa kebandarudaraan, dan hotel pada bisnis perhotelan.
“Kami tidak lagi melakukan bisnis yang tidak sesuai dengan core business. Tujuannya agar kami bisa fokus dan membangun model bisnis yang fundamental dan berkelanjutan ke depan,” kata Maya.
Ia menambahkan, fondasi yang kuat diperlukan agar InJourney sebagai BUMN holding pariwisata dan aviasi mampu tumbuh berkelanjutan dan bersaing secara global.
Dari sisi kinerja, InJourney mencatat pertumbuhan yang positif sepanjang 2025. Perseroan kini tercatat sebagai salah satu dari 43 perusahaan terbesar di Indonesia. Selain itu, kinerja destinasi pariwisata di bawah InJourney juga mengalami peningkatan hampir 10 persen, meski angka final masih dalam proses.
“Ini menjadi sinyal positif bagi kami,” ujarnya.
Menurut Maya, untuk masa depan InJourney tidak hanya menargetkan pertumbuhan dari sisi volume, tetapi juga kualitas pariwisata. Perseroan mendorong konsep quality tourism dengan dampak ekonomi yang lebih besar namun tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Kami ingin meningkatkan nilai, bukan hanya volume. Dampak ekonominya besar, tapi dampaknya terhadap lingkungan tetap kami minimalkan,” ujar Maya.



