Tantangan Pasar Otomotif di Tengah Kenaikan Harga dan Perubahan Pola Konsumen
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menyoroti bahwa saat ini pasar otomotif menghadapi tantangan yang cukup berat. Salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian mobil baru adalah harga. Menurutnya, konsumen kelas menengah sangat sensitif terhadap perubahan harga, sehingga sering kali mereka memilih untuk beralih ke kendaraan bekas.
“Inti pasar kita sangat sensitif harga. Pada 2025 saja penjualan mobil turun dan penurunan paling dalam terjadi pada segmen kendaraan penumpang, sementara perbaikan akhir tahun banyak ditopang BEV (Battery Electric Vehicle),” ujar Josua dalam wawancara dengan Indonesiadiscover.com, (12/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar produsen saat ini menggunakan strategi penyesuaian harga yang ketat untuk bersaing di segmen yang sama. Hal ini terutama dilakukan oleh merek-merek BEV agar bisa menarik lebih banyak konsumen. Namun, strategi ini masih terkendala oleh kinerja pembiayaan kendaraan.

Strategi Pembiayaan yang Masih Terbatas
Menurut data yang disampaikan Josua, pertumbuhan pembiayaan mobil baru melambat secara signifikan, sedangkan mobil bekas masih tumbuh. Ini menunjukkan bahwa jika kredit semakin ketat dan rasio kredit bermasalah meningkat, pemulihan pasar tidak hanya bisa diandalkan dari diskon harga.
Josua menyarankan adanya metode kombinasi antara produsen dan lembaga pembiayaan. Dari sisi produsen, diperlukan peningkatan keterjangkauan melalui varian yang hemat tanpa mengorbankan keselamatan. Juga, perluasan opsi hybrid sebagai jembatan bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik. Selain itu, penguatan paket purna jual dan garansi baterai juga penting agar konsumen merasa aman dalam hal nilai jual kembali kendaraan.

Solusi dari Sisi Pembiayaan
Dari sisi pembiayaan, lembaga pembiayaan perlu menajamkan seleksi risiko berbasis data. Namun, tetap memberi ruang untuk skema yang sehat seperti uang muka yang lebih memadai dan tenor yang sesuai profil risiko. Ia menegaskan bahwa menutup keran kredit bukanlah solusi yang tepat.
Selain itu, dari sisi ekosistem, perlu diperkuat program tukar tambah dan mobil bekas tersertifikasi agar pasar mobil bekas lebih transparan dan tidak menjadi sumber risiko baru.

Mendorong Ekspor untuk Menjaga Aktivitas Industri
Para produsen yang memiliki fasilitas produksi dalam negeri dapat mendorong kinerja ekspor dengan mencari peluang negara tujuan baru. Ini bertujuan untuk menahan penurunan produksi dan menjaga aktivitas industri. Josua menekankan bahwa kapasitas perakitan mobil listrik yang masih terbatas menunjukkan alasan mengapa transisi perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten, bukan sekadar kebijakan yang berubah-ubah.

Proyeksi Penjualan Mobil Tahun Ini
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan proyeksi penjualan mobil (untuk kendaraan roda empat atau lebih) tahun ini bisa mencapai 850 ribu unit. Proyeksi ini didasarkan pada perkembangan ekonomi, dinamika global, dan faktor lainnya.
“Banyak merek otomotif yang mengalami kesulitan produksi karena tidak bisa mendapatkan semikonduktor, itu juga yang menjadi kunci untuk kita. Adapun proyeksi penjualan mobil nasional tahun ini adalah 850 ribu unit,” ujar Agus di Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Angka tersebut dihitung berdasarkan kemampuan produksi otomotif terpasang untuk roda empat sebanyak 2,5-2,6 juta unit. Cita-cita ini hampir serupa dengan capaian 2025 yang melewati target 803 ribu unit.

Pelemahan Penjualan dan Harapan untuk Pemulihan
Tidak hanya penyerapan wholesales (dari pabrik ke diler), Agus menyampaikan bahwa penjualan retail atau distribusi dari diler ke konsumen juga melandai sebesar 6,3 persen dari sebelumnya 889 ribu unit menjadi 883 ribu unit.
“Ini jelas menunjukkan adanya kontraksi dan pelemahan. Namun kita bisa berbicara soal ekspor yang menjadi penopang utama sepanjang 2025 yang mencapai 518 ribu unit untuk kendaraan utuh atau CBU. Naik 9,7 persen dibanding 2024,” kata Agus.
Agus berharap tahun ini menjadi peluang yang bagus untuk pasar otomotif nasional. Pihaknya telah bertemu dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan berbagai helatan otomotif yang membantu penjualan. Ia menegaskan bahwa banyak tantangan yang perlu dicari jalan keluar bersama, termasuk pembiayaan, asuransi, dinamika global, dan rantai pasok.



