Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 15 September 2026
Trending
  • Peluang Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia jadi ancaman utama
  • Ramalan zodiak Cancer besok Senin, 14 September 2026: Jaga pikiran positif dan berani berbicara
  • 5 populer internasional: Iran serang pangkalan AS di Yordania – Inggris larang impor produk Israel
  • Timnas Indonesia vs Malaysia, lawan siapkan 4 pemain naturalisasi, ancaman bagi Jay Idzes cs
  • 7 cara agar tetap membumi di tengah-tengah dunia yang makin kacau menurut psikologi
  • Kronologi KM Virgo Transport 8 hilang kontak, posisi terakhir 80 mil laut dari Basirih
  • Cek jadwal bus AKAP dari Bali ke Pulau Jawa Kamis (10/9), sebegini
  • Prediksi skor Slavia Prague vs Lens: Statistik dan head-to-head di Liga Champions UEFA
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Harga Minyak Dunia Anjlok Akibat Sanksi AS ke Iran
Ekonomi

Harga Minyak Dunia Anjlok Akibat Sanksi AS ke Iran

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 Agustus 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Jakarta, IDN Times– Harga minyak global mengalami penurunan yang cukup besar setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengumumkan tindakan keras baru terhadap Iran pada Senin (24/8/2026). Tindakan pembatasan yang diberi namaOperation Economic Outcastyang bertujuan mengenai puluhan entitas serta lima sektor penting untuk membatasi aliran dana Teheran. Penurunan harga ini mengakhiri tren kenaikan minyak mentah global yang berlangsung selama enam hari berurutan.

Para pelaku pasar menyambut kebijakan tersebut dengan harapan mampu mendorong penurunan ketegangan militer antara dua negara di kawasan Teluk Persia. Penurunan ini mencatatkan rekor penurunan terbesar dalam sehari selama tiga minggu terakhir di pasar komoditas global. Sejumlah investor berpendapat bahwa sanksi keuangan yang lebih ketat berpotensi memaksa Teheran mengurangi ketegangan regional.

1. Sanksi terbaru Amerika Serikat mengarah pada lima sektor penting Iran

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan paket sanksi terbaru yang bertujuan untuk melemahkan stabilitas ekonomi Teheran. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa tindakan ini fokus pada lima bidang utama, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, serta maritim. Selain menargetkan sektor-sektor penting tersebut, otoritas juga memasukkan sekitar 60 entitas yang terkait dengan jaringan perdagangan Iran ke dalam daftar hitam.

Dilansir Al-Monitor dan MarketWatchkebijakan terbaru ini juga memperluas ancaman sanksi tambahan terhadap pihak asing yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Teheran. Namun, Washington memutuskan untuk tidak menerapkannya secara langsung pada hari Senin. Amerika Serikat memberikan tenggat waktu kepada negara-negara mitra untuk menghentikan transaksi dan lebih menekankan jalur diplomasi sebelum menerapkan sanksi tambahan.

Pengumuman sanksi tersebut langsung memengaruhi pergerakan harga minyak mentah di pasar global. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun sebesar 2,4 persen menjadi 85,01 dolar AS atau setara Rp1,50 juta per barel. Di sisi lain, minyak mentah jenis Brent juga mengalami penurunan sebesar 2,4 persen hingga mencapai 92,17 dolar AS atau setara Rp1,63 juta per barel.

2. Para pelaku pasar menduga penurunan ketegangan di kawasan tersebut

Respons pasar terhadap sanksi terbaru ini menunjukkan harapan akan penurunan ketegangan geopolitik. Banyak investor melihat pengerasan sanksi ekonomi sebagai langkah yang dapat mengurangi risiko konflik militer yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. KepadaMarketWatch, Phil Flynn, Analis Pasar Senior dari Price Futures Group, menganggap tekanan ekonomi terhadap Teheran akan semakin sulit untuk diatasi.

“Tekanan terhadap Iran akan sangat berat, sehingga kemungkinan besar mereka sulit bertahan dalam jangka panjang,” kata Phil Flynn. Ia menambahkan bahwa penurunan harga minyak terjadi karena para pelaku pasar menganggap sanksi ini sebagai tanda awal bahwa konflik bisa segera berakhir. Dampak ekonomi yang merugikan dianggap akan mendorong pelaku bisnis untuk lebih waspada dalam melakukan transaksi dengan Teheran.

Perhatian pasar saat ini juga berfokus pada posisi Tiongkok sebagai pembeli minyak terbesar dari Iran dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan minyak ke negara Asia ini hingga kini menjadi penopang utama perekonomian Teheran di tengah isolasi internasional. Langkah diplomatik pemerintah Amerika Serikat terhadap Beijing diperkirakan akan menjadi faktor penentu sejauh efektivitas sanksi tersebut di masa depan.

3. Peringatan tajam Iran dan kemungkinan gangguan di Selat Hormuz

Saat akan diumumkannya sanksi resmi dari Amerika Serikat, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, terlebih dahulu memberikan ancaman balasan pada hari Minggu (23/8/2026). Melalui platform media sosial X, Rezaei menyatakan bahwa pasokan minyak wilayah berada dalam risiko jika tekanan ekonomi terhadap Teheran tetap berlanjut, sekaligus mengingatkan negara-negara lain agar tidak mengikuti sanksi yang diberlakukan Washington.

“Jika konflik ekonomi terus berlangsung, tidak ada sedikit pun minyak yang akan diekspor, baik melalui Selat Hormuz maupun dari mana pun di Teluk Persia,” ujar Mohsen Rezaei. Ia juga menyatakan bahwa partisipasi negara mana pun dalam sanksi Amerika Serikat akan dianggap sebagai tindakan perang terhadap rakyat Iran. Penutupan jalur maritim penting ini berpotensi mengganggu pasokan energi global secara besar-besaran.

Dilansir MarketWatch, meski ancaman penutupan jalur maritim diungkapkan Teheran, para analis menganggap kemampuan militer Iran untuk menutup jalur pelayaran telah mengalami penurunan yang signifikan. Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian bagi pelaku bisnis dan manajer investasi global. Ketidakpastian pasokan diperkirakan akan terus memengaruhi dinamika harga minyak mentah internasional dalam beberapa pekan ke depan.

Harga Minyak Global Mengalami Penurunan, Rupiah Berhasil Bangkit Menghadapi Dolar Pagi Ini Harga Minyak Global Mencapai 93 Dolar AS per Barel Mengapa Perangkap Amerika Serikat-Iran Dapat Mempengaruhi Harga Minyak dan Pasar Saham?

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

31 Agustus 2026

Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

31 Agustus 2026

Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

30 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Peluang Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia jadi ancaman utama

15 September 2026

Ramalan zodiak Cancer besok Senin, 14 September 2026: Jaga pikiran positif dan berani berbicara

15 September 2026

5 populer internasional: Iran serang pangkalan AS di Yordania – Inggris larang impor produk Israel

15 September 2026

Timnas Indonesia vs Malaysia, lawan siapkan 4 pemain naturalisasi, ancaman bagi Jay Idzes cs

15 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?