Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 28 Agustus 2026
Trending
  • Rombongan Alphard dan Fortuner Viral Tolak CFD Sudirman, Dishub Pastikan Penertiban
  • Arti Kata Intel dan Fungsi Intelejen
  • Sukses di Tempat Kerja Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental? Ini 6 Kuncinya
  • 8 Olahraga yang Perpanjang Umur, Mulai Jogging hingga Badminton
  • Pandangan: Flores Menuju Kota Gempa
  • Terjemahan lirik MoneyMoneyMoney – Cortis: Uang di Saku Saya
  • Demo 27 Agustus 2026: Jalan yang Harus Dihindari
  • 15 Contoh Laporan Wisata Sulawesi Tengah, Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 SD
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Sukses di Tempat Kerja Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental? Ini 6 Kuncinya
Ragam

Sukses di Tempat Kerja Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental? Ini 6 Kuncinya

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 Agustus 2026Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Indonesiadiscover.comBanyak orang berusaha meraih kesuksesan di bidang pekerjaan dengan keyakinan bahwa semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh.

Tidur berkurang. Waktu bersama keluarga diabaikan. Akhir pekan dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas kerja. Pikiran tetap terfokus pada kantor meskipun tubuh sudah pulang ke rumah. Bahkan saat sedang liburan, beberapa orang masih merasa bersalah karena tidak bekerja.

Pada awalnya, pendekatan semacam ini mungkin terlihat sebagai komitmen.

Namun, terdapat satu pertanyaan penting yang sering kali diabaikan:

Apakah keberhasilan masih pantas dituju jika untuk mencapainya kita harus kehilangan identitas diri sendiri?

Dalam bidang psikologi, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras seseorang bekerja. Terdapat beberapa faktor lain yang sangat berpengaruh, seperti kemampuan mengelola stres, menetapkan batasan, menjaga kondisi energi, membangun hubungan yang baik, serta memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya tergantung pada pekerjaan.

Maknanya, kerja keras bukanlah masalahnya.

Isu timbul ketika pekerjaan menjadi pusat utama dari kehidupan seseorang.

Seseorang mungkin meraih promosi, penghasilan yang lebih besar, posisi yang lebih tinggi, atau apresiasi dari orang lain. Namun, jika di balik semua itu ia mengalami kelelahan terus-menerus, kehilangan minat pada kehidupan, mudah tersinggung, kesulitan tidur, dan tidak lagi menyukai hal-hal yang dulu disenanginya, maka ada sesuatu yang perlu ditinjau kembali.

Dikutip dari Psychology Today pada hari Minggu (23/8), jika Anda ingin mencapai kesuksesan tanpa terus-menerus mengorbankan kesehatan mental, terdapat enam prinsip psikologis yang patut diperhatikan.

1. Jangan Menganggap Produktivitas sebagai Ukuran Nilai Seseorang

Salah satu rintangan terbesar di dunia kerja adalah mulai meyakini bahwa harga diri kita sama dengan hasil yang kita capai.

Saat pekerjaan berjalan dengan baik, kita merasa memiliki nilai.

Saat menerima pujian, kita merasa cukup.

Saat tujuan tercapai, kita merasa pantas.

Namun, ketika melakukan kesalahan, menerima kritik, kehilangan peluang promosi, atau menunjukkan penurunan kinerja, harga diri juga turun.

Pola ini berisiko karena menyebabkan seseorang terus-menerus merasa perlu membuktikan dirinya sendiri.

Hari ini berhasil, namun esok harus lebih sukses.

Hari ini menerima pujian, namun besok memerlukan pujian berikutnya.

Tujuan telah tercapai, namun tujuan baru segera muncul.

Akibatnya, tidak pernah ada saat di mana seseorang merasa benar-benar puas.

Dalam bidang psikologi, penting untuk membedakan antara “saya melakukan tindakan yang tidak benar” dan “saya merupakan seseorang yang tidak baik.”

Begitu pula dalam pekerjaan.

Kegagalan dalam sebuah proyek bukan berarti Anda adalah orang yang gagal.

Menerima kritik tidak berarti Anda tidak mampu.

Tidak mendapatkan promosi tidak berarti Anda tidak bernilai.

Membuat kesalahan berarti ada hal yang harus diperbaiki. Hanya itu.

Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik mampu menilai kemampuan kerjanya tanpa menganggap hasil pekerjaan sebagai satu-satunya penentu harga dirinya.

Maka, coba kembangkan identitas yang lebih luas.

Anda bukan hanya seorang pegawai.

Anda mungkin juga seorang teman, pasangan, orang tua, saudara, pelajar, anggota masyarakat, atau seseorang yang memiliki minat dan prinsip hidup tersendiri.

Pekerjaan merupakan bagian dari diri Anda, tetapi jangan biarkan pekerjaan menjadi seluruh kepribadian Anda.

Semakin luas pengalaman seseorang dalam kehidupan, semakin rendah kemungkinan satu kegagalan di tempat kerja menghancurkan seluruh rasa percaya dirinya.

2. Mempelajari Cara Menetapkan Batasan yang Wajar

Banyak orang sebenarnya tidak merasa lelah hanya karena tugas atau pekerjaan.

Mereka merasa lelah karena tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Jam kerja mungkin berakhir pukul lima sore, namun laptop masih dalam keadaan terbuka hingga malam hari.

Ponsel terus diperiksa.

Pesan pekerjaan dijawab saat sedang makan.

Email dibaca sebelum tidur.

Bahkan ketika tidak ada pekerjaan mendesak, pikiran tetap bertanya:

Bagaimana jika ada sesuatu yang harus saya lakukan?

Inilah pentingnya batasan.

Batasan tidak berarti Anda tidak rajin.

Batasan tidak berarti Anda tidak kompeten.

Justru batasan memungkinkan seseorang menjaga kemampuan psikologisnya sehingga dapat bekerja secara efektif dalam jangka panjang.

Bayangkan kekuatan pikiran seperti baterai.

Jika digunakan setiap hari tanpa pernah diisi ulang, pada akhirnya kinerja akan menurun. Anda mungkin masih hadir secara fisik, tetapi fokus, kreativitas, ketenangan, dan kemampuan dalam mengambil keputusan mulai berkurang.

Oleh karena itu, buatlah batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat.

Misalnya:

Tentukan kapan tugas benar-benar selesai.

Hindari mengecek email kerja sebelum tidur kecuali diperlukan.

Hentikan pemberitahuan pekerjaan di luar jam kerja jika kondisi memungkinkan.

Jangan menganggap semua permohonan sebagai situasi kritis.

Berani mengatakan, “Saya mampu menyelesaikannya, tetapi saya memerlukan waktu hingga besok.”

Sisihkan waktu tanpa tekanan untuk menjadi produktif.

Yang paling utama, sadarilah bahwa tidak semua hal perlu diselesaikan pada saat ini.

Terdapat pekerjaan yang memang mendesak.

Namun, ada pekerjaan yang terasa mendesak hanya karena kita terbiasa selalu siap sedia.

Kemampuan untuk mengucapkan “tidak sekarang” sering kali memiliki arti yang sama pentingnya dengan kemampuan untuk mengatakan “ya.”

3. Mengejar Perkembangan, Bukan Kecemerlangan

Kebiasaan perfeksionis sering kali tampak sebagai sifat yang baik.

Para penganut kesempurnaan umumnya cermat, memiliki standar yang tinggi, dan berusaha memberikan kinerja terbaik.

Kendala muncul ketika standar tersebut berubah menjadi harapan bahwa segala sesuatu harus sempurna agar diri sendiri merasa cukup.

Akibatnya, pekerjaan yang sederhana saja dapat menguras energi yang sangat besar.

Sebuah presentasi yang sebenarnya sudah baik terus ditingkatkan.

Laporan yang telah memenuhi persyaratan tetap diperiksa berulang kali.

Satu kesalahan kecil bisa dianggap selama berjam-jam.

Bahkan setelah pekerjaan selesai, pikiran masih terus mencari kelemahan.

Sebenarnya, dalam berbagai situasi, tujuan profesional tidak selalu bertujuan untuk menciptakan sesuatu yang sempurna.

Tujuan dari hal tersebut adalah menciptakan sesuatu yang cukup bagus, efisien, tepat pada waktunya, serta menghasilkan hasil yang memuaskan.

Ada perbedaan besar antara:

Saya berharap dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.

dan

Saya tidak diperbolehkan melakukan kesalahan sedikit pun.

Kalimat pertama mendorong pertumbuhan.

Kalimat kedua menciptakan tekanan.

Karena itu, biasakan bertanya:

Apakah ini sudah memadai untuk mencapai tujuan yang diinginkan?

Bukan:

“Apakah ini sudah sempurna?”

Perubahan kecil dalam pola pikir ini mampu menghemat banyak energi mental.

Orang yang bisa menerima bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses biasanya lebih mudah belajar, beradaptasi, dan mencoba hal-hal baru.

Dan justru kemampuan untuk terus belajar merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan jangka panjang.

4. Jangan Menyegerakan Istirahat Setelah Hancur

Terjadi sebuah pola yang cukup umum:

Bekerja dengan tekun → merasa lelah → memaksa diri untuk terus bekerja → semakin merasa lelah → akhirnya tidak mampu lagi → baru mengambil istirahat.

Sebenarnya, istirahat seharusnya bukanlah hadiah yang diberikan setelah seseorang mengalami kehancuran.

Istirahat merupakan bagian dari proses kerja.

Jasad dan pikiran memerlukan masa pemulihan agar dapat kembali beroperasi dengan maksimal.

Sayangnya, banyak orang hanya memandang istirahat sebagai sesuatu yang layak dilakukan setelah semua tugas selesai.

Kendala yang muncul adalah pekerjaan hampir selalu tidak pernah benar-benar selesai.

Selalu ada email berikutnya.

Ada proyek berikutnya.

Ada target berikutnya.

Ada masalah berikutnya.

Jika Anda menunggu hingga semua tugas selesai sebelum beristirahat, kemungkinan besar Anda akan menunggu dalam waktu yang sangat lama.

Oleh karena itu, masukkan proses pemulihan ke dalam kebiasaan sehari-hari, bukan hanya saat terjadi krisis.

Tidur yang cukup.

Bergerak atau berolahraga.

Menghabiskan waktu bersama orang yang menjadi prioritas dalam hidup Anda.

Melakukan hobi.

Berada di luar lingkungan kerja tanpa merasa perlu untuk menghasilkan sesuatu.

Meskipun melakukan hal-hal sederhana seperti berjalan kaki, membaca, mendengarkan musik, atau sekadar duduk tanpa aktivitas apapun dapat menjadi cara untuk pemulihan mental.

Dan jangan merasa bersalah saat melakukannya.

Anda tidak sedang menyia-nyiakan waktu. Anda sedang merawat sumber daya yang memungkinkan Anda tetap bekerja.

5. Kembangkan Kehidupan yang Tetap Berarti di Luar Lingkungan Kerja

Salah satu bentuk perlindungan yang penting terhadap tekanan kerja adalah memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pekerjaan.

Bayangkan jika seluruh kebahagiaan Anda hanya datang dari pekerjaan.

Jika pekerjaan sedang lancar, kehidupan terasa menyenangkan.

Namun, jika pekerjaan mengalami kendala, seluruh kehidupan terasa hancur.

Oleh karena itu, seseorang memerlukan sumber makna yang beragam.

Hubungan sosial.

Keluarga.

Persahabatan.

Kegiatan kreatif.

Olahraga.

Belajar sesuatu yang baru.

Komunitas.

Kemampuan spiritual bagi mereka yang menganggapnya penting.

Atau hanya sekadar memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan sehari-hari.

Hal-hal tersebut bukan hambatan terhadap keberhasilan.

Justru seluruhnya bisa menjadi pendukung psikologis ketika tugas sedang melelahkan.

Bila seseorang menjalani kehidupan yang seimbang, kegagalan di tempat kerja tidak terasa seperti akhir dari segalanya.

Ia masih memiliki pihak-pihak yang mendukungnya.

Masih memiliki kegiatan yang disenangi.

Masih memiliki tujuan lain.

Masih ada alasan untuk bangun di pagi hari selain mengejar tujuan perusahaan.

Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Inilah alasan mengapa penting untuk bertanya pada diri sendiri: 2. Ini adalah sebabnya mengapa penting untuk merenungkan diri sendiri: 3. Oleh karena itu, penting untuk menanyakan pada diri sendiri: 4. Berikut ini merupakan alasan mengapa penting untuk mempertanyakan diri sendiri: 5. Inilah mengapa kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Jika pekerjaanku tiba-tiba berakhir besok, apa yang masih tersisa di dalam hidupku?

Pertanyaan ini mungkin terasa menakutkan.

Namun, jawabannya dapat menggambarkan apakah kehidupan Anda saat ini terlalu bergantung pada satu hal.

6. Ukur Kebahagiaan Berdasarkan Standar Anda Sendiri

Kunci terakhir mungkin yang paling krusial.

Jangan izinkan orang lain menentukan bagaimana kehidupan sukses yang seharusnya Anda jalani.

Masyarakat sering menyajikan gambaran keberhasilan yang sangat sederhana:

Jabatan semakin tinggi.

Penghasilan semakin besar.

Rumah semakin bagus.

Mobil semakin mahal.

Pengikut semakin banyak.

Prestasi semakin panjang.

Namun, hal tersebut belum tentu mengarah pada kehidupan yang lebih bahagia.

Seseorang mungkin memiliki karier yang luar biasa, tetapi tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Seseorang mungkin memiliki penghasilan yang besar namun mengalami rasa cemas setiap hari.

Seseorang mungkin meraih posisi yang diinginkan, namun ternyata tidak menyenangi kondisi yang menyertainya.

Oleh karena itu, keberhasilan harus ditentukan secara pribadi.

Mungkin bagi Anda, keberhasilan berarti memiliki pekerjaan yang berkembang namun masih sempat menghabiskan malam bersama keluarga.

Mungkin keberhasilan diartikan sebagai memiliki penghasilan yang memadai tanpa perlu bekerja hingga larut malam.

Mungkin keberhasilan berarti memiliki pekerjaan yang bermakna sambil tetap menyisihkan waktu untuk kesehatan, interaksi sosial, dan minat pribadi.

Tidak ada satu pengertian keberhasilan yang cocok untuk seluruh manusia.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa tujuan yang Anda kejar benar-benar selaras dengan prinsip hidup Anda.

Jika tidak, mungkin Anda menghabiskan bertahun-tahun berjalan naik tangga yang ternyata menempel pada dinding yang salah.

Keberhasilan Tidak Selalu Memerlukan Pengorbanan Jiwa Sendiri

Keinginan bukanlah hal yang perlu dimatikan.

Keinginan untuk berkembang bukanlah hal yang salah.

Bekerja keras bukanlah hal yang perlu dihindari.

Yang perlu diubah adalah keyakinan bahwa satu-satunya cara untuk sukses adalah dengan mempersembahkan diri tanpa batas.

Anda diperbolehkan memiliki ambisi sambil tetap mematuhi batasan.

Anda mungkin menginginkan kesuksesan sambil memerlukan waktu istirahat.

Anda bisa mengembangkan karier sambil tetap menikmati kehidupan di luar pekerjaan.

Anda diperbolehkan memiliki ambisi yang tinggi sambil menyadari bahwa Anda adalah seorang manusia dengan batasan-batasan tertentu.

Pada akhirnya, keberhasilan yang sebenarnya tidak hanya diukur dari sejauh mana Anda mampu melangkah, tetapi juga apakah Anda masih bisa menikmati hidup setelah sampai di tujuan.

Maka, jika Anda ingin meraih kesuksesan dalam pekerjaan tanpa mengorbankan kesehatan jiwa, ingatlah enam prinsip ini:

Jangan menghubungkan produktivitas dengan harga diri.

Tetapkan batasan yang sehat.

Kejar kemajuan, bukan kesempurnaan.

Beristirahat sebelum benar-benar kelelahan.

Bangun sebuah kehidupan yang berarti di luar dari pekerjaan.

Dan yang terakhir, tentukan sendiri bagaimana makna keberhasilan bagi Anda.

Karena kesuksesan karier akan terasa jauh lebih bermakna jika seseorang yang mengalaminya masih memiliki energi, hubungan, ketenangan, dan kehidupan yang ingin ia nikmati.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Terjemahan lirik MoneyMoneyMoney – Cortis: Uang di Saku Saya

28 Agustus 2026

Celana Navy Cocok Dengan Baju Warna Apa? 15 Pilihan Terbaik

28 Agustus 2026

Rio Ferdinand Minta Man United Rekrut Striker 50 Juta Pound

28 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Rombongan Alphard dan Fortuner Viral Tolak CFD Sudirman, Dishub Pastikan Penertiban

28 Agustus 2026

Arti Kata Intel dan Fungsi Intelejen

28 Agustus 2026

Sukses di Tempat Kerja Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental? Ini 6 Kuncinya

28 Agustus 2026

8 Olahraga yang Perpanjang Umur, Mulai Jogging hingga Badminton

28 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?