Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 29 Januari 2026
Trending
  • Reaksi Media Prancis Usai Kurzawa Bergabung dengan Persib
  • Endrick Bercahaya di Lyon, Real Madrid Menyesal?
  • Masa sulit mulai berlalu! 3 zodiak ini alami perubahan baik sejak 26 Januari 2026
  • 915 Kontainer Limbah B3 Tertahan di Batu Ampar, BP Batam Minta Kejelasan Pusat
  • WNI Tertipu Scam di Kamboja
  • Skor Kacamata di Tegal, Persiraja Banda Aceh Gagal Menang Usai Gol Dianulir
  • Pria Bekasi Dianiaya Saat Warung Dirampok
  • Ketika Banjir Sumatera Bawa Cuan Investor UNTR
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Beranda » Harga ekspor tembaga dan emas melonjak, ini penyebabnya
Ekonomi

Harga ekspor tembaga dan emas melonjak, ini penyebabnya

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Januari 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Jakarta — Menteri Perdagangan Budi Santoso telah menetapkan harga patokan ekspor (HPE) untuk komoditas konsentrat tembaga (Cu ≥ 15%) sebesar US$6.133,11 per wet metric ton (wmt) untuk periode 15—31 Januari 2026. HPE ini mengalami kenaikan sebesar 4,51% dibandingkan periode pertama Januari 2026 yang sebelumnya sebesar US$5.868,51 per wmt. Selain itu, HPE emas juga meningkat menjadi US$141.972,92 per kilogram dari sebelumnya US$138.324,41, sedangkan harga referensi (HR) emas naik menjadi US$4.415,85 per troy ounce dari US$4.302,37.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menjelaskan bahwa peningkatan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh kenaikan harga seluruh mineral penyusunnya, yaitu tembaga, emas, dan perak. Menurutnya, hal ini mencerminkan permintaan global yang tetap kuat, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri energi listrik, kendaraan listrik, serta pembangunan infrastruktur strategis di berbagai negara.

“Permintaan tersebut terutama berasal dari sektor pengembangan industri energi listrik dan kendaraan listrik,” ujar Tommy melalui keterangan resmi, Sabtu (17/1/2026).

Selain faktor permintaan sektor riil, Tommy menyebut bahwa penguatan HPE juga dipengaruhi oleh dinamika keuangan global. Sepanjang periode pengumpulan data, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) mendorong peningkatan alokasi investasi ke aset komoditas, khususnya emas dan perak. Hal ini turut memperkuat harga mineral penyusun konsentrat tembaga.

“Selama periode pengumpulan data, tercatat harga tembaga naik 6,5%, emas naik 2,64%, dan perak naik 15,95%,” tambahnya.

Tommy menjelaskan bahwa HPE dan HR ditetapkan berdasarkan masukan teknis dari Kementerian ESDM yang merujuk pada data London Metal Exchange (LME) untuk tembaga serta London Bullion Market Association (LBMA) untuk emas dan perak. Tujuannya adalah agar ketetapan ini sesuai dengan dinamika pasar.

Sebelumnya, S&P Global memproyeksikan permintaan tembaga global akan melonjak 50% dari level saat ini menjadi sekitar 42 juta metrik ton pada 2040. Meskipun sektor tradisional seperti konstruksi, peralatan rumah tangga, transportasi, dan pembangkit listrik masih mendominasi konsumsi, porsi pertumbuhan terbesar justru berasal dari kebutuhan transisi energi.

Permintaan tersebut mencakup kendaraan listrik, energi terbarukan, baterai, serta perluasan jaringan listrik. Selain itu, sumber permintaan baru juga mulai signifikan, terutama dari pusat data dan infrastruktur AI, seiring kapasitas pusat data global diperkirakan meningkat hampir empat kali lipat hingga 2040.

“AI dan pusat data bahkan belum masuk radar tiga tahun lalu. Studi ini menunjukkan dunia sudah menuju defisit pasokan bahkan sebelum mempertimbangkan sumber pertumbuhan baru tersebut,” kata Aurian De La Noue, Kepala Konsultasi Transisi Energi dan Logam Kritis S&P Global.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Meikarta jadi rusun subsidi, dekatkan hunian ke pusat ekonomi

27 Januari 2026

Risiko fiskal mengancam pasar SBN, yield melonjak

27 Januari 2026

Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 25 Januari 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

27 Januari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Reaksi Media Prancis Usai Kurzawa Bergabung dengan Persib

29 Januari 2026

Endrick Bercahaya di Lyon, Real Madrid Menyesal?

28 Januari 2026

Masa sulit mulai berlalu! 3 zodiak ini alami perubahan baik sejak 26 Januari 2026

28 Januari 2026

915 Kontainer Limbah B3 Tertahan di Batu Ampar, BP Batam Minta Kejelasan Pusat

28 Januari 2026
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?