Penyakit Nipah: Apa Itu dan Bagaimana Cara Menyebar?
Virus Nipah kembali menjadi perhatian masyarakat setelah muncul di negara tetangga seperti Bangladesh. Meskipun hingga saat ini belum ada laporan kasus Nipah di Indonesia, penting bagi masyarakat untuk memahami penyakit ini agar bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Virus Nipah Berasal dari Hewan
Virus Nipah pertama kali dikenal pada tahun 1998 saat wabah terjadi di peternakan babi di Malaysia. Setahun kemudian, wabah serupa menyebar ke Singapura melalui impor babi dari Malaysia. Pada 2001, virus ini kembali muncul di India dan Bangladesh, serta di Filipina pada 2014. Awalnya, virus ini berasal dari kelelawar buah genus Pteropus yang banyak ditemukan di Asia Tenggara dan Selatan.
Kelelawar ini menjadi sumber utama virus Nipah. Dari kelelawar, virus menyebar ke berbagai hewan seperti anjing, kucing, babi, kambing, dan kuda. Akhirnya, virus ini dapat menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan hewan atau produk hewan yang terinfeksi.
Penularan Virus Nipah pada Manusia

Penularan virus Nipah pada manusia terjadi melalui dua cara utama. Pertama, melalui konsumsi makanan yang sudah terkontaminasi. Contohnya adalah buah-buahan yang memiliki bekas gigitan hewan. Kedua, melalui kontak langsung dengan kotoran atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
Selain itu, virus Nipah juga bisa menyebar dari satu manusia ke manusia lainnya. Namun, penyebarannya tidak secepat flu. Virus ini menyebar melalui cairan tubuh orang yang sakit atau melalui kontak dekat. Petugas kesehatan dan keluarga dekat yang merawat pasien memiliki risiko tertinggi terinfeksi.
Gejala Infeksi Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal infeksi virus Nipah mirip dengan gejala influenza, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan muntah. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan bernapas atau pneumonia.
Jika tidak segera ditangani, infeksi virus Nipah bisa berkembang menjadi pembengkakan otak. Gejala yang muncul antara lain kantuk, kebingungan, dan kejang. Koma bisa terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah gejala serius muncul.
Virus Nipah sangat berbahaya karena tingkat kematian mencapai 40-75 persen. Bahkan bagi yang sembuh, virus masih bisa aktif kembali setelah beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Pencegahan Penularan Virus Nipah
Meski belum ada kasus Nipah di Indonesia, mewaspadai penyakit ini tetap penting. Salah satu cara pencegahan adalah dengan mengenali gejala awal dan menghindari faktor risiko.
Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:
* Menghindari konsumsi buah yang memiliki bekas gigitan hewan.
* Mencegah konsumsi buah yang dipajang secara terbuka.
* Menghindari kontak dengan hewan maupun orang yang sedang sakit.
Dengan kesadaran akan risiko dan pencegahan yang tepat, masyarakat dapat melindungi diri dari ancaman virus Nipah.



