Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 16 September 2026
Trending
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
  • ShopeeVIP+ ‘Sekali langganan, dapat semua’, bisa dapat akses Netflix!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Dulu putus sekolah karena ekonomi, petani muda Belitung Timur raih paket C di usia 20 tahun
Ekonomi

Dulu putus sekolah karena ekonomi, petani muda Belitung Timur raih paket C di usia 20 tahun

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover10 Juli 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehidupan Devi Khusnul Khotimah: Dari Sawah ke Ijazah

Devi Khusnul Khotimah (20) adalah seorang perempuan asal Desa Aik Kelik, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur. Ia dikenal sebagai sosok yang gigih dan mandiri dalam mengelola lahan pertanian miliknya sendiri. Setiap hari, ia bekerja di sawah dengan memegang gagang cangkul, meneteskan keringat demi menanam padi. Teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan “CEO” karena kemandiriannya dalam menjalani kehidupan bertani sejak usia muda.

Namun, di balik kiprahnya di bidang pertanian, ada sebuah rahasia yang tersimpan selama bertahun-tahun. Devi adalah seorang anak putus sekolah yang pendidikannya terhenti di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Keadaan ekonomi keluarga memaksa dirinya untuk memilih ladang daripada tumpukan buku pelajaran. Meskipun begitu, ia tidak pernah berhenti berusaha untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Devi adalah warga pendatang asal Magelang, Jawa Tengah. Keluarganya memutuskan untuk merantau ke Pulau Belitung demi mencari penghidupan yang lebih baik. “Saya sempat masuk sekolah dasar, tapi tidak tamat. Cuma bisa sampai kelas 3 SD saja karena bapak ada kerjaan di luar,” ujar Devi dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).

Seluruh saudara laki-lakinya memiliki nasib yang hampir sama. Dari empat bersaudara, hanya kakak tertuanya yang berhasil menamatkan sekolah formal. “Abang-abangku ikut sekolah paket juga dua-duanya. Yang lulus dari sekolah formal itu cuma kakak ku yang paling tua,” ucapnya.

Sejak 2018, Devi sudah hidup di sawah untuk menanam padi. Aktivitas fisik seperti mencangkul dan membajak sawah sudah menjadi rutinitas harian yang ia pilih tanpa paksaan. “Mulai bersawah itu dari tahun 2018. Sebenarnya dari umur sembilan tahun saya sudah terbiasa ke sawah, tapi itu murni karena keinginan saya sendiri untuk bantu orang tua,” katanya.

Di tengah kesibukan bertani, keinginan untuk menjadi orang yang berpendidikan tak pernah padam. Titik itu muncul ketika dirinya mendapatkan informasi mengenai adanya program pendidikan kesetaraan nonformal. Devi mengaku awalnya hanya iseng-iseng mendaftarkan diri karena tertarik pada sistem belajar sekolah paket yang tidak seketat sekolah pada umumnya. “Saya dapat info kalau ada sekolah paket. Jadi saya iseng-iseng masuk, ternyata sistemnya lumayan membantu sekali,” ungkapnya.

Singkat cerita, Devi menempuh jalur Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), hingga Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Seroja, Desa Kelubi, Manggar. Orang tua Devi sebenarnya sempat ragu terhadap pembagian waktu jika Devi memaksakan diri masuk sekolah formal, mengingat dirinya masih sangat dibutuhkan di sawah setiap hari. “Sebenarnya orang tua bukan melarang, tapi kurang mendukung kalau di formal. Karena kalau sekolah formal kan waktunya kaku, kurang bisa untuk disambi kegiatan lain. Kalau sekolah paket kan gampang, waktunya lebih fleksibel jadi tetap bisa kerja ke kebun dan sawah,” jelasnya.

Pilihan ini tentunya tak mudah dan menuntut pengorbanan yang luar biasa untuk Devi. Setiap kali jadwal kelas tiba, ia harus menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer dari kediamannya di Damar menuju lokasi PKBM Seroja di Kecamatan Manggar. Rasa lelah saat bekerja di sawah harus ia tahan demi bisa mengenyam bangku pendidikan.

Pilihan tersebut akhirnya berbuah manis pada akhir bulan Juni kemarin. Tepat pada Senin, 29 Juni 2026, Devi pergi ke Ruang Pertemuan Ibu Muslimah, Dinas Pendidikan Belitung Timur, Desa Padang, Kecamatan Manggar. Hari itu ia hadir untuk menerima selembar kertas yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun, yaitu Ijazah Paket C. Momen haru pecah saat nama Devi menerima Ijazah kelulusan setingkat SMA tersebut. Bagi Devi, ijazah tersebut adalah kemenangan atas perjuangan panjangnya.

Kini, setelah bertahun-tahun, jerih payah Devi terbayar lunas disertai predikat lulusan sekolah menengah. Di sisi lain, ia juga sukses mengelola sepetak sawah pribadinya. Setelah mendapatkan ijazah Paket C, Devi mengaku masih ingin fokus pada sawah padinya untuk sementara waktu. “Mungkin nanti lah dipikir-pikir lagi, tapi untuk sekarang belum kepikiran sih mau langsung lanjut kuliah atau ambil Universitas Terbuka (UT), belum tahu. Nanti dilihat dulu kedepannya,” ucapnya.

Meski begitu, Devi berharap dirinya bisa mencicipi bangku perkuliahan suatu saat nanti, asalkan tekad dan kondisi ekonominya sudah benar-benar mapan. “Kalau ada keberanian dan jalannya, mau. Tapi yang paling penting itu rezeki dan niatnya dulu, kan? Intinya sekarang bersyukur dulu sudah bisa lulus,” tutupnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

31 Agustus 2026

Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

31 Agustus 2026

Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

30 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?