Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 26 Mei 2026
Trending
  • Flare dan Petasan Dilarang! Persebaya Minta Bonek-Joyo Jaga GBT Aman Saat Lawan Persik
  • Daftar Kereta Tarif Khusus Solo Mei 2026: Tiket Mulai Rp45 Ribu, Rute Gambringan
  • Ramalan Zodiak Sagitarius dan Capricorn 21 Mei 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
  • DPRD Kota Bandung Perkuat Pengawasan dan Etik Media Sosial Pegiat
  • 5 tanda bisnis terjebak FOMO dan kehilangan identitas merek
  • Laba Bersih 19 Triliun, Telkomsel Dongkrak Ekosistem Digital Indonesia
  • Indomobil eMotor Meluncurkan QT dan QT Pro di Surabaya, Harga Mulai Rp16 Juta
  • 60 Soal Seni Budaya Kelas 1 SD 2026 dengan Jawaban Lengkap
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Desakan keluar dari BoP, pakar: Pemerintah butuh rencana keberangkatan
Politik

Desakan keluar dari BoP, pakar: Pemerintah butuh rencana keberangkatan

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Indonesia dalam Dewan Perdamaian dan Tantangan yang Dihadapi

Sejumlah kalangan masyarakat sipil terus mengajak pemerintah Indonesia untuk tidak lagi menjadi anggota dari Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kekhawatiran ini semakin meningkat setelah serangan aliansi militer AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Broto Wardoyo, menilai bahwa tekanan dari AS akan sangat besar jika Indonesia memutuskan keluar dari BoP. Menurutnya, tekanan tersebut bisa berupa kebijakan tarif impor, tekanan diplomatik, atau bahkan ancaman keamanan. Ia menegaskan bahwa tekanan dari AS pasti akan ada, baik melalui mekanisme ekonomi maupun politik.

Namun, Broto menekankan bahwa hal terpenting bukan sekadar keputusan keluar atau tetap berada dalam BoP, melainkan bagaimana pemerintah merancang strategi keluar (exit plan) yang matang. Exit plan sebaiknya mencakup penetapan syarat-syarat keterlibatan Indonesia dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF). Hal ini berkaitan dengan rules of engagement (RoE) yang mengatur penggunaan kekuatan militer dalam konflik.

Broto menjelaskan bahwa aspek teknis operasional dalam RoE perlu dirumuskan secara detail agar dapat menjamin dua hal penting: perlindungan kepentingan Palestina dan keselamatan prajurit Indonesia yang terlibat.

Kontra-Proposal AS dan Alternatif Solusi

Selain itu, Indonesia juga disarankan untuk mengajukan kontra-proposal terhadap gagasan Jared Kushner. Dalam upacara penandatanganan Piagam BoP di Davos, Swiss, pada Januari lalu, menantu Trump itu menawarkan masterplan “New Gaza” pasca-perang. Dalam presentasinya, Kushner menunjukkan gambar barisan apartemen mewah dan gedung-gedung pencakar langit yang akan dibangun di Jalur Gaza, khususnya di kawasan pesisir Laut Mediterania. Investor properti percaya bahwa proposal ini akan menciptakan “kesuksesan besar” di sana.

Menurut Broto, Indonesia dapat menawarkan konsep pembangunan permukiman yang lebih manusiawi bagi warga Palestina di Jalur Gaza, lengkap dengan fasilitas kesehatan dan pendidikan umum. Langkah ini menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP bertujuan nyata, yaitu membantu rakyat Palestina.

“Yang harus diingat, kondisi warga Palestina di Gaza sudah sangat menderita akibat konflik berkepanjangan. Jadi, kita harus punya usulan kita untuk mereka. Jangan hanya keluar, tapi tidak memberikan solusi,” ujar Ketua Departemen Hubungan Internasional UI tersebut.

Momentum Refleksi untuk Ketahanan Energi Nasional

Di sisi lain, Broto menilai bahwa kekhawatiran bahwa Indonesia tetap berada dalam BoP demi menjaga pasokan energi dari AS perlu disikapi secara strategis. Menurut dia, perang AS-Israel versus Iran seharusnya menjadi momentum reflektif bagi seluruh elemen bangsa Indonesia untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Ia menyarankan, pemerintah perlu membangun mekanisme mitigasi yang lebih serius terhadap potensi gangguan rantai pasokan energi global. Dalam jangka pendek, RI dapat memperluas kerja sama dengan negara-negara produsen minyak, yakni alternatif di luar AS. Negara anggota OPEC di Afrika barat dapat dipertimbangkan sebagai mitra energi baru, terutama jika opsi dari kawasan lain dinilai terlalu jauh secara geografis.

“AS kan bukan satu-satunya pemasok alternatif. Jadi kita harus bangun kerja sama yang lebih erat dengan produsen alternatif,” ujar dia.

Dalam jangka panjang, Broto menilai, Indonesia harus semakin serius mendorong diversifikasi energi nasional. Selain energi terbarukan, opsi pengembangan energi nuklir juga perlu dipertimbangkan secara lebih terbuka. “Tentu harus ada kajian yang lebih serius. Kendala kita kan salah satunya ada pada teknologi,” tukas Broto.

Penangguhan Agenda dan Keputusan Pemerintah

Pemerintah Indonesia menunda semua pembicaraan terkait BoP menyusul perang antara aliansi AS-Israel dan Republik Islam Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Yvonne Mewengkang mengatakan, Presiden Prabowo Subianto belum menarik partisipasi Indonesia dari BoP bentukan Presiden AS Donald Trump tersebut.

Pemerintah, lanjutnya, masih terus melakukan penilaian ihwal baik-buruk kelanjutan keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian untuk Jalur Gaza, Palestina, itu. Hal ini juga berkaitan dengan melihat perspektif dampak meluas AS-Israel yang menyerang Iran belakangan ini.

“Kami sampaikan, kita terus melakukan penilaian menyeluruh terhadap berbagai perkembangan di kawasan, khususnya yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Yvonne di Kemenlu, Jakarta, Jumat (6/3/2026) lalu.

Atas situasi tersebut, sambung dia, Indonesia menangguhkan semua agenda apa pun yang terkait dengan BoP di luar negeri. “Bahwa segala pembahasan tentang Board of Peace ditangguhkan, atau istilahnya di-on hold,” ujar Yvonne.

“Tidak ada meeting atau pembahasan khusus terkait Board of Peace dalam sepekan terakhir ini. Dan sebagaimana kami sampaikan, semua pembahasan terkait BoP saat ini on hold,” sambung dia.

Meskipun begitu, kata Yvonne, Indonesia masih tetap berada dalam keanggotaan BoP. Belum ada keputusan final dari hasil evaluasi di lingkungan Presiden, untuk membawa Indonesia keluar dari partisipasi Dewan Perdamaian untuk Gaza, Palestina, itu.

“Partisipasi kita di Board of Peace, tetap konsisten untuk mendukung stabilitas dan rekonstruksi di Palestina,” ujar Yvonne.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Melihat perjuangan Prabowo lindungi aset negara melalui Satgas PKH

20 Mei 2026

Pemantauan Hilal di Medan Saat Sidang Isbat Idul Adha 17 Mei 2026

20 Mei 2026

Siswi SMAN 1 Pontianak Diancam, Tolak Tanding Ulang Cerdas Cermat MPR

20 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Flare dan Petasan Dilarang! Persebaya Minta Bonek-Joyo Jaga GBT Aman Saat Lawan Persik

25 Mei 2026

Daftar Kereta Tarif Khusus Solo Mei 2026: Tiket Mulai Rp45 Ribu, Rute Gambringan

25 Mei 2026

Ramalan Zodiak Sagitarius dan Capricorn 21 Mei 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

25 Mei 2026

DPRD Kota Bandung Perkuat Pengawasan dan Etik Media Sosial Pegiat

25 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?