
BAIC BJ40 mulai menunjukkan kemampuannya di luar penggunaan sehari-hari. SUV dengan konstruksi ladder frame dari merek Tiongkok ini turun langsung dalam ajang rally raid jarak jauh dan berhasil menyelesaikan kompetisi tanpa perubahan signifikan pada sektor mesin.
Dendi Adisuryo, seorang pengacara hukum bisnis sekaligus pebalap rally, menjadi sosok utama dalam pembuktian tersebut. Ia menggunakan BAIC BJ40 Plus untuk mengikuti Indonesia Rally Raid Adventure (IRRA) yang diselenggarakan di wilayah Majalengka, Indramayu, hingga Sumedang. Mobil ini mampu melewati medan ekstrem dengan total jarak tempuh sekitar 400 kilometer.
“Ini memang bukan mobil harian, tapi kami gunakan khusus untuk kompetisi rally raid, yang melibatkan kombinasi gravel dan offroad jarak jauh. Ini pertama kalinya saya mengikuti balapan dengan BJ40,” kata Dendi kepada Infomalangraya.com, Minggu (1/2/2026).

Meski turun di ajang kompetisi berat, spesifikasi BAIC BJ40 yang digunakan nyaris seluruhnya masih bawaan pabrik. Perubahan yang dilakukan hanya bersifat penunjang balap, tanpa menyentuh mesin, gardan, gearbox, maupun sistem kemudi.
“Engine full stock, gearbox stock, gardan, final gear, rem, steering semuanya standar pabrik. Yang kita ubah itu minor touch saja,” ujarnya.
Beberapa penyesuaian dilakukan demi ketahanan balap jarak jauh, mulai dari penggantian suspensi heavy duty dengan fine tuning, penambahan sistem pendinginan ekstra untuk gearbox, serta pemasangan perangkat keselamatan sesuai regulasi seperti roll bar, jok balap, dan safety belt kompetisi.
“Kita balapan sampai 400 km, full throttle terus. Gearbox dipaksa kerja 90 sampai 100 persen, jadi kita tambah cooling system. Tapi tidak pakai sistem yang rumit,” jelas Dendi.

Kekhawatiran terbesar Dendi sebelum balap justru ada pada sektor drivetrain dan sistem pengereman. Pengalamannya mengikuti rally di Thailand dengan merek lain membuat ia waswas soal potensi overheat pada gearbox dan rem.
“Pengalaman saya pakai brand lain di Thailand, gearbox-nya overheat dan masuk safety mode. Rem juga bisa hilang karena minyak rem mendidih,” katanya.
Namun hasil balapan justru di luar ekspektasi. Selama tiga hari dan tiga etape, BAIC BJ40 mampu menyelesaikan seluruh etape dengan total waktu tempuh sekitar 11 jam, tanpa mengalami overheat pada mesin maupun gearbox.
“Alhamdulillah gearbox dan engine aman, nggak overheat. Rem juga nggak ilang. Itu yang bikin kita cukup surprise,” ucapnya.
Dari sisi performa, BJ40 juga dinilai kompetitif meski bobotnya tergolong berat. Bahkan pada salah satu special stage, mobil ini mampu menembus posisi dua besar dari total 24 peserta.
“Di SS3 kita nomor dua dari 24 mobil. Kita cuma kalah sama KNM yang memang UTV kompetisi. Di bawah kita baru double cabin Toyota dan lain-lain,” ungkap Dendi.
Menurutnya, kunci kepercayaan diri saat balap justru datang dari sektor suspensi dan handling. Kombinasi suspensi aftermarket dengan konstruksi kaki-kaki standar pabrik dinilai bekerja efektif di medan berat.
“Suspensi itu nomor satu di rally. Dan kombinasi suspensi Atlas dengan bawaan BAIC itu surprisingly bagus. Handling enak, badan juga nggak capek meski lama,” jelasnya.

Dendi menilai hasil ini sekaligus mematahkan stigma soal durabilitas mobil China. Ia menyebut ajang rally raid merupakan tes ketahanan paling ekstrem bagi sebuah kendaraan.
“Kalau mobil nggak durable, pasti nggak finish. Dan BJ40 ini lolos tes durabilitas pertama. Kalau buat harian, menurut saya sudah lebih dari cukup,” tegasnya.
Ke depan, Dendi bersama BAIC berencana membawa BJ40 ke ajang rally jarak lebih ekstrem, termasuk rencana uji coba hingga 2.000 kilometer di Thailand. Meski begitu, ia mengakui masih diperlukan riset lanjutan, terutama untuk pengaturan sistem seperti ABS yang kurang ideal untuk kompetisi.
“ABS itu fitur harian yang bagus, tapi buat rally kita perlu bisa matiin. Ke depan itu yang mau kita develop tanpa ngerusak sistem ECU,” pungkasnya.



