Tas Selempang: Teman Setia dalam Kehidupuan Sehari-hari
Sering kali, saat kita sedang duduk santai atau hanya pergi sebentar keluar rumah, pikiran kita masih terganggu dengan satu pertanyaan: apakah kita sudah membawa tas atau belum? Bagi sebagian orang, tas kecil mungkin hanya sekadar aksesoris. Namun bagi sebagian lainnya, termasuk saya, tas selempang justru menjadi teman setia yang menemani perjalanan, menyimpan barang-barang kecil, dan bahkan diam-diam menjaga kenyamanan serta hati.
Saya termasuk tipe orang yang hampir selalu membawa tas saat nongkrong atau bepergian. Tidak perlu tas besar atau yang mahal. Cukup sederhana saja, yang penting aman, muat barang-barang kecil, dan yang paling utama: nyaman dipakai. Karena pada akhirnya, tas bukan soal pamer, tapi lebih tentang fungsi dan rasa tenang.
Pilihan saya jatuh pada tas selempang karena praktis. Tinggal diselempangkan ke pundak, tangan bebas, dan tubuh tidak ribet. Baik naik motor, kendaraan umum, atau jalan kaki agak jauh, tas selempang selalu terasa pas. Tidak perlu sering dibetulkan, tidak membuat capek, dan barang-barang pun lebih terjaga.
Isi Tas yang Sederhana tapi Penuh Makna
Jika dibuka satu per satu, isi tas saya sebenarnya sederhana. Tapi justru dari yang sederhana itu, ada cerita dan kebiasaan yang terbentuk. Barang pertama yang hampir selalu ada adalah parfum. Ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi saya sangat penting. Bukan soal ingin terlihat wah atau wangi berlebihan. Lebih ke soal rasa nyaman. Saya tidak enak kalau sampai bau dan mengganggu orang lain. Parfum di tas itu semacam “penjaga rasa percaya diri”. Dipakai secukupnya, sekadar memastikan diri ini hadir dengan sopan, bahkan dalam urusan aroma.
Lalu sisir. Ya, saya selalu membawa sisir di tas. Rambut rapi mungkin terlihat remeh, tapi sering kali berpengaruh pada perasaan. Ketika rambut rapi, rasanya pikiran juga ikut lebih tertata. Mungkin ini kebiasaan lama, atau mungkin sekadar cara kecil untuk menjaga diri.
Ada satu barang yang mungkin jarang ditemui di tas nongkrong kebanyakan orang: kitab maulid. Kitab kecil ini hampir tidak pernah lepas dari tas saku saya. Kadang dibuka, kadang hanya ikut terbawa. Tapi kehadirannya selalu mengingatkan bahwa di sela-sela kesibukan dunia, ada ruang untuk mengingat, membaca, dan menenangkan hati. Tas selempang saya jadi bukan cuma tempat barang, tapi juga ruang kecil untuk nilai-nilai spiritual.
Selain itu, ada buku kecil dan pena. Saya suka mencatat. Entah ide yang tiba-tiba muncul, kalimat yang terasa penting, atau sekadar pengingat sederhana. Menulis di buku kecil terasa lebih personal dibanding mencatat di ponsel. Seolah memberi jeda, memberi waktu pada pikiran untuk benar-benar hadir.
Tas sebagai Tempat Penyimpanan yang Aman
Kalau perjalanan agak jauh, isi tas biasanya bertambah. Power bank dan charger HP jadi barang wajib. Bukan cuma untuk jaga-jaga baterai, tapi juga antisipasi keadaan darurat. Kadang ada fresh care, tisu, atau barang kecil lain yang sering kali baru terasa penting saat dibutuhkan.
Kalau bepergianannya lebih lama lagi – misalnya nginep – isi tas makin “lengkap”. Pemotong kuku, obat-obatan ringan, masker, permen. Semua itu mungkin terlihat remeh, tapi justru sering jadi penyelamat di situasi tak terduga. Tas kecil ini akhirnya seperti “rumah mini” yang menemani ke mana pun pergi.
Tas juga berfungsi sebagai tempat paling aman untuk ponsel. Saya lebih nyaman menyimpan HP di tas, terutama saat di atas kendaraan. Selain lebih aman dari jatuh atau copet, ada satu alasan lain yang lebih dalam. Di titik ini, saya mulai menyadari bahwa tas selempang yang saya bawa ternyata bukan sekadar soal kepraktisan. Ia bukan hanya tempat menyimpan barang, tapi juga ikut membentuk kebiasaan.
Cara menyimpan, cara membawa, bahkan cara memperlakukan barang-barang kecil itu perlahan memengaruhi cara saya menjaga diri. Termasuk satu benda yang hampir tak pernah lepas dari genggaman kita hari ini: ponsel.
Nasihat dari Guru yang Mengubah Pandangan
Saya teringat nasihat yang pernah disampaikan oleh guru saya, Abah Ustadz Mahfudin bin H. Alif Yunus, pada 2023 silam. Beliau mengutip pesan dari Habib Umar bin Salim bin Hafidz: agar sebisa mungkin tidak menyimpan HP di saku baju, terutama saku atas dekat dada. Dada itu dekat dengan hati. Sementara HP – jujur saja – kadang kita gunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Melihat yang dilarang, membuka yang seharusnya ditutup.
Kekhawatirannya sederhana tapi dalam: jangan sampai apa yang buruk itu “terserap” ke hati. Hati yang kotor, keras, dan mati akan sulit menerima rahmat dan taufik dari Allah. Buat saya, nasihat ini masuk akal. Dan selama itu baik, kenapa tidak diikuti? Sami’na wa atha’na. Mendengar dan taat pada guru, meski lewat hal kecil seperti posisi menyimpan ponsel.
Dompet dan Kebiasaan yang Menjaga Ketenangan
Terakhir, dompet. Saya tipe yang lebih nyaman menyimpan dompet di tas daripada di saku celana. Rasanya lebih aman, lebih rapi, dan tidak membuat khawatir saat duduk atau bergerak. Sekali lagi, ini soal kenyamanan dan ketenangan.
Dari tas selempang sederhana itu, saya belajar bahwa hidup sering kali ditentukan oleh hal-hal kecil yang kita rawat dengan sadar. Bukan tentang tas yang mahal atau isi yang banyak, melainkan tentang kecukupan, ketertiban, dan niat menjaga diri – lahir maupun batin.
Perintilan yang kita bawa, cara kita menyimpannya, bahkan di mana kita meletakkan ponsel, semuanya bisa menjadi ikhtiar kecil untuk menjaga hati tetap hidup. Dan mungkin, dari tas kecil itulah, kita sedang belajar berjalan lebih rapi, lebih tenang, dan lebih bertanggung jawab atas diri kita sendiri.



