Perubahan Paradigma dalam Hubungan Teknologi dan Kekuasaan Global
Perubahan signifikan terjadi dalam hubungan antara teknologi dan kekuasaan global, khususnya dalam konteks perusahaan kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS). Dari sikap anti-militer yang sebelumnya dominan, industri AI kini bergerak menuju posisi sebagai mitra strategis Pentagon. Perubahan ini tidak hanya mencerminkan dinamika bisnis, tetapi juga menggambarkan reposisi geopolitik yang lebih luas.
Pada awal 2024, empat laboratorium AI terkemuka—OpenAI, Meta, Google, dan Anthropic—masih memegang prinsip serupa dengan menolak penggunaan teknologi mereka untuk tujuan militer. Saat itu, Silicon Valley masih berpegang pada idealisme bahwa AI adalah infrastruktur sipil global, bukan alat perang. Namun, tekanan biaya komputasi, kebutuhan pendanaan, serta persaingan geopolitik membuat konsensus tersebut mulai retak.
Titik balik terjadi pada Januari 2024 ketika OpenAI diam-diam mencabut larangan penggunaan AI untuk “tujuan militer dan peperangan.” Langkah ini diikuti oleh kerja sama antara perusahaan tersebut dengan Pentagon, yang secara bertahap mengikis batas antara riset sipil dan kepentingan militer dalam ekosistem AI Amerika.
Perubahan ini semakin cepat sepanjang tahun. Pada November 2024, Meta mengizinkan model Llama digunakan untuk kebutuhan pertahanan AS dan sekutunya. Beberapa hari kemudian, Anthropic bekerja sama dengan Palantir, sementara OpenAI menutup tahun dengan kemitraan bersama startup pertahanan Anduril. Di Februari 2025, Google merevisi prinsip AI-nya agar memungkinkan pengembangan teknologi yang berpotensi membahayakan manusia.
Faktor Ekonomi dan Geopolitik
Di balik dinamika ini, faktor ekonomi menjadi salah satu pendorong utama. Membangun model AI mutakhir memerlukan modal besar dan pasar yang stabil. Menurut ekonom David J. Teece, “GPT berkembang lebih cepat ketika ada sektor aplikasi yang besar, menuntut, dan menghasilkan pendapatan, seperti pembelian transistor dan mikroprosesor awal oleh Departemen Pertahanan AS.”
Dengan kontrak jangka panjang dan toleransi risiko tinggi, militer menjadi mitra tak terelakkan bagi perusahaan AI. Selain itu, kapitalisme global kini bergeser dari era neoliberalisme pasar bebas menuju logika persaingan geopolitik. Konsensus Silicon Valley yang mengutamakan globalisasi data, deregulasi, dan perdagangan terbuka tergerus oleh rivalitas AS–Tiongkok, di mana keamanan nasional kini mengalahkan idealisme digital.
Peran Militer dalam Industri Teknologi
Implikasi dari perubahan ini terlihat pada Big Tech. Amazon telah menjadi tulang punggung infrastruktur intelijen AS melalui kontrak komputasi awan dengan CIA (2013 dan 2020), kontrak US National Security Agency senilai USD 10 miliar pada 2021, serta perjanjian baru dengan Angkatan Darat AS pada 2024. Total pengeluaran Pentagon dalam dua dekade pertama abad ke-21 mencapai lebih dari USD 14 triliun, setara sekitar Rp 235.060 triliun (kurs Rp 16.790 per dolar AS).
Seiring dengan itu, arus silang karier antara elite militer dan industri teknologi semakin kuat. Pada 2024, OpenAI menunjuk mantan pejabat Badan Keamanan Nasional AS (NSA) Paul M. Nakasone ke dewan direksinya, sebuah langkah yang menandai kian eratnya integrasi struktural antara sektor pertahanan dan ekosistem kecerdasan buatan.
Perubahan Budaya di Silicon Valley
Di sisi lain, terbentuk faksi baru di Silicon Valley yang lebih nasionalis dan pro-pertahanan. Dana modal ventura seperti Andreessen Horowitz dan General Catalyst mulai mengalihkan sebagian portofolio ke industri pertahanan, menandai pergeseran budaya di kalangan insinyur dan pendiri startup: dari skeptis terhadap militer menjadi lebih akomodatif terhadap agenda keamanan nasional AS.
Perubahan visi ini tercermin dalam perdebatan publik. CEO OpenAI Sam Altman menyatakan, “Masa depan AI seharusnya berada di tangan koalisi negara-negara sehaluan yang dipimpin Amerika Serikat.” Senada, CEO Anthropic Dario Amodei mengatakan kepada Financial Times, “Ada garis pemisah nyata antara negara demokratis dan otoriter, dan demokrasi harus memenangkan perlombaan AI.”
Tantangan di Masa Depan
Akhirnya, relasi antara negara dan teknologi memasuki fase baru yang lebih keras dan terpolarisasi antara dua blok kekuatan besar dunia. AI tidak lagi dipandang semata sebagai alat inovasi global, tetapi semakin diperlakukan sebagai instrumen kekuatan negara dan keamanan nasional. Dari Silicon Valley hingga Pentagon, industri AI kini berada di garis depan pertarungan geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok, sementara arah masa depannya masih diperebutkan.



