Makna Cinta terhadhandi Mata Uang Nasional
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, menekankan bahwa rupiah adalah simbol kedaulatan negara. Ia menyatakan bahwa kecintaan terhadap mata uang dan produk lokal sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Konsumsi barang impor dapat memberi tekanan pada rupiah karena meningkatkan kebutuhan valuta asing. Di sisi lain, loyalitas terhadap produk domestik dapat membantu menjaga kestabilan ekonomi.
Perhatian terhadap Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan ringgit Malaysia menjadi perhatian serius. Masyarakat diimbau untuk bangga menggunakan produk Indonesia agar bisa mendukung stabilitas ekonomi negara.
Makna cinta terhadap mata uang dalam negeri, yaitu rupiah, merupakan bagian dari kedaulatan bagi sebuah negara. Eksistensi suatu negara dianggap kuat jika memiliki mata uang sendiri. Jika ada negara baru yang tidak memiliki mata uang yang diakui secara internasional, maka kedaulatannya dipertanyakan.
Contoh nyata adalah keberadaan euro di Eropa. Tidak semua negara di kawasan tersebut bersedia melepas mata uang nasionalnya demi menggunakan euro sebagai alat transaksi bersama. Inggris, misalnya, tidak ikut menggunakan euro karena memiliki kebanggaan besar terhadap mata uangnya. Gambar kepala ratu di mata uang Poundsterling, seperti Ratu Elizabeth II, mencerminkan identitas dan kedaulatan negara.
Menjaga Stabilitas Ekonomi
Kecintaan terhadap mata uang dan produk dalam negeri menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Secara makro ekonomi sebenarnya sederhana: bagaimana ekonomi Indonesia kuat dan mata uang cenderung menguat? Jawabannya adalah dengan cintailah Indonesia.
Tingginya konsumsi barang impor turut memberi tekanan pada rupiah. Ketika masyarakat membeli produk luar negeri seperti gawai dan barang elektronik, transaksi dilakukan dengan mata uang asing. Contohnya, banyak orang membeli produk luar negeri dengan nilai belasan juta rupiah. Ketika impor meningkat, kebutuhan valas juga meningkat, yang berdampak pada pelemahan rupiah.
Memperkuat Konsumsi Produk Lokal
Sebaliknya, Rifki mencontohkan negara yang masyarakatnya memiliki loyalitas tinggi terhadap produk domestik. Mereka enggan membeli barang asing kalau ada produk lokal. Dampaknya sederhana, kebutuhan impor rendah dan mata uangnya lebih stabil.
Jika masyarakat Indonesia memperkuat konsumsi produk lokal, ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi permintaan terhadap valuta asing dan membantu menjaga kestabilan rupiah.
Selain faktor konsumsi, Rifki juga menyinggung tantangan eksternal seperti kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat di era kepemimpinan Donald Trump. Kebijakan tarif tinggi terhadap barang impor dinilai dapat menghambat ekspor Indonesia. Jika barang kita dihambat masuk ke Amerika, tentu penerimaan devisa berkurang. Pasokan dolar terbatas, ini juga bisa memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Nilai Tukar Rupiah yang Melemah
Paparan ini seperti menjawab fenomena nilai tukar rupiah dalam satu dekade terakhir yang menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Jika pada 2015 kurs rupiah masih berada di kisaran Rp10.000 per US$, maka pada 2025 nilainya telah merosot ke kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per US$.
Kondisi ini membuat daya beli masyarakat terhadap barang impor semakin tertekan. Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tercatat melemah terhadap mata uang negara tetangga.
Pada November 2025, nilai tukar rupiah menyentuh level terendah sejak 2007 terhadap ringgit Malaysia. Satu ringgit Malaysia setara sekitar Rp4.011 hingga Rp4.048, jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran Rp3.400 hingga Rp3.590 per MYR. Depresiasi ini mencerminkan pelemahan rupiah lebih dari 11 hingga 15 persen terhadap mata uang Negeri Jiran.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pelaku ekonomi, mengingat Malaysia merupakan salah satu mitra dagang penting Indonesia di kawasan Asia Tenggara.



