Krisis Energi di Asia: Langkah Darurat yang Diambil oleh Berbagai Negara
Di tengah krisis energi yang semakin memburuk akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, sejumlah negara di Asia telah meluncurkan berbagai kebijakan darurat. Tindakan ini dilakukan untuk menghadapi gangguan pada jalur logistik minyak yang terganggu, khususnya di Selat Hormuz. Beberapa negara bahkan memberlakukan aturan ganjil-genap, pengurangan pajak bahan bakar minyak (BBM), hingga penerapan kebijakan kerja dari rumah (WFH).
Filipina Mengumumkan Kondisi Darurat Nasional
Filipina menjadi salah satu negara pertama yang merespons krisis energi dengan menetapkan kondisi darurat nasional. Keputusan ini diambil oleh Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. setelah terjadi disrupsi pasokan BBM dan sektor energi. Instruksi presiden tersebut dikeluarkan melalui Executive Order (EO) 110 yang ditandatangani pada 24 Maret 2026.
Dalam pernyataannya, Presiden Marcos menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mengancam produksi dan distribusi minyak. Sebagai net importir produk minyak, Filipina sangat rentan terhadap gangguan global dalam pasokan energi.
Korea Selatan Bentuk Tim Darurat Ekonomi
Selain Filipina, Korea Selatan juga mengambil langkah darurat dengan membentuk dua tim khusus untuk menangani dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah. Perdana Menteri Kim Min-seok mengumumkan rencana ini melalui situs berita Yonhap News Agency. Pemerintah akan membentuk situation room di Istana Kepresidenan Korea Selatan, atau Cheong Wa Dae, untuk memantau situasi secara langsung.
Kim menjelaskan bahwa pihaknya sedang bersiap menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi akibat konflik ini. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan sistem respons dan memastikan stabilitas ekonomi negara.
Langkah-Langkah Darurat Lain di Asia
Beberapa negara lain di Asia, termasuk Myanmar dan Vietnam, juga menerapkan kebijakan darurat untuk mengurangi konsumsi BBM. Di Myanmar, pemerintah menerapkan sistem plat ganjil-genap dan penggunaan kode QR saat pengisian bahan bakar. Sementara itu, pemerintah juga mewajibkan instansi pemerintahan bekerja dari rumah setiap Rabu.
Di sisi lain, Vietnam sedang mengusulkan pengurangan pajak lingkungan untuk BBM. Pajak perlindungan lingkungan akan dipangkas dari 2.000 Vietnam Dong per liter menjadi 1.000 Vietnam Dong per liter. Untuk BBM diesel, pajak akan dikurangi dari 1.000 Vietnam Dong menjadi 500 Vietnam Dong per liter. Pengurangan pajak ini akan berlaku sampai 30 Juni 2026 jika disetujui oleh parlemen.
Indonesia Juga Pertimbangkan WFH untuk Hemat BBM
Di Indonesia, pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) satu hari dalam seminggu guna menghemat konsumsi BBM. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa kebijakan ini sudah dibahas dalam rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Rapat tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Tito menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyesuaikan kembali penggunaan energi di tengah gejolak geopolitik yang memengaruhi harga minyak dunia.
Eskalasi Perang AS-Israel vs Iran
Perang antara AS dan Israel dengan Iran memicu peningkatan harga minyak global. Jalur logistik Selat Hormuz menjadi target pembatasan oleh Iran setelah serangan Februari 2026 lalu. Iran juga mengancam akan menutup total Selat Hormuz jika AS melakukan serangan lebih lanjut.
Di sisi lain, NATO membentuk koalisi internasional yang melibatkan 22 negara untuk memastikan kembali terbukanya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Koalisi ini mencakup negara-negara NATO serta mitra strategis seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Pentingnya Selat Hormuz bagi Pasar Energi Global
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati rute ini, sehingga setiap gangguan langsung memicu volatilitas harga energi di pasar global. Keterlibatan banyak negara dalam menjaga kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz menunjukkan besarnya kepentingan global terhadap stabilitas pasokan minyak.



