Pengelola Makam Jenderal Hoegeng Iman Santoso
Di Taman Pemakaman Giri Tama, terdapat sosok yang menjaga makam orang penting di Institusi Polri dengan penuh kecintaan dan dedikasi. Sosok tersebut adalah Nani, seorang perawat makam yang bekerja di Blok Taman Dahlia. Ia dikenal sebagai mitra kerja dari Yayasan Wredatama, pengelola tempat pemakaman tersebut.
Nani sudah lama bekerja sejak sekitar tahun 1987-an. Tugas utamanya adalah menjaga kebersihan makam setiap hari, mulai dari pagi hingga siang atau sore hari. Untuk menambah pemasukannya, ia juga berjualan bunga tabur bagi peziarah yang ingin mengunjungi makam keluarga atau kerabat di lokasi tersebut.
Awalnya, Nani membantu suaminya yang bekerja sebagai perawat makam. Ketika suaminya dipindahtugaskan menjadi keamanan makam, Nani melanjutkan tugasnya dalam merawat makam. Hingga saat ini, ia telah merawat makam Jenderal Polisi Hoegeng selama lebih dari 21 tahun sejak meninggal pada 14 Juli 2004.
Meski begitu, Nani mengaku telah bertemu dengan Jenderal Hoegeng jauh sebelum itu. Saat itu, mantan Kapolri tersebut masih bugar. Pertemuan terjadi di kawasan Giri Tama ketika Jenderal Hoegeng meninjau lahan yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.
“Selama belum ada makamnya, eyang (Hoegeng) tiga kali datang, sama eyang putri (Meriyati), masih sehat, bertiga sama sopirnya,” ujarnya kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (4/2/2026).
Dari beberapa pertemuannya, Nani menilai bahwa Jenderal Hoegeng dan keluarganya merupakan sosok yang sangat baik terhadap siapa pun. Menurutnya, ia yang hanya sebagai rakyat sipil biasa pun tetap merasa dihargai oleh keluarga Jenderal Hoegeng.
“Baik banget orangnya, eyang putrinya baik, keluarganya baik-baik semua, sama saya aja gitu ngehargain, sama orang yang susah gitu,” ucapnya.
Di samping tugas dan tanggung jawabnya dalam mengurus makam, Nani pun mengaku senang bisa menjadi bagian dari sejarah Jenderal Hoegeng. Ia memiliki kebanggaan tersendiri saat merawat makam dari orang yang menjadi sosok penting bagi negara, terutama Polri.
“Bangga, saya bangga bisa ngurus eyang, orang baik itu bisa kita yang ngurus eyang Hoegeng,” katanya.
Saat ini, tempat pemakaman yang berada di wilayah Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, juga menjadi tempat peristirahatan sang istri, Meriyati Hoegeng. Posisi makam pasangan suami-istri tersebut ditempatkan berdampingan di Blok Taman Dahlia yang letaknya berada dalam satu kavling.
Sosok Meriyati Hoegeng
Isak tangis mewarnai prosesi pemakaman istri eks Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng, di Taman Pemakaman Giri Tama, Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor. Pihak keluarga mengantarkan wanita yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke-100 tahun tersebut yang dikebumikan di samping makam sang suami.
Kepergian wanita yang karib disapa Eyang Meri itu pun meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi ketiga anaknya. Sosok Meriyati Hoegeng dikenang sang putra di pemakamannya. Salah satunya adalah Aditya Soetanto Hoegeng, anak kedua dari pasangan Hoegeng Iman Santoso dan Meriyanti Hoegeng.
Baginya, sang ibu merupakan sosok yang sangat penyabar dalam mendidik anak-anaknya tanpa kekerasan. Dengan cara tersebut, kata dia, amanat yang disampaikan oleh sang ibu sangat membekas di hatinya.
“Yang paling berkesan bagi kami semua anak-anak, bahwa ibu tidak pernah mendidik kita itu dengan tangan, tapi dengan kata-kata yang sangat melekat di hati kita,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, sang ibu adalah sosok hebat di balik nama besar sang ayah yang dikenal memiliki integritas tinggi. Bahkan, meskipun sang ayah merupakan orang penting di Negara ini namun didikan yang diberikan tidak memanjakan anak-anaknya.
Aditya Soetanto Hoegeng mengatakan bahwa anak-anaknya tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas dinas. “Itu semua ayah sampaikan ke ibu, ibu turunkan ke kami. Alhamdulillah, kami bisa menjalani semua itu dengan baik. Jadi, di belakang orang yang kuat seperti bapak, ada orang yang hebat, yaitu Ibu Meriyati Hoegeng,” katanya.
Diwartakan sebelumnya, suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Meriyati Hoegeng. Jenazah Meriyati Hoegeng tiba di lokasi pemakaman menggunakan mobil jenazah Polri sekitar pukul 11.18 WIB, Rabu (4/2/2026). Keranda jenazah yang dibalut kain Bendera Merah Putih dan bunga langsung diturunkan oleh pasukan dan digotong menuju liang lahat.
Prosesi pemakaman digelar secara militer dengan serangkaian upacara yang diikuti oleh jajaran perwira tinggi Polri. Selain pihak keluarga dan kerabat, pemakaman juga turut dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Nampak Kapolri duduk di samping cucu pertama Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso, Krisnadi Ramajaya Hoegeng.
Dalam prosesi pemakam ini, negara memberikan penghargaan berupa Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Bhayangkara Pratama untuk almarhumah. Pemberian penghargaan ini ditandatangi oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas dedikasi yang diberikan selama ini oleh Meriyati Hoegeng.
Penghargaan tersebut diberikan kepada WNI bukan anggota Polri yang berjasa besar dengan keberanian, kebijaksanaan, dan ketabahan luar biasa melampaui panggilan kewajiban yang disumbangkan untuk kemajuan dan pengembangan kepolisian sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Sebagai informasi, Meriyati Hoegeng meninggal dunia pada Selasa (3/2/2025), sekitar pukul 13.24 WIB. Ibu dari tiga orang anak tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Bayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri karena sakit.
Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan, penghargaan tersebut merupakan penghormatan dari Polri atas jasa almarhumah dalam memberikan spirit saat situasi-situasi yang dibutuhkan oleh Polri. “Kami sangat menghormati dan menghargai beliau atas banyak hal yang selalu beliau titipkan dan sampaikan.” “Dan karena jasa beliau, maka Polri mengajukan kepada Bapak Presiden untuk mendapatkan Bintang Bhayangkara Pratama,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).



