Performa yang menjanjikan dari sektor ganda putra Malaysia di bawah bimbingan pelatih asal Indonesia Herry Iman Pierngadi atau dikenal dengan julukan Naga Api, menjadi sorotan utama dalam berbagai media. Sejak kedatangannya sebagai pelatih sektor ganda putra Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM), harapan baru muncul melalui pasangan utama Aaron Chia/Soh Wooi Yik.
Ganda putra yang kini menduduki peringkat kedua dunia tersebut mencatatkan musim yang cukup baik pada tahun 2025. Mereka berhasil meraih tiga gelar juara besar, yaitu Kejuaraan Asia 2025, Thailand Open 2025, dan Singapore Open 2025. Selain itu, Herry IP juga berhasil membawa Man Wei Chong/Kai Wun Tee menjadi ganda putra pertama Malaysia yang menjuarai Malaysia Masters 2025 setelah lama menunggu sejak 2013.
Namun, performa Chia/Soh mengalami penurunan di akhir tahun, yang menjadi peringatan bagi BAM. Kegagalan untuk memenuhi target medali emas bulu tangkis SEA Games 2025 baik dalam kategori beregu maupun perorangan menjadi bukti bahwa ada tantangan yang harus dihadapi. Di ajang BWF World Tour Finals 2025, Chia/Soh dan Man/Tee gagal melewati babak penyisihan grup, yang merupakan titik lemah di akhir musim.
Meski demikian, sentuhan Herry IP di sektor ganda putra dinilai cukup baik oleh beberapa media Malaysia seperti NewStraitsTimes (NST). Pelatih yang dikenal dengan gaya latihannya yang agresif ini berhasil membimbing pasukannya untuk tampil lebih percaya diri di lapangan. Dua pasangan terkuat, Chia/Soh dan Man/Tee, menjadi contoh nyata dari perkembangan yang signifikan.
- “Di bawah bimbingan pelatih ganda putra nasional Herry Iman Pierngadi, Chia/Soh memenangkan Kejuaraan Asia, Thailand Open, dan Singapore Open,” tulis NST.
- “Herry, yang dijuluki Naga Api juga membimbing Man Wei Chong/Tee Kai Wun meraih gelar Malaysia Masters, pasangan putra Malaysia pertama yang menang di ajang tersebut sejak 2013.”
Pencapaian Herry IP di sektor ganda putra sangat kontras dengan situasi yang dialami sektor tunggal putra Malaysia. Di bawah arahan Kenneth Jonassen, mantan pelatih Viktor Axelsen, pemain tunggal Malaysia masih kesulitan untuk melejit. Performa mereka sering dibandingkan dengan keberhasilan Indonesia dalam mengorbitkan Alwi Farhan.
Alwi Farhan menjadi salah satu pemain yang paling disorot karena kemampuannya meningkatkan peringkatnya secara signifikan hingga berada di peringkat ke-17 dunia. Berbeda dengan Malaysia, yang hanya bertumpu kepada Leong Jun Hao dan Justin Hoh, yang sering mengalami naik-turun dalam turnamen.
Situasi semakin menyedihkan ketika Lee Zii Jia, pemain paling berpengalaman, harus berjuang melawan cedera. Cedera punggung membuatnya absen dari beberapa pertandingan penting. Sementara itu, Leong Jun Hao masih kesulitan menunjukkan peningkatan performa yang konsisten.
- “Sebaliknya, para pemain tunggal nasional mengalami kesulitan,” tulis NST.
- “Cedera punggung memaksa Lee Zii Jia absen dari beberapa pertandingan, sementara direktur pelatihan Kenneth Jonassen belum melihat peningkatan performa pada Leong Jun Hao.”
- “Jun Hao mengalami kekalahan di babak awal dalam 18 turnamen tahun ini,” imbuhnya.
Dengan begitu, sektor tunggal putra Malaysia masih membutuhkan strategi dan bimbingan yang lebih kuat agar bisa bersaing dengan negara-negara lain, terutama Indonesia yang telah menunjukkan kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir.



