Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 30 Mei 2026
Trending
  • Sakelar & Stopkontak Vivace E: Sentuhan Kecil, Tampilan Rumah Lebih Indah
  • Raperda Film DIY: Ekosistem Film Lebih dari Sekadar Industri, Bertujuan Berkembang hingga Kalurahan
  • Honda BeAT CBS 2024: Teknologi CBS dan Mesin Irit
  • 5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan Bulan Mei 2026, Performa Tangguh untuk Mid-Level
  • 50 Soal PJOK Kelas 1 Semester 2 Kurikulum Merdeka + Kunci Jawaban UAS, PAS, PAT, PSAJ
  • 10 Makna Mimpi Kecelakaan, Tanda Kesuksesan Mendekat
  • Iran Akui AS Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan di Selat Hormuz
  • KONI Pusat: PON Jadi Fondasi Prestasi Indonesia
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»AI dan DSI Gantikan Bea Cukai, Ekonom Kritik Keras
Ekonomi

AI dan DSI Gantikan Bea Cukai, Ekonom Kritik Keras

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Mei 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perdebatan tentang Modernisasi Sistem Kepabeanan di Indonesia

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam modernisasi sistem kepabeanan di Indonesia memicu perdebatan yang semakin sengit. Sejumlah pihak menilai bahwa digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko korupsi, namun ada juga yang khawatir akan munculnya masalah baru seperti akuntabilitas negara dan konsentrasi kekuasaan ekonomi.

Digitalisasi sebagai Solusi Efisiensi

Salah satu pendukung digitalisasi adalah Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia. Menurutnya, AI bisa digunakan untuk membaca dokumen perdagangan, mendeteksi pola transaksi mencurigakan, serta melakukan profiling risiko terhadap importir dan eksportir. Dengan penggunaan AI, proses pemeriksaan bisa menjadi lebih cepat dan minim campur tangan manusia, sehingga potensi permainan tarif, manipulasi data, atau suap bisa berkurang.

Selain itu, digitalisasi juga diharapkan dapat mempercepat arus barang dan mengurangi biaya logistik, sehingga iklim ekspor-impor menjadi lebih kompetitif. Namun, meskipun banyak manfaat yang ditawarkan, Yusuf tetap mengingatkan adanya risiko besar yang harus diperhatikan.

Risiko Akuntabilitas Negara

Yusuf menyoroti pentingnya menjaga akuntabilitas negara. Ia menilai Bea Cukai sebagai lembaga negara yang tunduk pada mekanisme pengawasan publik dan audit negara. Sementara DSI merupakan BUMN yang berstatus korporasi. Jika fungsi pungutan negara dipindahkan dari institusi negara ke entitas bisnis, garis akuntabilitasnya bisa menjadi kabur.

Ia juga mengingatkan adanya risiko ketergantungan berlebihan pada AI. Pengawasan perbatasan tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh sistem otomatis karena pemeriksaan fisik barang, penindakan penyelundupan, hingga pengamanan wilayah pabean tetap membutuhkan aparat dengan kewenangan hukum.

Potensi Konsentrasi Kekuasaan Ekonomi

Selain itu, Yusuf menyoroti risiko konsentrasi kekuasaan ekonomi jika satu BUMN menguasai jalur ekspor komoditas strategis sekaligus memegang fungsi pungutan negara. Hal ini berpotensi memusatkan kekuasaan ekonomi dan administrasi pada satu entitas yang sangat besar.

Menurutnya, sentralisasi seperti itu tidak otomatis menghilangkan potensi penyimpangan. Titik rawan yang sebelumnya berada di Bea Cukai justru bisa berpindah ke lembaga baru dengan bentuk berbeda.

Tantangan Masa Transisi

Yusuf juga menyoroti tantangan masa transisi dalam penerapan sistem baru tersebut. Pemerintah disebut berencana memulai pengelolaan tiga komoditas utama melalui DSI secara bertahap dengan masa transisi enam bulan. Namun, perubahan sistem berskala besar hampir selalu menimbulkan risiko kebingungan administratif, terutama jika regulasi teknis dan koordinasi antarinstansi belum benar-benar matang.

Pandangan dari Pakar Lain

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai operasional kepabeanan memang perlu dievaluasi karena selama ini banyak persoalan seperti perdagangan ilegal hingga praktik under invoicing yang merugikan negara.

Namun, ia mempertanyakan apakah pelimpahan fungsi administrasi ekspor-impor kepada DSI otomatis akan menghasilkan perbaikan. Ia menilai persoalan utama bukan hanya pada teknologi, melainkan tata kelola organisasi yang masih menyimpan banyak celah. AI memang bisa menutup celah, namun tidak menutup kemungkinan adanya permainan.

Huda juga mengingatkan pengembangan sistem AI untuk kepabeanan membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan.

Kesimpulan

Meski demikian, Yusuf tetap menilai modernisasi Bea Cukai dengan dukungan AI tetap merupakan arah yang tepat dan dibutuhkan. Banyak negara juga bergerak menuju digitalisasi karena terbukti mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi ruang korupsi. Namun, ia menegaskan modernisasi tidak boleh diartikan sebagai penghapusan fungsi negara atau pemindahan kewenangan strategis ke korporasi.

Model yang paling ideal adalah Bea Cukai tetap memegang otoritas pengawasan, penindakan, dan penerimaan negara sebagai lembaga negara, sementara DSI fokus pada sisi perdagangan dan konsolidasi ekspor. Pemisahan fungsi komersial dan fungsi pengawasan justru penting untuk menjaga tata kelola yang sehat.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

50 Soal PJOK Kelas 1 Semester 2 Kurikulum Merdeka + Kunci Jawaban UAS, PAS, PAT, PSAJ

29 Mei 2026

Jaringan Transmisi Sumatra Jadi Sorotan Pasca Blackout, Ini Jawaban PLN

29 Mei 2026

Amelia Lulus Terbaik Sambil Bekerja Hingga Subuh di UIN Walisongo

29 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sakelar & Stopkontak Vivace E: Sentuhan Kecil, Tampilan Rumah Lebih Indah

29 Mei 2026

Raperda Film DIY: Ekosistem Film Lebih dari Sekadar Industri, Bertujuan Berkembang hingga Kalurahan

29 Mei 2026

Honda BeAT CBS 2024: Teknologi CBS dan Mesin Irit

29 Mei 2026

5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan Bulan Mei 2026, Performa Tangguh untuk Mid-Level

29 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?