Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 29 April 2026
Trending
  • Putra Bantaeng Cetak Gol, Bali United Unggul 2-0 vs PSM Makassar
  • E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa
  • Barcelona Incar Bastoni dan Alvarez, Siap Lepas Tiga Bek di Bursa Transfer
  • Ramalan Zodiak Besok 27 April 2026: Scorpio, Capricorn, dan Pisces
  • 10 oleh-oleh khas Palembang, hadiah sempurna untuk keluarga
  • Hasil Kualifikasi Moto3 Spanyol 2026! Drama Highside Veda Pratama dan Perjuangan Mario Aji Bikin Start P17 di Jerez
  • Ngawi Menang Gugatan, Ponorogo Rekor Jemaah Haji Termuda
  • Berita Populer Padang: KTP Hilang dan Lulusan Terbaik UIN Imam Bonjol
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Defisit Rp21 Triliun Jadi Bukti Lemahnya Mesin APBN
Nasional

Defisit Rp21 Triliun Jadi Bukti Lemahnya Mesin APBN

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Juni 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

IndonesiaDiscover –

Defisit Rp21 Triliun Jadi Bukti Lemahnya Mesin APBN
Suasana permukiman padat penduduk di kawasan Kebon Melati Tanah Abang, Jakarta. APBN pada Mei 2025 mengalami defisit Rp21 triliun di tengah bertambahnya jumlah penduduk miskin Indonesia versi Bank Dunia.(MI/Susanto)

DI tengah klaim defisit fiskal yang masih aman, terdapat sinyal peringatan dari sisi penerimaan negara. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menilai turunnya penerimaan pajak hingga 11% seharusnya menjadi perhatian utama, bukan sekadar ukuran defisit itu sendiri.

APBN per Mei 2025 tercatat mengalami defisit Rp21 triliun, atau 0,09% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menyebut angka ini masih terkendali. Namun Fitra menggarisbawahi persoalan di dalamnya, yaitu melemahnya mesin penerimaan negara.

“Ini menunjukkan bahwa mesin penerimaan kita masih belum sepenuhnya pulih,” ujar Manajer Riset Seknas Fitra Badiul Hadi saat dihubungi, Selasa (17/6). 

Baca juga : Gelap! APBN Defisit Rp21 Triliun di Mei 2025

Ia menambahkan, meskipun APBN sempat surplus pada April lalu, pergeseran menuju defisit Mei bukanlah kejutan, sebab negara mulai menggenjot belanja prioritas seperti gaji, subsidi, hingga infrastruktur dasar.

Namun yang jauh lebih mengkhawatirkan, menurut Badiul, ialah ketergantungan penerimaan negara pada sektor komoditas. Turunnya harga global batu bara, CPO, dan mineral membuat PPh badan dan PNBP SDA ikut menurun, menggerus kekuatan fiskal dari dalam.

“Pertumbuhan ekonomi yang belum merata pascapandemi dan tekanan global seperti perlambatan Tiongkok, ketidakpastian suku bunga AS, serta konflik geopolitik menyebabkan aktivitas usaha, konsumsi, dan ekspor belum sepenuhnya pulih. Ini berdampak langsung pada basis pajak,” jelasnya.

Baca juga : Memasuki Semester II 2024, APBN Defisit Rp93,4 Triliun

Pemerintah dianggap mengorbankan pendapatan dalam jangka pendek melalui berbagai insentif fiskal seperti pengurangan tarif PPh UMKM dan PPN sektor properti. Langkah itu dinilai penting untuk pemulihan, namun membatasi ruang fiskal di saat yang bersamaan.

Meski demikian, terdapat indikator positif yang diakui Fitra, yaitu surplus keseimbangan primer yang mencapai Rp192 triliun. Tapi angka ini dibayangi oleh naiknya utang luar negeri yang per April 2025 mencapai US$431,5 miliar, naik 8,2% dari tahun sebelumnya.

“Utang negara mengalami peningkatan, terutama utang untuk membayar bunga,” kata Badiul.

Selain itu, laporan Bank Dunia menyebut 194,5 juta penduduk Indonesia kini berada dalam kategori miskin dan rentan, menandakan lemahnya distribusi hasil pembangunan.

Fitra menilai sudah saatnya pemerintah berani melakukan reformasi struktural perpajakan dan mendorong efisiensi belanja. Dua pendekatan kunci yang ditawarkan adalah perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan wajib pajak.

“Pemerintah harus menyasar sektor informal dan ekonomi digital yang selama ini kurang tersentuh. Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki sistem identifikasi, integrasi data, dan pengawasan berbasis teknologi seperti big data dan AI,” ujar Badiul.

Selain itu, integrasi sistem perpajakan dengan e-commerce, keuangan, dan OSS dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem perpajakan.

“APBN harus tetap dijaga sebagai alat stabilisasi. Melalui belanja sosial, infrastruktur, dan perlindungan masyarakat rentan, APBN bisa berperan sebagai bantalan ekonomi sekaligus pendorong daya beli,” pungkas Badiul. (Mir/E-1)

APBN Bukti Defisit Jadi Lemahnya mesin Rp21 Triliun
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ngawi Menang Gugatan, Ponorogo Rekor Jemaah Haji Termuda

29 April 2026

10 oleh-oleh khas Palembang, hadiah sempurna untuk keluarga

29 April 2026

Ramalan Zodiak Besok 27 April 2026: Scorpio, Capricorn, dan Pisces

29 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Putra Bantaeng Cetak Gol, Bali United Unggul 2-0 vs PSM Makassar

29 April 2026

E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa

29 April 2026

Barcelona Incar Bastoni dan Alvarez, Siap Lepas Tiga Bek di Bursa Transfer

29 April 2026

Ramalan Zodiak Besok 27 April 2026: Scorpio, Capricorn, dan Pisces

29 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?