Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 27 Juli 2026
Trending
  • BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Petani Pidie Kesulitan Akses Pupuk Subsidi
Nasional

Petani Pidie Kesulitan Akses Pupuk Subsidi

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kekurangan Pupuk Bersubsidi Menghambat Petani di Kabupaten Pidie

Petani di Kecamatan Mutiara dan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie mengalami kesulitan dalam memperoleh pupuk bersubsidi jenis Phonska (NPK) serta urea. Hal ini sangat mengganggu proses pertanian mereka karena pupuk merupakan kebutuhan utama untuk menyuburkan tanaman padi yang berusia antara 22 hingga 30 hari.

Kebutuhan akan pupuk ini tidak hanya terjadi di dua kecamatan tersebut, tetapi juga hampir semua kecamatan lainnya. Namun, ada tiga kecamatan yang tidak mengalami kelangkaan pupuk, yaitu Kecamatan Glumpang Baro, Glumpang Tiga, dan Keumala. Petani di wilayah tersebut lebih awal telah menggunakan pupuk sebelum kondisi krisis terjadi.

Penyebab Kelangkaan Pupuk

Menurut Hasballah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpang) Pidie, kelangkaan pupuk bersubsidi Phonska atau NPK dan urea mulai terjadi sejak sepekan terakhir. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penyaluran dari distributor kepada kios pengecer. Selain itu, tingginya permintaan dari petani juga turut memperparah situasi ini.

Hasballah mengungkapkan bahwa dirinya sudah melapor kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat berkunjung ke Aceh terkait ketidakcukupan pupuk bersubsidi di Pidie. Ia juga telah menyurati PT Pupuk Indonesia pada awal Januari 2026 agar segera menambah kuota pupuk bersubsidi untuk petani di Pidie.

Namun, hingga saat ini, pupuk bersubsidi masih sulit ditemukan di distributor maupun kios pengecer. Meskipun pupuk NPK didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur, distribusi tetap mengalami kendala.

Upaya Distribusi Pupuk Melalui Jalur Laut

Direktur CV Alia Agro Persada, Jamaluddin, menjelaskan bahwa stok pupuk di Pidie sebenarnya tidak langka. Masalah utamanya adalah musibah banjir dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025. Banjir tersebut menyebabkan jembatan utama sebagai penghubung putus, sehingga jalur pendistribusian pupuk melalui jalur darat terkendala.

Untuk mengatasi hal ini, Pupuk Indonesia berkomitmen untuk melakukan pendistribusian pupuk bersubsidi di wilayah Kabupaten Pidie melalui jalur laut. Pada pekan ketiga hingga keempat Desember 2025, kapal membawa 900 ton urea dan 800 ton NPK mendarat di pelabuhan Malahayati. Pupuk kemudian dibawa ke gudang lini III Pidie untuk selanjutnya didistribusikan ke PPTS.

Kondisi Terkini Stok Pupuk

Pada pekan pertama Januari 2026 hingga saat ini, pendistribusian pupuk sudah mulai normal lewat jalur darat. Meski demikian, di jembatan Kutablang Bireuen masih terjadi antrean.

Jamaluddin menyebutkan bahwa hingga 14 Januari 2026, stok pupuk subsidi di gudang lini III Kabupaten Pidie mencapai 180 ton urea. Saat ini, 180 ton urea dalam perjalanan dibawa truk. Begitu juga, 120 ton NPK bersama 150 ton urea masih diangkut truk dalam perjalanan.

Selain itu, PUD CV Tuah Tamita sudah melakukan penebusan di wilayah kerja Kecamatan Peukan Baro terhadap 65 ton pupuk urea dan 57,5 ton NPK.

Kesimpulan

Masalah kelangkaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Pidie masih menjadi tantangan bagi petani. Meski upaya distribusi melalui jalur laut dilakukan, kondisi ini tetap menghambat aktivitas pertanian. Petani sangat membutuhkan bantuan lebih lanjut dari pemerintah dan distributor agar kebutuhan pupuk dapat terpenuhi secara merata.




Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen

11 Juli 2026

Inggris Tuduh Iran Serang di Selat Hormuz, 3 Kapal Jadi Korban

11 Juli 2026

Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka

14 Juli 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?