![]()
Oleh: Renggha Prima
Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebuah momentum bersejarah yang mengingatkan kita pada ikrar para pemuda pada 1928: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahas Indonesia.
Hampir satu abad berlalu, tantangan yang dihadapi generasi muda tentu telah berubah. Jika dahulu para pemuda berjuang melawan penjajahan dan sekat-sekat perbedaan, hari ini perjuangan kita adalah bagaimana menjaga persatuan tersebut tetap memiliki makna dalam kehidupan sosial. Salah satu bentuknya adalah kepedulian terhadap sesama, termasuk kepada para pekerja yang berada di sekitar kita.
Di tengah kehidupan bermasyarakat, kita begitu mudah menemukan pekerja yang mengandalkan penghasilan harian. Ada pedagang kecil, petani, nelayan, pengemudi ojek, pekerja konstruksi, buruh harian, hingga berbagai profesi lainnya. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi pada saat yang sama menghadapi risiko pekerjaan yang tidak selalu terlihat.
Kecelakaan kerja misalnya, bukan hanya persoalan cedera fisik. Bagi seorang pekerja yang mengandalkan penghasilan harian, berhenti bekerja akibat kecelakaan dapat berarti terhentinya penghasilan keluarga, terhentinya sumber penghasilan utama dapat mengakibatkan permaslahan sosial lainnya, disinilah perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan menjadi penting.
Namun, persoalannya bukan semata-mata apakah program perlindungan tersedia. Pertanyaan yang lebih penting adalah sudahkah pekerja di sekitar kita mengetahuinya dan terlindungi?
Sumpah Pemuda dalam Wujud Kepedulian
Semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, nilai persatuan yang diwariskan oleh para pemuda 1928 harus diterjemahkan ke dalam tindakan yang relefan dengan kebutuhan masyarakat hari ini,
Jika dahulu persatuan diwujudkan dengan menyatukan pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang, maka hari ini persatuan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap mereka yang bekerja dan berjuang menghidupi keluarganya.
Pemuda yang mendapatkan banyak sumber informasi, dapat menjadi lokomotif perubahan pada masyarakat.
Perubahan tidak selalu dimulai dengan perubahan besar, namun perubahan kecil yang berkesinambungan dapat memberikan dampak yang signifikan kepada msayarakat, salah satunya adalah pemahaman masyarakat terhadap perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Kita sebagai Pemuda dapat memulainya dari lingkungan yang paling dekat dan terkecil.
Kenali Masyarakat Sekitar
“Sudah terlindungi jaminan sosial ketenagakerjaan belum?” Pertanyaan sederhana yang terlihat kecil dan tidak penting. Namun, bagi seorang pekerja, pertanyaan itu bisa menjadi awal dari kesadaran bahwa dirinya dan keluarganya sangat membutuhkan perlindungan sosial.
Hal ini bukan hanya tugas pemerintah semata, namun pemuda juga harus aktif dalam memastikan masyarakat disekitar mengetahui perlindungan sosial.
Pesannya sederhana: jangan hanya menyimpan informasi yang baik hanya untuk kita sendiri, tetapi sebarkan informasi kepada masyarakat pekerja di sekitar kita untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara berupa perlindungan sosial.
Kita semua dapat mengambil peran, seorang anak dapat mengingatkan orang tuanya yang bekerja mandiri, seorang pemuda dapat mengajak pedagang di lingkungannya untuk memahami pentingnya perlindungan, seorang pengusaha dapat memastikan pekerjanya terlindungi, organisasi kepemudaan dapat menjadikan perlindungan pekerja sebagai bagian dari kegiatan sosialnya, pemerintah daerah, komunitas, serikat pekerja dan berbagai kelompok masyarakat dapat membangun ekosistem perlindungan yang semakin luas.
Dengan cara itu, jaminan sosial tidak lagi dipandang sebagai urusan pemerintah atau lembaga tertentu semata, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat yang berlandaskan kepedulian dan kebersamaan.
Pemuda Sebagai Penggerak
Generasi muda hari ini memiliki kekuatan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Teknologi digital memungkinkan sebuah pesan sederhana menyebar dalam hitungan detik.
Bayangkan jika setiap pemuda mengajak satu pekerja di sekitarnya untuk memahami pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan.Satu pemuda mengajak satu pekerja. Kemudian pekerja tersebut mengajak pekerja lainnya.
Dari satu orang menjadi dua, dari dua menjadi empat, dan seterusnya. Hal ini akan menjadi gerakan sosial yang sangat besar. Gerakan sosial sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar, namun dimulai dari satu kepedulian kecil yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum bagi generasi muda untuk kembali bertanya: apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain?
Kita sering berbicara tentang bonus demografi, produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. Namun, semua itu pada akhirnya bergantung pada manusia yang bekerja di dalamnya.
Pekerja yang terlindungi akan memiliki rasa aman yang lebih baik dalam menjalankan aktivitasnya. Keluarga pekerja memiliki jaring pengaman ketika risiko terjadi. Dan masyarakat memiliki ketahanan sosial yang lebih kuat.
Karena itu, memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bukan hanya berbicara tentang kepesertaan, tetapi juga tentang investasi sosial untuk menjaga keberlangsungan kehidupan pekerja dan keluarganya.
Terlebih bagi pekerja bukan penerima upah, yang penghasilannya sangat bergantung pada kemampuan untuk terus bekerja. Bagi mereka, perlindungan terhadap risiko kerja memiliki arti yang sangat besar untuk memastikan pendapatan tetap berjalan.
Penulis adalah Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Pekerja BPJS Ketenagakerjaan Sumbagut


