Indonesiadiscover.com – Tak terima ditagih utang, pria di Mojokerto bernama Nanang Apriyanto (44) diduga menganiaya Josman Siagian (56) pakai pisau.
Nanang Apriyanto menganiaya Josman Siagian karena merasa tak punya utang.
Penganiayaan itu terjadi di depan rumah Josman, yang merupakan warga asal Surabaya dan berdomisili di Desa/Kecamatan Trowulan, pada Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 09.15 WIB.
Nanang merasa tidak memiliki utang kepada Josman, meski utang tersebut disebut berasal dari pinjaman istrinya.
Salah satu tetangga korban yang enggan disebutkan namanya menceritakan, peristiwa itu bermula ketika Josman baru pulang mengantarkan air galon menggunakan kendaraan roda tiga.
Saat tiba di depan rumahnya, seseorang yang baru datang dengan sepeda motor menghampirinya.
Keributan pun terjadi. Josman kemudian mengalami luka akibat senjata tajam yang digunakan pelaku.
”Dengar-dengar itu sudah teriak-teriak. Habis itu pelaku langsung diikat sama orang-orang. Pelaku sendirian. Infonya dipicu utang,” ungkap salah satu tetangga tersebut Selasa (27/10/2026).
Nanang kemudian ditangkap polisi dan dibawa ke Polsek Trowulan.
Kapolsek Trowulan Komisaris Gusti NK Swastama membenarkan bahwa penganiayaan tersebut dipicu persoalan utang piutang.
Menurut dia, Nanang kesal karena terus ditagih utang oleh Josman, padahal merasa tidak pernah meminjam uang kepada korban. Utang tersebut awalnya sebesar Rp 2 juta dan disebut telah membengkak menjadi Rp 4 juta karena bunga.
Berdasarkan pengakuan Nanang kepada polisi, pinjaman itu diajukan oleh istrinya kepada Josman.
Sementara itu, Nanang dan istrinya sudah lama pisah ranjang. Meski merasa bukan dirinya yang berutang, Nanang beberapa kali ditagih oleh Josman.
Ia pun tidak terima hingga akhirnya diduga menganiaya korban menggunakan pisau. Kepada polisi, Nanang mengaku melakukan penganiayaan secara spontan setelah berpapasan dengan Josman di jalan.
Ia kemudian mengikuti korban hingga ke rumahnya. Pertemuan itu berujung keributan dan penganiayaan menggunakan pisau yang dibawanya. Nanang beralasan selalu membawa pisau karena memiliki hobi memancing. Pisau tersebut disimpan di jok sepeda motornya.
”Jadi perkara utang piutang. Tersangka tidak terima. Pada saat ketemu di jalan, saat tersangka hendak beli minuman, ketemu lagi di rumah korban, akhirnya di situlah kemudian dilakukan penganiayaan membabi buta menggunakan pisau,” papar Kapolsek Trowulan Kompol Gusti NK Swastama kepada wartawan saat ditemui Selasa (27/10/2026).
Akibat penganiayaan tersebut, Josman mengalami luka tusuk di beberapa bagian tubuh, mulai dari lengan, perut, hingga dada.
Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Sementara itu, Nanang masih diamankan di Polsek Trowulan.
Kasus lain sebelumnya juga viral, Kades di Bangkalan, Jawa Timur diduga menganiaya perawat gegara salep luka yang dimintanya tidak tersedia.
Adapun seorang kades berinisial S diduga menganiaya perawat Puskesmas Kwanyar bernama Miftahul Khoir.
Dugaan penganiayaan diduga bermula karena salep.
Dalam pengakuannya, korban mengalami kekerasan saat bertugas pada Sabtu (24/10/2026).
Setelah kejadian tersebut, Miftahul melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Bangkalan dengan menyerahkan sejumlah bukti.
Miftahul menjelaskan, kejadian bermula ketika S datang ke Puskesmas Kwanyar untuk membersihkan luka terbuka di bagian kakinya.
Saat itu, seorang perawat lebih dahulu menangani luka S.
Miftahul yang sedang menyelesaikan tugas lain kemudian menghampiri rekannya untuk membantu proses perawatan.
“Lalu teman saya merawat luka itu, saya lihat dari jauh karena sedang menyelesaikan tugas lain,” ucap Miftahul, Senin (26/10/2026).
Rekannya kemudian meminta Miftahul mengambilkan obat dan kasa untuk keperluan perawatan luka tersebut.
Miftahul mengecek aplikasi, tetapi obat yang dibutuhkan belum tercatat. Ia lalu berinisiatif membuat resep manual dan membawanya ke bagian farmasi.
“Lalu saya cek di aplikasi belum ada. Lalu saya inisiatif kasih resep manual dan pergi ke farmasi. Setelah itu dari farmasi dapat obat, lalu saya berikan ke bapak (S) itu,” tambahnya.
Obat yang diberikan berupa antibiotik dan kasa untuk mengganti pembalut luka di rumah. Namun, S kemudian menanyakan salep yang juga dibutuhkannya.
Miftahul lantas mengonfirmasi permintaan tersebut kepada perawat yang sebelumnya menangani S.
Ia mendapat penjelasan bahwa rekannya lupa menyampaikan kebutuhan salep.
Setelah menghubungi bagian farmasi, Miftahul mengetahui bahwa salep Bufacort yang diminta S tidak tersedia.
“Saya sampaikan baik-baik ke bapak (S) itu kalau salep Bufacortnya tidak ada. Beliau langsung ambil sendal dan pergi dari ruang UGD,” ucapnya.
Setelah S meninggalkan ruang UGD, Miftahul dan rekannya kembali ke ruang petugas.
Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan mendatangi mereka dan menyampaikan bahwa S sedang marah-marah.
Miftahul kemudian menghampiri S untuk menanyakan persoalan yang terjadi. Namun, menurut pengakuannya, S justru merekam dirinya dan memarahinya.
“Saya hampiri beliau dan dengan baik-baik saya tanya kenapa. Namun, bapak (S) langsung merekam saya dan memarahi saya,” tuturnya.
S kemudian menuding Miftahul dan petugas farmasi bekerja sama untuk tidak memberikan salep yang dimintanya.
Ia juga disebut mengangkat kerah baju Miftahul sebelum melakukan kekerasan. “Di situ, dia langsung menganiaya saya,” jelas Miftahul.
(*/Indonesiadiscover.com//Kompas.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan


