Ringkasan Berita:
- Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat (speed boat) yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda dilanjutkan.
- Pada pencarian telah memasuki hari kelima pada pada Sabtu (12/9/2026). Tim SAR Gabungan belum kunjung menemukan titik terang terkait kondisi delapan orang yang hilang.
- Meski demikian masih ada asa, harapan para jurnalis dan 3 Anak Buah Kapal (ABK) akan dtemukan.
Indonesiadiscover.com, BANTEN –Ketika jarum jam di dinding bagian dalam Kapal Negara (KN) SAR 247 Tetuka bertengger di angka delapan, saat itu juga belasan personel Tim SAR Gabungan telah bersiap untuk melepas tali kapal dari Dermaga Pelabuhan Ciwandan, Banten.
Beberapa personel dari Basarnas, Ditpolairud, dan sejumlah pewarta dari kantor media berbeda melanjutkan operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat (speed boat) yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda, pada Sabtu (12/9/2026).
Operasi pencarian telah memasuki hari kelima. Tim SAR Gabungan belum kunjung menemukan titik terang terkait kondisi delapan orang yang hilang.
Mereka merupakan jurnalis media nasional dan internasional, yakni M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews.id), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis foto lepas).
Sementara tiga kru kapal yang mendampingi rombongan adalah Warta (55) selaku nakhoda, Sukarman (60) sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto (49) selaku pemandu.
Perlahan tapi pasti, kapal berwarna perpaduan oranye dan putih ini bergerak menjauh dari Pelabuhan Ciwandan membawa pengharapan dari banyak orang, khususnya pihak keluarga yang masih menantikan kabar mengenai kondisi kerabat mereka.
Raungan mesin kapal yang dikemudikan Nakhoda, Capt. Septa Arif Rohadi, lama-kelamaan terdengar semakin meninggi seiring dipacu mencapai kecepatan maksimal.
Perjalanan menuju ke sisi Timur Pulau Rakata (area pencarian hari kelima) memakan waktu sekitar 2 jam. Beberapa personel Tim SAR Gabungan dan para pewarta sesekali berkumpul di bawah kanopi yang berada di buritan kapal.
Hal itu dilakukan bukan hanya untuk saling berkenalan karena beberapa orang yang baru pertama kali bertemu, tapi juga untuk melupakan kebosanan yang menyerang pikiran dalam perjalanan laut yang memakan waktu cukup lama.
Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari insiden kelima jurnalis hilang kontak maupun hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan itu, seperti pengalaman logis hingga mistis yang dialami para rescuer (penyelamat) saat menjalankan misi, operasional dan perawatan kapal, hingga pengalaman sejumlah awak media dalam melakukan peliputan.
Namun, aktivitas berkumpul itu terjeda setiap kali mendengar deru mesin kapal mereda secara tiba-tiba hingga membuat kapal berhenti bergerak di tengah laut yang seolah tak bertepi.
Momen itu berlangsung pukul 10.05 WIB, pada koordinat 06° 02′ 71.61″ S – 105° 31′ 54.14″ E, di tengah keheningan setelah mesin kapal berhenti meraung, “Arah jam 11 tolong dicek itu objek apa,” terdengar suara Captain Septa yang berada di anjungan memberi perintah kepada seluruh personel melalui protofon yang mereka genggam.
Bak warga yang mendengar alarm darurat serangan udara, tak ada satu pun orang yang tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Semua personel dan para wartawan tampak langsung bergerak menuju geladak kiri kapal berjenis Search and Rescue Vessel itu.
Kedua bola mata mereka menyapu lautan luas mencari objek yang dimaksud Captain.
Beberapa personel tim pencarian lain yang berada di anjungan juga bergerak menuju bagian balkon yang terdapat di sisi kiri dan kanan ruang kemudi kapal itu. Dari sana, mereka menggunakan teropong binokular untuk memeriksa objek secara lebih jelas.
“Jeriken, jeriken. Jeriken minyak itu sepertinya,” kata seorang personel Tim SAR yang melihat objek tersebut melalui teropong binokular yang melaporkan temuannya menggunakan protofon.
“Oke. Kita ambil, ya. Kita ambil,” kata Capt. Septa merespons laporan itu dengan cepat.
Situasi terasa sangat serius. Para personel Tim SAR dan awak media merapat ke buritan kapal dengan cepat untuk mengambil sekaligus melihat objek temuan itu dari dekat.
Di sela-sela momen ini, seorang personel Basarnas berkoordinasi dengan Captain melalui protofon untuk mengarahkan kapal agar bisa bergerak mendekati objek tersebut.
Proses mengamankan objek yang ditemukan untuk kemudian dinaikkan ke atas kapal tak semudah membalikkan telapak tangan.
Derasnya arus laut dan gulungan ombak menyebabkan kapal terombang-ambing. Belum lagi ketika objek yang didekati malah bergerak ke kolong kapal akibat terbawa arus.
Kemampuan nakhoda dalam mengoperasikan kapal bukan satu-satunya hal penting yang dibutuhkan agar posisi kapal presisi untuk menjangkau objek. Koordinasi pengemudi kapal dengan para personel melalui protofon juga tak kalah krusial dalam menentukan keberhasilan.
Saat posisi kapal sudah cukup dekat dengan objek, seorang personel Basarnas mengambil sebuah galah yang ujungnya dipasang pengait. Ia menggunakan benda itu sebagai piranti mengambil objek temuan yang mengambang di permukaan air laut.
Personel yang bertugas mengambil objek terlihat fokus untuk bisa mengaitkan ujung galah pada benda yang dituju. Sambil berusaha meraih objek jeriken itu, ada personel Tim SAR lainnya bertugas seperti tukang parkir karena posisi kapal berkali-kali harus dikoreksi, “Capt, mundur dua meter,”.
“Oke, dua meter,” jawab Captain.
“Capt, mundur lagi tiga meter,” kata personel di buritan, lalu dibalas Captain “Oke, tiga meter.”
“Oke, dapat Capt,” ucap seorang personel sambil mendekatkan mulutnya ke protofon di sela-sela personel lainnya membawa objek berupa jeriken warna biru tua itu ke bawah kanopi tempat berkumpul.
Objek yang berhasil dibawa ke atas kapal seketika menjadi pusat perhatian para personel dan wartawan yang meliput, meskipun tak langsung dipublikasi karena belum terkonfimasi benar atau tidaknya objek tersebut berkaitan dengan kapal yang ditumpangi kelima jurnalis dan tiga kru kapal cepat yang hilang kontak.
Dalam situasi operasi pencarian seperti ini, tak ada objek yang sia-sia di lautan. Apapun benda yang dinilai memiliki dugaan keterkaitan dengan peralatan-peralatan kapal cepat maupun barang-barang yang dibawa kelima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak akan diamankan Tim SAR untuk selanjutnya diidentifikasi oleh pihak Kepolisian.
Penemuan objek bukan sekadar menjadi pencapaian Tim SAR semata, tapi juga menyambung asa mereka, terutama orang tua, istri, dan anak-anak para korban yang masih menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mereka sampaikan di media massa, “Di mana kamu berada?”, “Papa lagi apa?”, “Papa pulangnya kapan?”, “Kondisi kamu bagaimana?”.
Harapan itu ada di punggung tim pencarian, usaha semaksimal mungkin sudah mereka lakukan. Namun, mencari benda-benda yang bisa menjadi petunjuk keberadaan para korban di laut nan luas dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Hati sesekali terasa sesak ketika melihat laut seperti hamparan permadani berwarna biru polos yang tak ada ujungnya. Kontras saat memandang batas cakrawala yang seolah-olah menyambung dengan langit berwarna biru muda.
Alih-alih mendapatkan benda yang berkaitan dengan kejadian hilangnya lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat, sampah plastik bekas kemasan makanan lebih sering dijumpai.
Sesaknya hati lebih terasa lagi melihat kondisi ini, seakan memiliki tanggung jawab untuk memungut benda-benda tersebut agar makhluk hidup di laut bisa hidup tenang tanpa ancaman, tapi realitas seolah menampar wajah dan menyadarkan diri bahwa dalam situasi ini tak bisa berbuat apa-apa.
KN SAR 247 Tetuka terus melaju, mesinnya meraung pada desible tinggi yang lama-lama memekakkan telinga.
Hingga pada pukul 12.33 WIB, deru mesin kapal kembali mereda, menandakan tim kembali menemukan objek yang menjadi bara pengharapan.
Benar saja, kali ini Tim SAR menemukan helm berwarna merah, pada koordinat 06° 18′ 84.6″ S – 105° 31′ 71.6″ E.
Selanjutnya, momen meredanya suara mesin kapal berlangsung dua kali, yakni pukul 17.10 WIB, saat tim menemukan life jacket atau pelampung berwarna oranye, pada koordinat 06° 11′ 12.17″ S – 105° 42′ 05.35″ E dan pukul 18.09 WIB, tim kembali menemukan life jacket berwarna merah, pada koordinat 06° 06′ 37.57″ S – 105° 47′ 41.04″ E. Semua objek temuan itu diamankan ke atas kapal.
Setelah mengarungi perairan sekitar Gunung Anak Krakatau selama kurang lebih 10 jam, KN SAR 247 Tetuka bertolak pulang ke Pelabuhan Ciwandan.
Kapal bersandar sekitar pukul 20.30 di dermaga. Beberapa personel sibuk untuk kembali mengikat tali kapal pada sejumlah bollard tipe harbour hitam berukuran besar.
Objek-objek temuan di laut diserahkan kepada personel Basarnas di pos yang berada di dekat dermaga.
“Seluruh personel berkumpul di atas kapal,” tegas Capt. Septa melalui pengeras suara kapal.
Operasi hari kelima pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat yang hilang kontak ditutup dengan apel Tim SAR Gabungan dan para wartawan di atas KN SAR 247 Tetuka.



