Oleh: Ferry Bangkit Rizki
Indonesiadiscover.com.CO.ID, BANDUNG BARAT — Usaha siswa SDN Budiharja di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat dalam mengejar ilmu tidak bisa dipandang remeh. Mereka harus mengambil risiko nyawa dengan menyeberangi air Waduk Saguling menggunakan perahu dari bambu agar bisa bersekolah.
Kamis (28/8/2026) siang setelah selesai sekolah, beberapa siswa melintasi jalan kecil menuju tepi Waduk Saguling yang tingkat airnya berkurang karena musim kemarau. Di sana, terdapat perahu bambu yang sudah rusak menunggu untuk membawa mereka pulang ke rumah di Kampung Sadang, RT 05, RW 02 Desa Budiharja dari SDN Budiharja yang berada di Kampung Gombong, RT 03, RW 05 Desa Budiharja.
Di atas rakit bambu tersebut, seorang pria paruh baya telah siap untuk menyeberangkan anak-anak itu secara sukarela. Menggunakan tali tambang yang menghubungkan Kampung Sadang dengan Kampung Gombong, rakit itu mulai ditarik. Sementara itu, sejumlah siswa duduk tenang di bawah teriknya sinar matahari pada siang hari itu.
“Jika aku mulai naik perahu itu dari kelas 4, hampir setiap hari karena lebih cepat dari rumah ke sekolah,” kata Imam Permana (12), salah seorang siswa.
Setiap hari sekolah, sekitar pukul 06.00 WIB, Imam bersama teman-temannya sudah berangkat dari rumah menuju tepian Waduk Saguling. Siswa-siswa tersebut memutuskan untuk menyeberangi Waduk Saguling dengan menggunakan rakit karena lebih efisien dan cepat, mengingat mereka harus tiba di sekolah pada pukul 06.30 WIB.
Jaraknya hanya sekitar 248 meter dari pemukiman ke sekolah. Sementara itu, melalui jalur darat jaraknya mencapai sekitar 2,28 kilometer. Tawa dan canda selalu menjadi teman saat mereka naik rakit bambu menuju sekolah dan sebaliknya.

“Kalau muterAgak jauh juga, karena sudah pernah dari kelas 1. Tapi sekarang menggunakan perahu terlebih dahulu karena lebih…cepet. Enggakkhawatir karena sudah terbiasa,” kata Imam.
Kehadiran perahu bambu tersebut sangat dihargai oleh Santi Nur Setiani, orang tua siswa. Alat transportasi air tradisional dari bahan bambu ini setiap hari membawa anaknya pergi dan kembali ke sekolah agar bisa mendapatkan pendidikan di sekolah negeri.
Biasanya sekitar pukul 6 lebih sudah berangkat dari rumah. Jika perjalanannya jauh, maka begitu saja.nggakada kendaraan bermotor juga. Jadi lebih mudah datang ke sinicepet,” ujar dia.
Kekhawatiran pasti dirasakan Santi saat melepas keberangkatan dan menunggu kembalinya anak keduanya dari SDN Budiharja. Karena air yang harus dilewati anaknya dengan menggunakan perahu bambu tersebut cukup dalam. Sehingga harapannya suatu hari nanti akan ada jembatan yang menghubungkan desanya dengan sekolah.
“Ya, khawatir takut terjatuh. Saat musim hujan, dia suka bermain-main, bercanda dengan teman-temannya saat naik rakit. Yang diinginkan adalah adanya jembatan,” kata Santi.
Agus Sumpena, ketua RT 05, RW 02 Desa Budiharja, menjadi salah satu saksi perjuangan para siswa di daerahnya dalam mengejar ilmu dengan cara menyeberangi air Waduk Saguling menggunakan perahu dari bambu. Ia bersama masyarakat lainnya secara bergantian menarik perahu tersebut untuk mengantar anak-anak sekolah.
“Secara kebetulan saya dan beberapa warga bertugas mengantarkan mereka secara bergantian. Mengantar dan menjemput juga. Ini dilakukan secara sukarela untuk membantu anak-anak,” kata Agus.

Dulu, menurutnya, anak-anak diajak oleh orang tua mereka menggunakan rakit atau perahu sederhana masing-masing. Akibatnya, pihak sekolah akhirnya mengambil inisiatif untuk membuat rakit yang berukuran cukup besar yang dapat digunakan secara bersama-sama.
Rakit yang besar ini mampu menampung maksimal 20 anak jika kondisinya masih baik dan perairan Waduk Saguling tidak tertutup oleh eceng gondok. Jika mengalami kerusakan, warga secara mandiri memperbaiki atau membuat rakit yang baru.
“Ya, tidak tahan lama. Terkadang dua atau tiga tahun sudah rusak, lalu diganti lagi. Ini membeli bambu, masyarakat membuat rakit untuk keperluan penyeberangan anak sekolah,” ujar Agus.
Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik, mengatakan bahwa saat ini ada 16 siswa dari SD Negeri Budiharja yang masih menggunakan rakit. Mereka terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.
“Maka dari itu, agar perjalanan anak-anak tersebut lebih cepat dan semangat dalam bersekolah, saya mohon dibangun sebuah jembatan penyeberangan agar mempercepat dan memudahkan anak-anak menuju sekolah,” ujarnya.



