Seniman asal Berlin, Jerman, Christopher Lehmpfuhl memiliki pendekatan unik dalam menciptakan karya seni lukis. Daripada menggunakan kuas, ia lebih memilih mengandalkan jari-jarinya secara langsung untuk mengolah cat dan membentuk objek yang diinginkan. Teknik ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan metode tradisional.
Bagi Christopher, cara melukis dengan tangan sendiri membuatnya merasa lebih dekat dengan karya yang sedang dibuatnya. “Saya langsung menggunakan jari. Saya merasa bisa lebih menyatu dengan apa yang saya lukis ketika menggunakan jari,” ujarnya saat berbicara dalam acara Artist Talk di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (19/8).
Teknik melukis tanpa alat bantu ini menjadi bagian dari pendekatan Christopher terhadap seni plein air. Seni plein air adalah praktik melukis secara langsung di ruang terbuka, di mana lingkungan sekitar menjadi sumber inspirasi utama. Bagi Christopher, proses berkarya bukan hanya tentang menghasilkan gambar, tetapi juga pengalaman berinteraksi dengan tempat dan suasana yang ditemuinya.
Dalam kegiatan bertajuk “Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration”, Christopher menemukan adanya kesamaan antara komunitas pelukis plein air di Jerman dengan para seniman lukis di Indonesia. Ia melihat kesamaan ini sebagai jembatan untuk mempererat hubungan antara seniman dari kedua negara.
“Saya kalau bepergian ke negara lain dan menemukan orang-orang yang melakukan hal yang sama, akan membuat saya merasa sangat akrab,” katanya.
Christopher menjelaskan bahwa para pelukis plein air di Jerman biasanya melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk melukis secara langsung di lokasi. Setelah menyelesaikan karyanya, mereka kemudian membawanya ke ruang pameran untuk diperlihatkan ke publik. Contohnya adalah komunitas Norddeutsche Realisten atau Realis Jerman Utara yang ia ikuti. Komunitas ini secara rutin bepergian ke sejumlah lokasi dan mengabadikan pemandangan maupun lingkungan sekitar melalui lukisan yang dibuat langsung di tempat.
Menurut Christopher, pengalaman bertemu dan bekerja bersama sejumlah seniman Indonesia menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bahasa bersama yang melampaui perbedaan. Kesamaan metode berkarya membuat proses pertukaran budaya terasa lebih dekat, meski masing-masing seniman tetap memiliki latar belakang dan sudut pandang yang berbeda.
Perbedaan perspektif justru menjadi bagian penting dalam kolaborasi tersebut. Ketika seniman Indonesia dan Jerman mengamati objek atau lanskap yang sama, hasil lukisannya tidak selalu serupa. Setiap seniman membawa pengalaman, karakter, serta cara pandang masing-masing ke dalam karya.
“Menurut saya menarik melihat bagaimana mereka terinspirasi oleh motif yang sama, tetapi menafsirkannya dengan cara yang berbeda,” ungkap Christopher.
Christopher Lehmpfuhl melakukan kegiatan berkarya bersama sejumlah seniman Tanah Air selama sekitar 2 minggu beberapa bulan lalu. Mereka melukis di ruang terbuka mulai dari Jakarta, Cisarua, Borobudur hingga Pacitan. Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karya yang menonjolkan tekstur, warna, gerak, cahaya, serta karakter setiap lanskap.
Christopher Lehmpfuhl menggunakan teknik impasto dengan lapisan cat tebal yang diaplikasikan secara langsung menggunakan tangan. Beberapa karyanya terinspirasi dari keindahan Monumen Nasional (Monas) dan sejumlah gedung di sampingnya.
Sejumlah lukisan karya Christopher Lehmpfuhl kini dipamerkan oleh SBY Art Community dengan mengusung tajuk “Art for Peace and a Better Future: Collaboration”. Pameran tersebut berlangsung di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 18-30 Agustus 2026.



