Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 23 Agustus 2026
Trending
  • Xiaomi 18 Pro Kian Dekat, Lolos Sertifikasi 3C di Tiongkok
  • Sejarah Orang utan Solo Safari Lepas, Pengaman Listrik Rusak hingga Warung Hancur
  • Hong Min Gi dan 8 Bintang Korea Terlibat Skandal Mantan Pacar
  • Pengembangan Panas Bumi Lampung dan Sulut Capai 45 MW Listrik
  • 5 Peran Kunci Ki Yeong Do dalam A Bona Fide Killer
  • Pengumuman Harga BBM 21 Agustus 2026, Pekerja Karanganyar Beralih ke Pertalite
  • Rahasia Farida Mengatasi Gugup di DBL 2026: Ritual Al-Insyirah dan Dukungan Keluarga
  • 7 Hal yang Akan Terungkap tentang Pasanganmu Saat Berlibur Bersama, Menurut Psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»7 Perilaku Merusak Berkembangnya Karyawan di Lingkungan Kerja Jarak Jauh
Nasional

7 Perilaku Merusak Berkembangnya Karyawan di Lingkungan Kerja Jarak Jauh

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover22 Agustus 2026Tidak ada komentar8 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Bekerja secara remote menawarkan berbagai manfaat yang sangat menarik. Fleksibilitas waktu, kebebasan dalam memilih lingkungan kerja, pengurangan waktu perjalanan, serta kesempatan untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah beberapa di antaranya. Namun, fleksibilitas ini juga membawa tantangan psikologis yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang.

Ketika bekerja dari rumah atau lokasi lain tanpa adanya pengawasan langsung, seseorang memiliki lebih banyak kebebasan dalam menentukan bagaimana ia menjalani pekerjaannya. Kebebasan ini bisa menjadi kekuatan besar, tetapi juga dapat menjadi jebakan jika seseorang mengembangkan perilaku yang menghambat pertumbuhan dirinya sendiri.

Dalam psikologi kerja, perkembangan karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Faktor seperti regulasi diri, motivasi, hubungan sosial, kemampuan menerima umpan balik, rasa memiliki terhadap pekerjaan, dan kemampuan beradaptasi juga memainkan peran penting. Berikut ini adalah tujuh perilaku yang dapat merusak perkembangan seseorang dalam lingkungan kerja remote, beserta alasan psikologis mengapa perilaku tersebut berbahaya:

1. Terlalu Sering Bekerja dalam Mode “Autopilot”

Salah satu jebakan terbesar dalam pekerjaan remote adalah menjalani pekerjaan secara otomatis. Seseorang bangun, membuka laptop, membaca pesan, mengerjakan tugas, menghadiri meeting, menyelesaikan pekerjaan, lalu mengulanginya kembali keesokan hari. Secara produktivitas mungkin terlihat baik, tetapi secara perkembangan pribadi ia bisa berhenti bertumbuh.

Masalahnya bukan pada rutinitas itu sendiri. Rutinitas justru dapat membantu produktivitas. Masalah muncul ketika seseorang berhenti bertanya:

– Apa yang sebenarnya sedang saya pelajari?

– Apakah kemampuan saya berkembang?

– Apa yang bisa saya lakukan lebih baik?

– Apakah pekerjaan saya masih membawa saya menuju tujuan karier?

– Apa kontribusi saya yang paling bernilai?

Dalam psikologi, perkembangan membutuhkan proses refleksi. Tanpa refleksi, pengalaman belum tentu berubah menjadi pembelajaran. Lingkungan remote dapat memperbesar masalah ini karena seseorang lebih jarang mendapatkan interaksi spontan yang biasanya terjadi di kantor. Di kantor, seseorang mungkin belajar hanya karena mendengar percakapan rekan kerja, melihat cara senior menangani masalah, atau mendapatkan masukan secara informal. Dalam remote working, pengalaman belajar tersebut harus lebih sengaja diciptakan.

Apa yang bisa dilakukan?

Luangkan waktu secara berkala untuk melakukan evaluasi:

“Apa kemampuan baru yang saya miliki dibandingkan enam bulan lalu?”

Jika jawabannya sulit ditemukan, mungkin sudah waktunya mengubah pola kerja.

2. Mengisolasi Diri Secara Sosial

Bekerja remote memang memberikan kesempatan untuk bekerja dengan lebih tenang. Namun, kebebasan tersebut bisa berubah menjadi isolasi sosial. Seseorang mungkin merasa: “Saya tidak perlu terlalu banyak berinteraksi. Yang penting pekerjaan selesai.” Dalam jangka pendek, hal tersebut terasa efisien. Namun, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Hubungan interpersonal juga memiliki peran penting dalam kesejahteraan psikologis dan perkembangan profesional.

Dalam lingkungan kantor tradisional, interaksi sosial sering terjadi secara alami. Ada percakapan sebelum meeting, makan siang bersama, diskusi spontan, atau sekadar bertanya kepada rekan kerja. Dalam lingkungan remote, sebagian besar interaksi harus dilakukan secara sengaja. Jika seseorang hanya berkomunikasi ketika ada tugas, lama-kelamaan hubungan dengan rekan kerja dapat menjadi sangat transaksional.

Apa yang bisa dilakukan?

Bangun interaksi sosial secara sengaja. Tidak harus selalu membicarakan pekerjaan. Sesekali tanyakan kabar rekan kerja, lakukan virtual coffee chat, berdiskusi mengenai ide, atau berinisiatif membantu anggota tim. Hubungan profesional yang kuat tidak selalu dibangun melalui percakapan besar. Sering kali ia terbentuk dari interaksi kecil yang konsisten.

3. Menghindari Feedback karena Merasa Tidak Nyaman

Feedback sering terasa mengancam ego. Ketika seseorang mendapatkan kritik, respons psikologis yang muncul bisa berupa defensif: “Saya sudah melakukan yang terbaik.” atau “Mereka memang tidak memahami pekerjaan saya.” Masalahnya, jika seseorang terus menghindari feedback, ia kehilangan salah satu sumber pembelajaran terpenting.

Dalam lingkungan remote, masalah ini bisa semakin besar karena feedback spontan lebih jarang terjadi. Atasan mungkin hanya memberikan evaluasi dalam meeting tertentu, sementara rekan kerja tidak selalu tahu kapan seseorang membutuhkan bantuan. Seseorang yang tidak aktif meminta feedback akhirnya bisa membangun persepsi yang keliru mengenai kemampuan dirinya sendiri.

Cara mengubah perilaku

Daripada bertanya: “Apakah pekerjaan saya sudah bagus?” cobalah bertanya lebih spesifik: “Apa satu hal yang menurut Anda bisa saya tingkatkan dari pekerjaan ini?” Pertanyaan yang spesifik biasanya menghasilkan feedback yang lebih berguna. Yang paling penting, jangan langsung membela diri. Dengarkan terlebih dahulu. Feedback tidak harus selalu benar, tetapi hampir selalu dapat menjadi data untuk dipertimbangkan.

4. Menunda Pekerjaan karena Tidak Ada Pengawasan Langsung

Salah satu tantangan psikologis dalam remote working adalah hilangnya pengawasan langsung. Di kantor, keberadaan orang lain dapat menciptakan tekanan sosial tertentu. Ketika bekerja dari rumah, seseorang bisa membuka laptop sambil berada di kamar, sofa, atau tempat lain yang penuh distraksi. Akibatnya, procrastination menjadi lebih mudah terjadi.

Seseorang mungkin berkata: “Nanti saja saya kerjakan.” Kemuadian membuka media sosial. Lima belas menit berubah menjadi satu jam. Setelah itu muncul rasa bersalah. Karena pekerjaan belum selesai, seseorang bekerja lebih lama pada malam hari. Siklusnya menjadi: menunda → cemas → bekerja terburu-buru → kelelahan → kehilangan motivasi → menunda lagi.

Apa yang bisa dilakukan?

Jangan selalu mengandalkan motivasi. Buat struktur eksternal: tentukan jam mulai kerja; pecah tugas besar menjadi langkah kecil; gunakan deadline antara; matikan notifikasi yang tidak penting; buat daftar prioritas harian; gunakan sesi kerja dengan durasi tertentu. Tujuannya bukan membuat hidup menjadi kaku, tetapi membantu otak mengurangi keputusan yang tidak perlu.

5. Tidak Memisahkan Identitas Diri dari Pekerjaan

Remote working dapat membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur. Laptop berada di rumah. Notifikasi pekerjaan masuk ke ponsel. Email bisa dibaca ketika sedang makan malam. Meeting bisa berlangsung dari ruang pribadi. Akibatnya, seseorang dapat mulai merasa bahwa ia selalu sedang bekerja.

Lebih jauh lagi, identitas pribadi dapat terlalu melekat pada performa profesional. Ketika mendapatkan pujian: “Saya berhasil.” Ketika melakukan kesalahan: “Saya gagal.” Padahal, melakukan kesalahan bukan berarti menjadi orang yang gagal. Ini merupakan perbedaan penting secara psikologis.

Apa yang bisa dilakukan?

Buat ritual untuk mengakhiri hari kerja. Misalnya: menyelesaikan pekerjaan yang paling penting; mencatat tugas untuk esok hari; menutup aplikasi kerja; mematikan notifikasi; meninggalkan ruang kerja. Yang lebih penting, bangun identitas di luar pekerjaan. Seseorang bukan hanya pekerjaannya. Ia juga bisa menjadi teman, pasangan, anggota keluarga, pembelajar, kreator, atlet, pembaca, atau manusia yang memiliki berbagai kepentingan dan nilai.

6. Terlalu Takut Terlihat “Tidak Online”

Ironisnya, remote working dapat membuat sebagian orang justru bekerja terlalu keras untuk membuktikan bahwa mereka sedang bekerja. Karena atasan tidak melihat mereka secara langsung, muncul kecemasan: “Apakah mereka tahu saya benar-benar bekerja?” Akhirnya seseorang merasa harus selalu online. Pesan langsung harus segera dibalas. Status harus selalu aktif. Meeting dianggap sebagai bukti produktivitas. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan penting, seseorang tetap merasa harus terlihat sibuk.

Ini dapat menciptakan productivity theater—situasi ketika seseorang lebih fokus menunjukkan bahwa dirinya produktif daripada benar-benar menghasilkan pekerjaan yang bernilai.

Apa yang lebih sehat?

Fokus pada outcome, bukan sekadar online presence. Komunikasikan pekerjaan secara jelas: apa yang sudah selesai; apa yang sedang dikerjakan; apa hambatannya; kapan pekerjaan berikutnya selesai. Dengan begitu, kepercayaan dibangun melalui transparansi dan hasil, bukan melalui status “online” sepanjang hari.

7. Berhenti Belajar karena Merasa “Yang Penting Pekerjaan Selesai”

Ini mungkin perilaku yang paling berbahaya dalam jangka panjang. Ketika seseorang sudah nyaman bekerja remote, ia bisa masuk ke zona nyaman. Pekerjaan selesai. Gaji masuk. Tidak ada masalah besar. Kemudian muncul pikiran: “Untuk apa belajar lagi? Toh pekerjaan saya selama ini baik-baik saja.”

Masalahnya, dunia kerja berubah. Teknologi berubah. Cara organisasi bekerja berubah. Kebutuhan pasar berubah. Kemampuan yang relevan hari ini belum tentu memiliki nilai yang sama beberapa tahun kemudian. Dalam psikologi perkembangan, manusia membutuhkan pengalaman baru, tantangan, dan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.

Apa yang bisa dilakukan?

Jadikan pekerjaan sebagai tempat untuk terus belajar. Misalnya: belajar menggunakan teknologi baru; meminta proyek yang sedikit lebih menantang; mengikuti pelatihan; membaca buku atau jurnal; berdiskusi dengan orang yang lebih berpengalaman; mencoba metode kerja baru; mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan. Tidak harus selalu belajar sesuatu yang besar. Kemajuan kecil yang dilakukan konsisten jauh lebih berharga daripada menunggu motivasi untuk melakukan perubahan besar.

Penutup: Remote Working Membutuhkan Kematangan Diri

Kerja remote bukan sekadar perubahan lokasi kerja dari kantor ke rumah. Ia mengubah cara seseorang mengelola waktu, perhatian, hubungan sosial, motivasi, batas pribadi, dan perkembangan karier. Karena pengawasan langsung lebih sedikit, seseorang harus memiliki kemampuan regulasi diri yang lebih baik.

Tujuh perilaku yang perlu diwaspadai adalah: bekerja dalam mode autopilot; mengisolasi diri secara sosial; menghindari feedback; menunda pekerjaan; mencampurkan identitas diri dengan pekerjaan; terlalu takut terlihat tidak online; berhenti belajar karena merasa sudah cukup.

Hal yang menarik adalah bahwa sebagian besar perilaku tersebut pada awalnya terasa nyaman. Menunda terasa menyenangkan untuk sementara. Tidak meminta feedback terasa lebih aman. Tidak berinteraksi terasa lebih mudah. Tetap online terasa seperti bentuk tanggung jawab. Melakukan pekerjaan yang sama terasa nyaman. Namun, kenyamanan jangka pendek tidak selalu menghasilkan perkembangan jangka panjang.

Dalam lingkungan kerja remote, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya: “Apakah saya berhasil menyelesaikan pekerjaan hari ini?” Tetapi juga: “Apakah cara saya bekerja hari ini membuat saya menjadi pribadi dan profesional yang lebih baik daripada sebelumnya?”

Jika jawabannya ya, fleksibilitas remote working dapat menjadi salah satu lingkungan terbaik untuk berkembang. Namun jika jawabannya tidak, mungkin masalahnya bukan pada sistem kerja remote. Mungkin ada pola perilaku yang perlu disadari, dievaluasi, dan perlahan diubah.

Pada akhirnya, perkembangan profesional tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang kita selesaikan, tetapi juga oleh seberapa banyak kita belajar, beradaptasi, membangun hubungan, menjaga kesehatan batas diri, dan berkembang melalui pekerjaan tersebut.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 Peran Kunci Ki Yeong Do dalam A Bona Fide Killer

22 Agustus 2026

7 Hal yang Akan Terungkap tentang Pasanganmu Saat Berlibur Bersama, Menurut Psikologi

22 Agustus 2026

Pengembangan Panas Bumi Lampung dan Sulut Capai 45 MW Listrik

22 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Xiaomi 18 Pro Kian Dekat, Lolos Sertifikasi 3C di Tiongkok

23 Agustus 2026

Sejarah Orang utan Solo Safari Lepas, Pengaman Listrik Rusak hingga Warung Hancur

22 Agustus 2026

Hong Min Gi dan 8 Bintang Korea Terlibat Skandal Mantan Pacar

22 Agustus 2026

Pengembangan Panas Bumi Lampung dan Sulut Capai 45 MW Listrik

22 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?