Ringkangan Berita
Pada 7 Juli 2026, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz diserang oleh pesawat tanpa awak (UAV) tak dikenal. Serangan ini dilaporkan oleh Badan Keamanan Maritim Inggris melalui Pusat Operasi Perdagangan Maritim (UKMTO). Kapal yang diserang mengalami kerusakan struktural ringan, namun tidak ada korban jiwa atau dampak lingkungan yang dilaporkan.
Kapal LNG milik Qatar, Al-Rekayyat, juga menjadi korban serangan sebelumnya. Serangan terhadap kapal tersebut menyebabkan kebakaran di sisi kiri kapal dekat ruang mesin. Meskipun kapal sempat berisiko meledak, seluruh awak berhasil selamat setelah mengirimkan sinyal bahaya. Tidak ada korban luka dalam ketiga insiden tersebut.
Lokasi serangan berada sekitar 8 mil laut timur Limah, Oman, atau dekat perairan yang pernah diusulkan sebagai jalur alternatif. Insiden ini menambah deretan serangan besar sejak gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran ditandatangani.
Respons Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan pernyataan tegas saat mengunjungi pangkalan angkatan laut di Haifa. Ia menegaskan bahwa tujuan Angkatan Laut Israel adalah memastikan rute pelayaran dan kebebasan perdagangan maritim, yang sangat penting bagi Negara Israel.
Netanyahu tidak menyebutkan langkah militer langsung Israel di Selat Hormuz, tetapi pernyataannya menegaskan komitmen Israel untuk melindungi kepentingan maritimnya di tengah ketegangan regional. Israel sebelumnya sering mengkritik kesepakatan AS-Iran karena dianggap kurang memberikan konsesi konkret dari Teheran terkait program nuklirnya.
Qatar Tuntut Pertanggungjawaban Iran
Qatar, yang berperan sebagai mediator dalam berbagai isu regional, mengecam keras serangan terhadap kapalnya. Kecaman ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari.
“Penargetan kapal Qatar ‘Al-Rekayyat’ saat melintas di dekat Selat Hormuz merupakan serangan yang tidak dapat diterima terhadap keamanan dan keselamatan navigasi maritim internasional,” tegas Al Ansari.
“Kami menganggap Iran sepenuhnya bertanggung jawab secara hukum atas serangan ini dan atas segala kerusakan atau dampak yang diakibatkannya,” sambungnya. Qatar bahkan memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan nota protes resmi terkait serangan yang juga menyasar kapal Al-Rekayyat milik negara tersebut.
Latar Belakang: Blokade Terbaru
Sejak awal konflik antara Iran dan koalisi AS-Israel meluas, Iran sempat memberlakukan blokade de facto di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga energi global. Situasi sempat mereda setelah gencatan senjata dan penandatanganan Islamabad Memorandum of Understanding (MoU) antara AS dan Iran sekitar bulan Juni 2026.
MoU tersebut mencakup komitmen Iran untuk membuka Selat Hormuz bagi kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari, penghentian serangan militer, dan pembicaraan lanjutan mengenai program nuklir serta sanksi. Namun demikian, isi MoU tersebut hingga kini masih menuai perdebatan karena Iran sempat mengusulkan biaya “layanan” bagi kapal transit, yang ditentang pihak lain.
Oman juga pernah mengusulkan jalur alternatif di sepanjang pantainya, tetapi inisiatif itu menghadapi penolakan dari Iran. Serangan terbaru ini dinilai sebagai pelanggaran terhadap semangat MoU tersebut.
Akibat Serangan
Akibat serangan ini, AS pun dilaporkan melancarkan serangan balik dan mencabut izin penjualan minyak Iran. Harga minyak dunia pun naik lebih dari 3 persen pasca-insiden terbaru di Selat Hormuz tersebut.



