Warisan Keahlian Pemasangan Membran Rapai Pase yang Menghidupkan Budaya Aceh Utara
Hasan Kadir, seorang ahli pemasangan membran rapai dari Aceh Utara, mewarisi keahlian langka dari sang legenda Utoh Muhammad Diyah. Proses pembuatan membran ini melibatkan teknik rumit yang mencakup pengolahan kulit sapi lokal hingga penggunaan material kayu laban. Keahlian ini menjadi krusial bagi berbagai grup musik tradisional di Aceh Utara dalam persiapan kompetisi budaya.
Selain aspek teknis, terdapat unsur ritual adat yang masih dipertahankan dalam proses pemasangan alat musik tersebut. Hasan Kadir, anak kedua dari empat bersaudara pasangan Kadir dan Rupiah, berasal dari Desa Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara. Ia telah puluhan tahun dikenal sebagai ahli pemasangan membran rapai yang menggunakan kulit sapi lokal Aceh yang telah melalui proses penjemuran dan pengasapan panjang.
Keahliannya membuat berbagai kelompok rapai dari sejumlah daerah mempercayakan pemasangan membran kepadanya, termasuk grup rapai dari Matang Kupula (Aceh Timur), Kemukiman Buwah (Aceh Utara), Kemukiman Geulumpang Tujoh (Matangkuli), Desa Peureupok (Syamtalira Aron), serta berbagai grup lainnya di Aceh Utara.
“Pada 2025 menjelang Agustus, saya menerima banyak pemasangan kulit rapai dari Syamtalira Aron, ada puluhan saat itu,” kata Hasan kepada Indonesiadiscover.com di sebuah warung kopi kawasan Syamtalira Aron.
Menurutnya, saat itu banyak grup rapai mempersiapkan diri mengikuti lomba Meu Uroh dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.
Proses Pemasangan yang Rumit
Memasang membran rapai bukan pekerjaan sederhana. Salah satu komponen penting adalah bingke, yaitu lingkaran bambu untuk merekatkan kulit sapi pada bagian muka rapai. Bambu terlebih dahulu direndam sekitar 10 hari, lalu diasapi selama 10 hari hingga kuat dan lentur. Selain itu digunakan pateng atau pasak dari kayu laban yang dipilih karena keras, tahan air, dan tahan rayap. Ada juga nuga, alat dari kayu untuk memukul atau mengetuk pasak.
“Untuk memasang satu membran rapai dibutuhkan minimal tiga orang dan waktu sekitar satu hari penuh,” ujar Hasan. Pekerjaan biasanya dilakukan di tanah padat agar 12 pasak yang ditancapkan mampu menahan tarikan kulit selama proses pengencangan.
Kualitas Kulit Menentukan Suara
Menurut Hasan, setiap rapai memiliki karakter berbeda, sehingga jenis kulit sapi yang digunakan juga harus disesuaikan agar menghasilkan suara yang tepat. Ia juga menekankan pentingnya proses pemilihan sapi. Sapi lokal Aceh dengan bulu halus menjadi pilihan utama. Bahkan, pola makan sapi turut diperhatikan karena berpengaruh pada kualitas kulit.
“Kalau lembu makan pakan buatan, kualitas kulitnya biasanya kurang bagus. Saat dijadikan membran, kulitnya seperti karet dan tidak bagus ketika ditabuh,” katanya. Sapi yang dipilih umumnya berbobot 100–120 kilogram, dengan kulit mencapai 22–24 kilogram. Setelah disembelih, pengulitan harus dilakukan sangat hati-hati karena goresan kecil dapat merusak kualitas membran.
Kulit kemudian dijemur sekitar satu bulan, dilanjutkan pengasapan selama enam bulan. Setelah itu, bulu dibersihkan menggunakan pelepah kelapa yang diruncingkan dengan bantuan pasir sebagai penggosok hingga bersih.
Pengalaman Unik dan Unsur Ritual
Selama puluhan tahun bekerja, Hasan pernah mengalami kejadian tak biasa saat pemasangan membran pada salah satu rapai milik grup ternama. Setelah pemasangan selesai, kulit rapai tiba-tiba terlepas dan seluruh pasak terangkat. Belakangan ia mengetahui bahwa pemasangan tersebut seharusnya didahului ritual tertentu. Setelah dilakukan ritual dan penyembelihan ayam di dalam baloh rapai, proses pemasangan kembali dilakukan dan berjalan lancar.
“Saya sendiri terkejut waktu itu. Setelah ritual dilakukan, baru pemasangan berhasil,” kenangnya.
Upah dan Warisan Keahlian
Hasan mulai menekuni pemasangan membran Rapai Pase dan Rapai Geleng sejak usia sekitar 40 tahun. Untuk setiap pemasangan, ia menerima upah antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per rapai. Keahlian tersebut ia peroleh dari mertuanya, almarhum Utoh Muhammad Diyah, yang dikenal sebagai salah satu legenda perajin Rapai Pase di Aceh Utara. Diyah bersama beberapa warga Lapang pernah memproduksi 14 unit rapai sebelum tsunami Aceh sekitar tahun 2002.
Kini, dengan semakin sedikitnya generasi yang menguasai teknik ini, Hasan tetap bertahan. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga kelangsungan warisan budaya Rapai Pase yang telah hidup ratusan tahun di Tanah Pase.



