Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 23 Juni 2026
Trending
  • Lihat hal ini sebelum buat desain rumah terbuka
  • Seni Menikmati Kesendirian: 9 Kebiasaan yang Membuat Kesendirian Terasa Bebas, Bukan Kesepian
  • Mengapa Asuransi Mobil Audi Q8 Penting?
  • Cara Tukar Tambah Raket Padel di Blibli dengan Brand Adidas, SIUX, Babolat
  • BI naik ke 5,75%, penerbitan obligasi korporasi melambat
  • ASN Diduga Tipu Calon Pekerja, Pemkab Karanganyar Tetap Tenang, BKPSDM Belum Beri Sanksi
  • Rico Waas: Anggaran 10 Miliar Rupiah untuk Rehab Gedung Polrestabes Sudah Sesuai Prosedur
  • Link live streaming Timnas U19 vs Vietnam hari ini kick off 20.00 WIB, duel penentu tiket semifinal
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»BI naik ke 5,75%, penerbitan obligasi korporasi melambat
Ekonomi

BI naik ke 5,75%, penerbitan obligasi korporasi melambat

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover23 Juni 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kenaikan Suku Bunga BI dan Dampaknya pada Penerbitan Obligasi Korporasi

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75% berpotensi memengaruhi laju penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026. Tingginya biaya pendanaan membuat sebagian emiten lebih berhati-hati dalam mencari pendanaan melalui pasar obligasi, terutama untuk kebutuhan ekspansi dan investasi baru.

Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst dari Pefindo, menyatakan bahwa potensi perlambatan penerbitan obligasi korporasi pada semester II tetap ada, khususnya yang berasal dari emiten yang menerbitkan obligasi untuk ekspansi atau kebutuhan investasi baru. Jika prospek permintaan, margin, atau profitabilitas melemah, emiten cenderung menunda penerbitan, memperkecil ukuran emisi, atau memilih tenor yang lebih pendek untuk mengurangi beban kupon.

“Biaya pendanaan yang lebih mahal membuat proyek investasi harus menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi agar tetap layak,” ujar Ahmad.

Meski demikian, Ahmad menilai penerbitan obligasi korporasi tidak akan mengalami penurunan drastis. Pasalnya, kebutuhan refinancing masih cukup besar hingga akhir tahun. Data Pefindo menunjukkan total surat utang korporasi yang akan jatuh tempo sepanjang 2026 mencapai Rp 162,72 triliun. Dari jumlah tersebut, puncak jatuh tempo terjadi pada kuartal III sebesar Rp 63,95 triliun dan kuartal IV sebesar Rp 43,56 triliun.

“Artinya, semester II masih membawa kebutuhan pendanaan yang signifikan. Emiten yang memiliki jatuh tempo dalam waktu dekat tetap perlu masuk pasar, meskipun harus menerima kupon yang lebih tinggi,” jelasnya.

Sejauh ini, aktivitas penerbitan obligasi korporasi juga masih menunjukkan pertumbuhan. Hingga Mei 2026, nilai penerbitan obligasi korporasi secara kumulatif mencapai Rp 78,09 triliun atau meningkat 30,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 59,95 triliun. Namun Ahmad menilai kenaikan tersebut lebih banyak didorong oleh kebutuhan refinancing, prefunding, serta pengelolaan likuiditas perusahaan dibandingkan ekspansi bisnis baru.

Dengan kondisi suku bunga yang tinggi, pasar obligasi korporasi dinilai akan semakin selektif. Emiten berperingkat tinggi masih memiliki akses yang relatif baik, sedangkan emiten dengan profil kredit lebih lemah kemungkinan menghadapi premi risiko lebih besar.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan bahwa arah kupon obligasi korporasi pada semester II akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kebijakan suku bunga BI dan pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN). Menurutnya, BI Rate yang kini berada di level 5,75% berpotensi menjaga tingkat imbal hasil obligasi tetap tinggi dalam jangka pendek. Kondisi tersebut membuat investor akan meminta kompensasi risiko yang lebih besar saat membeli obligasi korporasi.

Selain itu, likuiditas domestik, kebutuhan penerbitan SBN pemerintah, serta kondisi fiskal juga akan menjadi faktor penting. Jika pasokan SBN meningkat di tengah likuiditas yang ketat, investor cenderung meminta kupon yang lebih tinggi untuk obligasi korporasi.

“Defisit fiskal dan pasokan SBN menjadi penting karena keduanya memengaruhi kompetisi penyerapan dana di pasar obligasi,” imbuhnya.

Di sisi eksternal, Ahmad menyebut pergerakan yield US Treasury (UST), arah dolar AS, harga energi, tensi geopolitik, serta stabilitas nilai tukar rupiah akan turut menentukan premi risiko di pasar obligasi. “Jika tekanan terhadap nilai tukar meningkat, investor biasanya akan meminta kompensasi yang lebih besar, terutama untuk obligasi korporasi dengan tenor yang lebih panjang,” tutupnya.

Penyesuaian mulai terlihat pada penerbitan obligasi korporasi berperingkat tinggi. Ahmad mencontohkan sektor multifinance yang mengalami kenaikan rata-rata kupon dalam beberapa bulan terakhir. Untuk obligasi korporasi berperingkat AAA tenor satu tahun, rata-rata kupon naik dari 4,84% pada kuartal I 2026 menjadi 5,10% pada periode April–Mei 2026. Sementara untuk tenor tiga tahun, rata-rata kupon meningkat dari 5,64% menjadi 5,95%.

Meski demikian, Ahmad menilai kenaikan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan yield SBN yang terjadi belakangan ini. Per 16 Juni 2026, yield SUN tenor dua tahun telah mencapai 7,07%, sedangkan yield SUN tenor 10 tahun berada di level 7,42%. “Dengan acuan tersebut, obligasi korporasi baru akan lebih menarik jika memberikan premi di atas SBN sesuai peringkatnya,” pungkasnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Prediksi Pertandingan Turki vs Paraguay di Piala Dunia 2026, Keduanya Kalah di Laga Pembuka

23 Juni 2026

Aturan Kerja Layak untuk Pekerja Aplikasi dan Ojol Resmi Dirilis, Ini Detailnya

23 Juni 2026

Alarm resesi berbunyi setelah BI rate tembus 5,75%

23 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Lihat hal ini sebelum buat desain rumah terbuka

23 Juni 2026

Seni Menikmati Kesendirian: 9 Kebiasaan yang Membuat Kesendirian Terasa Bebas, Bukan Kesepian

23 Juni 2026

Mengapa Asuransi Mobil Audi Q8 Penting?

23 Juni 2026

Cara Tukar Tambah Raket Padel di Blibli dengan Brand Adidas, SIUX, Babolat

23 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?