Langkah Tegas Sekolah di Tanahlaut Kalsel dalam Menghadapi Penggunaan HP Siswa
SMPN 3 Batibati dan SMAN 2 Kintap, dua sekolah di Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, telah mengambil langkah tegas dalam menghadapi penggunaan ponsel oleh siswa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan fokus belajar siswa tetap terjaga serta mencegah akses ke konten negatif di internet.
Pemakaian HP yang Tidak Terkontrol Menyebabkan Dampak Negatif
Kepala SMPN 3 Batibati, Faridah Dewisari, menjelaskan bahwa tiga siswa pernah dikenai sanksi karena menggunakan handphone tanpa izin. Ponsel mereka diamankan hingga berakhirnya ujian semester. “Kami amankan sementara sampai selesai ulangan umum atau ujian semester. Setelah itu baru bisa diambil kembali,” jelasnya.
Faridah menegaskan bahwa sanksi tersebut bukanlah bentuk hukuman, melainkan upaya memberikan efek jera agar aturan sekolah benar-benar dipatuhi. Selama masa pengamanan, kartu SIM tetap dikembalikan kepada pemiliknya.
Aturan yang Ketat dan Edukasi yang Rutin
Saat ini, siswa masih diperbolehkan membawa handphone ke sekolah, namun perangkat tersebut wajib dititipkan kepada guru piket ketika tiba di sekolah. Handphone hanya boleh digunakan apabila ada pembelajaran berbasis digital dan setelah itu kembali diamankan. Setelah selesai, gawai dititipkan lagi ke guru piket.
Selain menerapkan aturan disiplin, sekolah juga rutin memberikan edukasi mengenai bahaya penggunaan internet yang tidak bijak. Sosialisasi dilakukan kepada siswa maupun orang tua dengan melibatkan kepolisian, Koramil, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan tiap awal tahun ajaran baru.
Langkah Serupa di SMAN 2 Kintap
SMAN 2 Kintap juga menerapkan aturan serupa. Kepala sekolah Qonitah mengungkapkan bahwa sejak awal 2024, pihaknya memberlakukan aturan siswa dilarang membawa dan menggunakan handphone tanpa izin guru. Untuk mengawasi pelaksanaannya, sekolah menyediakan loker khusus penitipan handphone.
Siswa yang membawa gawai wajib menyimpannya selama jam pelajaran berlangsung dan hanya dapat menggunakannya apabila diperlukan untuk kegiatan pembelajaran. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan handphone yang tidak terkontrol lebih banyak membawa dampak negatif. Karena itu, sekolah mengambil kebijakan penitipan agar siswa lebih fokus belajar.
Peran Orang Tua dalam Pengawasan Anak
Di sisi lain, kalangan orang tua mengakui tantangan pengawasan anak di era digital semakin kompleks. Muhammad Irman, warga Pelaihari yang memiliki anak usia sekolah, menilai pelarangan total penggunaan handphone bukan solusi yang mudah diterapkan di lingkungan keluarga. Menurutnya, gawai sudah menjadi bagian dari kehidupan modern sehingga pendekatan yang lebih efektif adalah pendampingan dan edukasi berkelanjutan.
Irman mengaku lebih memilih membangun komunikasi dan memberikan pemahaman mengenai risiko konten negatif yang beredar di internet. Ia juga mendorong anak memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif seperti belajar membuat konten positif dan mengembangkan kreativitas digital.
Pendekatan Edukatif yang Efektif
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia (UI), Kasandra Putranto, menyebut sekolah dapat ikut menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gawai atau ponsel di ruang belajar melalui pendekatan edukatif dan kontekstual agar mudah dipahami siswa. Pendekatan tersebut membantu siswa memahami bahwa pembatasan gawai bukan bentuk hukuman, melainkan upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus dan sehat secara mental.
Sekolah bisa menerapkan prinsip ponsel disimpan selama jam pelajaran, kecuali apabila digunakan untuk kebutuhan pembelajaran. Sekolah juga dapat menetapkan zona bebas ponsel di area tertentu seperti ruang kelas dan perpustakaan. Selain itu, sekolah tetap dapat memberikan waktu penggunaan ponsel pada jam istirahat.
Strategi Positif yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University Dr. Yulina Eva Riany, mengatakan bahwa pendampingan dalam menggunakan media digital adalah strategi yang sangat penting dilakukan oleh orang tua. Berikut strategi positif yang dapat diterapkan oleh orang tua dalam mendampingi anak menggunakan perangkat digital dengan bijak di rumah:
Orangtua jadi “role model”
Orang tua harus menjadi model bagaimana menggunakan perangkat digital sehari-hari. Misalnya, tidak menggunakan perangkat digital setiap saat dan setiap waktu, tidak mengabaikan percakapan karena sedang mengakses media digital, meletakkan ponsel ketika sedang berkendara dan makan.Penuhi dengan interaksi
Interaksi positif menjadi sebuah kunci awal yang harus dilakukan oleh orang tua agar anak lepas dari ketergantungan pada gawai. Misalnya, mengajak anak membahas tentang sesuatu yang sedang viral di media sosial, tokoh yang sedang menjadi idola, atau aplikasi yang sedang marak digunakan oleh generasi milenial.Kesepakatan aturan main
Kesepakatan dalam memberlakukan aturan main penggunaan gawai sangatlah penting dibuat bersama-sama antara anak dan orangtua. Misalnya, jam berapa dan berapa lama durasi yang diperbolehkan untuk menggunakan gawai di luar kegiatan belajar online.Jadwalkan aktivitas
Membuat jadwal aktivitas harian yang jelas dapat mengarahkan anak untuk mengetahui aktivitas apa yang seharusnya dilakukannya sehari-hari. Orangtua pun jadi tak mudah lupa apa saja yang harus dilakukan dalam satu hari.



