Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 15 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Petani Gula Banyumas Siap Dukung Teknologi Tingkatkan Produksi
Teknologi

Petani Gula Banyumas Siap Dukung Teknologi Tingkatkan Produksi

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover8 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Petani Gula Kristal di Banyumas Menghadapi Perubahan dengan Teknologi

Di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Dakir telah menjalani pekerjaan sebagai penderes dan pengrajin gula semut selama puluhan tahun. Ia mengaku bahwa keberhasilan dalam mengolah nira menjadi gula kristal tidak selalu bergantung pada alat ukur atau teknologi modern. Pengalamannya yang terus-menerus memberikan rasa dan intuisi yang memadai untuk menentukan kualitas proses produksi.

Namun, kini situasi mulai berubah. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator dan kristalisator kepada para pengrajin gula semut di Kecamatan Cilongok. Program ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P, M.P., bersama tim dosen lintas bidang serta mitra akademik internasional.

Dakir menjadi salah satu peserta pelatihan tersebut. Ia mengakui bahwa pendekatan ilmiah yang diberikan UGM sangat bagus, tetapi ia juga menyadari bahwa petani selama ini lebih mengandalkan feeling dan pengalaman. Menurutnya, teknologi yang diperkenalkan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kualitas produksi gula semut. Namun, ia menilai keberhasilan penerapan teknologi tetap bergantung pada kemampuan pengguna dalam mengoperasikan alat tersebut.

Proses Produksi yang Membutuhkan Pengalaman

Bagi petani gula semut di Cilongok, mengolah nira menjadi gula kristal bukanlah hal mudah. Dakir mengatakan bahwa kesulitan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. “Kalau dibilang sulit ya sulit, tapi kalau dibilang tidak sulit juga tidak. Karena ini sudah menjadi pekerjaan sehari-hari dan sumber penghasilan kami,” ujarnya.

Selama ini, petani lebih mengandalkan pengalaman dibandingkan alat ukur dalam menentukan keberhasilan proses produksi. Feeling digunakan mulai dari proses pemasakan hingga menentukan apakah nira yang diolah berpotensi menjadi gula kristal atau justru harus diubah menjadi gula cetak. “Kalau feeling sudah mengatakan tidak jadi kristal, biasanya langsung dicetak. Jadi lebih banyak berdasarkan pengalaman, bukan mengukur dengan alat,” jelasnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam produksi gula semut adalah kualitas nira yang tidak selalu sama setiap hari. Menurut Dakir, kondisi cuaca sangat memengaruhi kualitas bahan baku yang diperoleh para penderes. “Kalau cuaca hujan atau berubah-ubah, kualitas niranya juga berbeda. Ada yang bagus, ada yang kurang bagus,” katanya.

Para pengrajin biasanya mencampur nira dari berbagai hasil sadapan agar kualitas bahan baku menjadi lebih merata. Langkah itu dilakukan agar peluang menghasilkan gula kristal lebih besar. “Kalau dipisah-pisah, ada yang tidak jadi. Karena itu biasanya dicampur jadi satu supaya hasilnya lebih bagus,” ujarnya.

Aktivitas Harian yang Melelahkan

Sebagai penderes aktif, Dakir mengaku setiap hari harus memanjat sekitar 20 hingga 21 pohon kelapa untuk mendapatkan bahan baku produksi. Dari aktivitas tersebut, ia mampu mengumpulkan sekitar 40 hingga 50 liter nira per hari. Jumlah itu kemudian diolah menjadi sekitar delapan kilogram gula semut atau gula kristal.

“Kurang lebih dapat 40 sampai 50 liter nira sehari. Dari situ biasanya jadi sekitar delapan kilogram gula kristal,” kata dia. Hasil produksi tersebut dijual kepada pengepul dengan harga mengikuti pasar. Saat ini harga gula semut yang diterimanya berada di kisaran Rp 21.500 per kilogram.

“Saya jual ke pengepul. Harganya sekarang sekitar Rp 21.500 per kilogram. Petani biasanya mengikuti harga dari pembeli,” tuturnya.

Teknologi dan Tradisi yang Harus Berjalan Bersama

Meski menyambut baik kehadiran teknologi dari UGM, Dakir menilai proses adaptasi tetap membutuhkan waktu. Menurutnya, selama ini pekerjaan membuat gula semut dapat dilakukan hampir semua anggota keluarga karena mengandalkan keterampilan yang sudah diwariskan turun-temurun. Sementara penggunaan mesin dan peralatan baru memerlukan pemahaman teknis tertentu.

“Kalau teknologi dan mesin tentu harus belajar lagi. Tapi semuanya bagus. Setiap orang punya pendapat masing-masing,” katanya. Dakir berharap inovasi yang diperkenalkan UGM dapat membantu meningkatkan kualitas dan produktivitas gula semut Banyumas tanpa menghilangkan pengetahuan tradisional yang selama ini menjadi modal utama para petani.

Baginya, pengalaman lapangan dan teknologi tidak harus saling menggantikan, melainkan dapat berjalan berdampingan untuk menghasilkan produk yang lebih baik. “Kalau cuacanya bagus, biasanya gula kristal juga jadi bagus. Yang penting petani tetap bisa bekerja dan hasilnya meningkat,” ujarnya.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya

11 Juli 2026

Waktu luang jadi ruang kreatif untuk modifikasi skutik murah

11 Juli 2026

Harga iPhone 17e 512GB Stabil, Ini Update Terbaru iPhone 17e dan Seri iPhone 17 iBox

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?