Kinerja Keuangan FAST pada Kuartal I-2026 Mencatat Peningkatan Signifikan
Perusahaan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), yang terafiliasi dengan Haji Isam, berhasil menunjukkan kinerja keuangan yang sangat positif sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangannya, FAST mampu mencatatkan laba sebesar Rp 13,28 miliar, berbanding rugi sebesar Rp 36,77 miliar pada kuartal yang sama di tahun sebelumnya.
Peningkatan ini juga terlihat dari pendapatan perusahaan yang melonjak sebesar 18,59% menjadi Rp 1,42 triliun pada periode Januari hingga Maret 2026, dibandingkan dengan pendapatan sebesar Rp 1,19 triliun pada kuartal I-2025. Pendapatan dari makanan dan minuman mencapai Rp 1,42 triliun, sementara jasa layanan antar meningkat menjadi Rp 1,07 miliar dari sebelumnya Rp 412 juta. Total penjualan mencapai Rp 1,42 triliun setelah dikurangi potongan penjualan sebesar Rp 6,7 miliar.
Perbaikan Kinerja Operasional
Selain itu, FAST juga berhasil memperbaiki kinerja operasionalnya. Laba usaha perusahaan naik menjadi Rp 30,13 miliar pada kuartal I-2026, berbalik dari rugi usaha sebesar Rp 35,96 miliar pada kuartal I-2025. Di sisi profitabilitas, laba bruto FAST meningkat menjadi Rp 824,52 miliar dari sebelumnya Rp 714,45 miliar. Meskipun beban pokok penjualan juga meningkat menjadi Rp 598,59 miliar dari sebelumnya Rp 485,50 miliar, perusahaan berhasil mengoptimalkan efisiensi operasional.
Beberapa pos beban operasional juga berhasil ditekan. Beban penjualan dan distribusi turun menjadi Rp 654,85 miliar dari sebelumnya Rp 657,30 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi turun menjadi Rp 141,32 miliar dari Rp 167,08 miliar. Di sisi lain, beban keuangan perusahaan juga turun menjadi Rp 22,56 miliar dari sebelumnya Rp 26,64 miliar.
Kinerja Laba dan Prospek Masa Depan
Dengan kinerja tersebut, FAST berhasil membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 9,58 miliar pada kuartal I-2026, berbanding rugi sebelum pajak sebesar Rp 62,15 miliar pada kuartal I-2025. Setelah memperhitungkan pajak penghasilan, laba periode berjalan perusahaan mencapai Rp 12,66 miliar, berbeda jauh dari rugi sebesar Rp 40,07 miliar pada kuartal I-2025.
Analis dari Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyatakan bahwa kembalinya FAST ke posisi laba didorong oleh kenaikan penjualan dan peningkatan efisiensi operasional. Pertumbuhan penjualan menunjukkan bahwa trafik konsumen mulai pulih dan strategi promosi masih efektif dalam menjaga permintaan. Selain itu, kemungkinan ada perbaikan dalam manajemen biaya, termasuk pengendalian bahan baku, sehingga margin profitabilitas ikut meningkat.
Kontribusi dari diversifikasi merek seperti Yum! Brands melalui Taco Bell juga mulai memberikan dampak positif terhadap pendapatan berulang perusahaan.
Prospek Kinerja FAST Hingga Akhir Tahun
Elandry mengungkapkan bahwa prospek kinerja FAST hingga akhir tahun masih memiliki peluang untuk terus membaik secara bertahap, terutama jika daya beli masyarakat tetap terjaga dan konsumsi domestik meningkat pada semester II-2026. Momentum musiman seperti liburan sekolah dan akhir tahun, serta program promosi, dapat menjadi penopang penjualan.
Namun, tantangan tetap ada, seperti tekanan harga bahan baku, kenaikan biaya operasional, persaingan industri F&B yang ketat, serta sensitivitas belanja konsumen terhadap kondisi ekonomi dan inflasi.
“Recovery story FAST masih berjalan, tetapi belum sepenuhnya solid,” ujar Elandry.
Sementara itu, Abdul Azis dari Equity Research Kiwoom Sekuritas menyampaikan bahwa prospek FAST hingga akhir 2026 masih menghadapi tantangan, terutama dari daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya dan persaingan industri F&B yang ketat. Namun, strategi efisiensi dan inovasi produk dapat membantu menjaga kinerja perusahaan.
Analisis Saham FAST
Azis menilai bahwa kinerja laba yang membaik dapat menjadi sentimen positif bagi saham FAST, meski pasar tetap menantikan konsistensi pemulihan bisnis ke depan. Elandry berpendapat bahwa perbaikan kinerja keuangan dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham FAST, terutama untuk memperbaiki sentimen pasar yang sebelumnya tertekan.
Namun, pergerakan saham kemungkinan masih dipengaruhi oleh konsistensi turnaround pada kuartal-kuartal berikutnya. Investor saat ini cenderung menunggu bukti bahwa perbaikan laba bukan hanya faktor musiman, tetapi didukung oleh pemulihan fundamental yang berkelanjutan.
Dengan demikian, potensi rebound tetap ada, meski volatilitas sahamnya kemungkinan masih cukup tinggi dalam jangka pendek. FAST lebih cocok untuk trading buy dengan pendekatan speculative buy bagi investor dengan profil risiko agresif. Sentimen jangka pendek didukung ekspektasi pemulihan kinerja dan peningkatan sales growth.
Untuk target harga, FAST berpotensi bergerak di area Rp 250–Rp 280 dengan support di sekitar Rp 200. Investor tetap perlu mencermati keberlanjutan margin dan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan penjualan ke depan.


