Kehidupan di Tengah Banjir Rob yang Tak Pernah Berakhir
Kondisi memprihatinkan dialami sebuah keluarga di wilayah pesisir timur Kabupaten Cirebon. Selama lebih dari tiga tahun, mereka harus bertahan hidup di rumah yang tak pernah benar-benar terbebas dari banjir rob. Rumah sederhana bercat hijau milik Salman Alfarisi (40) terus digenangi air laut yang masuk ke dalam rumah setiap hari.
Salman tinggal bersama kedua orang tua serta seorang saudaranya. Mereka menjalani aktivitas sehari-hari di tengah genangan air dengan ketinggian sekitar 70 sentimeter. Untuk beristirahat pada malam hari, keluarga itu terpaksa meninggikan amben agar tubuh mereka tidak langsung bersentuhan dengan air rob yang memenuhi lantai rumah.
“Ya, ini seperti terendam banjir terus, Pak. Tiap hari enggak surut-surut,” ujar Salman saat diwawancarai, Selasa (26/5/2026) malam.
Bagi Salman, banjir rob kini bukan lagi peristiwa musiman yang datang sesekali. Air laut sudah menjadi bagian yang terus hadir di dalam rumahnya. Selama lebih dari tiga tahun, keluarga tersebut hidup berdampingan dengan air keruh yang menggenangi hampir seluruh bagian rumah.
“3 tahun lebih, Pak. Iya, lebih malah,” ucapnya lirih saat ditanya mengenai lamanya banjir belum surut.
Dari pantauan di lokasi, kondisi rumah Salman tampak sangat memprihatinkan. Air keruh merendam ruang tamu, kamar tidur hingga area dapur. Sejumlah perabot rumah tangga ikut terendam, mulai dari kursi plastik, rak piring, tabung gas LPG hingga berbagai perlengkapan rumah lainnya.
Di dalam kamar tidur, sebuah amben kayu sengaja dibuat lebih tinggi agar tetap bisa dipakai untuk tidur. Kasur diletakkan di atas permukaan yang lebih tinggi, sementara kaki tempat tidur masih terendam air rob.
“Tidurnya di atas air,” jelas dia, pelan.
Ucapan singkat tersebut menggambarkan beratnya kehidupan yang dijalani keluarga itu selama bertahun-tahun. Setiap malam, mereka harus beristirahat di atas amben sambil mendengar suara cipratan air dari genangan yang memenuhi rumah.
Untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, Salman bersama keluarganya harus berjalan perlahan menembus genangan di dalam rumah sendiri. Kondisi tersebut membuat aktivitas harian menjadi terbatas dan jauh dari rasa nyaman.
“Ya, terganggu sih Pak aktivitasnya,” katanya.
Tak hanya menghambat kegiatan sehari-hari, lingkungan rumah yang lembab dan kotor juga meningkatkan risiko penyakit kulit maupun infeksi bagi keluarga Salman. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman kini berubah menjadi lokasi yang rawan terhadap gangguan kesehatan.
Salman mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah terkait kondisi banjir rob di wilayah pesisir Desa Ambulu. Namun hingga kini, ia belum merasakan adanya penanganan yang benar-benar mampu mengatasi persoalan tersebut.
“Harapannya ya jangan sampai banjir lagi lah, Pak,” ujarnya penuh harap.
Dari pantauan di lokasi, berbagai barang rumah tangga terlihat sengaja dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi agar tidak ikut terendam air. Sebuah kursi plastik bahkan diletakkan di atas meja untuk menopang ember dan peralatan dapur lainnya supaya aman dari genangan. Di ruang keluarga, televisi tabung disimpan di atas meja kayu agar tidak terkena air yang merendam lantai rumah.
Sementara di sudut ruangan lain, tabung gas LPG dan galon air tampak dikelilingi banjir setinggi betis orang dewasa.
Kondisi serupa bukan hanya dialami keluarga Salman. Ribuan warga di kawasan pesisir Desa Ambulu juga menghadapi ancaman banjir rob yang terus datang dan belum terselesaikan. Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi segera menghadirkan langkah konkret untuk menangani banjir rob yang semakin memburuk di kawasan tersebut.
Sebab jika kondisi itu terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya merusak rumah warga, tetapi juga mengancam kesehatan, kondisi mental, hingga masa depan masyarakat pesisir.



