Kebanjiran Pesanan, Perajin Besek di Bantul Mulai Menolak Order Baru
Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, para perajin besek di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami peningkatan pesanan yang sangat signifikan. Bahkan, beberapa dari mereka mulai menolak pesanan baru karena khawatir tidak mampu memenuhi permintaan konsumen lain.
Besek, yang biasanya digunakan sebagai wadah daging kurban, menjadi salah satu produk yang paling diminati menjelang momen tersebut. Harga jualnya juga cukup terjangkau, dengan harga Rp65 ribu untuk 20 pasang besek berkapasitas 2 kg dan Rp10 ribu per besek ukuran 5 kg.
Pengalaman Perajin Besek di Bantul
Salah satu perajin besek di Padukuhan Karang Kaliputih, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Jumini (65), mengaku bahwa peningkatan pemesanan sudah terjadi sejak dua bulan lalu. Ia mengatakan bahwa banyak pelanggan datang langsung dari masjid-masjid, seperti daerah Kalurahan Bangunjiwo dan wilayah lainnya.
Untuk mencukupi permintaan, Jumini mempekerjakan lima warga setempat. Sejumlah warga di daerah ini telah turun-temurun menekuni usaha membuat besek. Saat ini, ada sekitar lebih dari 20 orang perajin yang masih aktif dalam bisnis ini.
“Kalau ngerjain ini sendiri, ya saya takut enggak jadi. Jadi ada lima orang yang bantu saya setiap hari. Dan momen menjelang Iduladha ini juga masih segitu yang bantu saya. Saya enggak tambah orang,” ujar Jumini.
Harga dan Kapasitas Besek
Rata-rata besek yang dipesan oleh konsumen memiliki kapasitas sekitar dua dan lima kilogram. Harga jualnya pun relatif stabil, meskipun sedikit meningkat. Jumini mengatakan bahwa ia tidak ingin terlalu banyak menaikkan harga karena banyak pelanggan tetap yang memesan.
“Menjelang Iduladha ini harga jual besek enggak banyak saya naikkan. Ya cuma berapa persen lah kenaikan harganya, karena saya kasihan. Kan rata-rata yang pesan besek di sini sudah jadi pelanggan tetap,” katanya.
Pada momen Iduladha, Jumini telah menerima pesanan lebih dari 1.200 lembar besek. Namun, pada hari-hari biasa, jumlah pesanan tidak pasti karena hanya datang dari acara hajatan atau kenduri.
Proses Pembuatan Besek
Membuat besek membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang. Bahan utama yang digunakan adalah bambu, yang saat ini semakin sulit ditemukan. Jumini mengatakan bahwa ia membeli bambu dari penjual lokal dan kemudian melakukan proses pemotongan, pembelahan, penyayatan, serta pengeringan sebelum dibuat anyaman.
“Nanti setelah bambu ada, dipotong-potong. Terus dibelah, diirat (disayat tipis-tipis), dijemur, baru bisa dibuat anyaman besek. Jadi, ya ada prosesnya. Enggak dari bambu diirat terus dianyam. Itu harus dijemur biar kering, kuat, enggak mudah patah, sama enggak mudah jamuran,” jelas Jumini.
Pesanan dari Juragan
Selain Jumini, Ponikem (56) juga mengalami kebanjiran pesanan. Namun, pesanan yang datang tidak langsung dari takmir masjid, melainkan dari juragannya. Ia hanya bertugas membuat besek, dan setelah selesai, akan disetorkan ke juragan.
“Saya cuma perajinnya. Jadi, nanti saya setorkan ke juragan. Ini juga sudah lama saya dapat pesanan dari juragan. Jadi, kalau sudah selesai dianyam, nanti langsung saya setor ke juragannya,” kata Ponikem.
Dalam sehari, Ponikem bisa membuat sekitar 10 pasang besek atau 20 lembar besek. Pesanan dari juragannya bisa mencapai beberapa kodi, di mana satu kodi berisi 20 pasang besek atau 40 lembar besek.
Warisan Turun-Temurun
Radinem (62), warga setempat, juga mengaku menjadi perajin besek sejak kecil. Keahlian ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Lingkungan tempat tinggalnya juga sudah terkenal sebagai pusat perajin besek.
“Ini juga itung-itung untuk ngisi kegiatan. Ya lumayan lah kalau dapat pesanan dari juragan. Bisa untuk keperluan sehari-hari juga,” tutup Radinem.



