Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 15 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Katarak Picu 80 Persen Kebutaan di Usia 50 Tahun ke Atas
Teknologi

Katarak Picu 80 Persen Kebutaan di Usia 50 Tahun ke Atas

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover26 Mei 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Katarak: Masalah Kesehatan Mata yang Mengancam Kualitas Hidup

Katarak adalah salah satu kondisi kesehatan mata yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Secara global, lebih dari 100 juta orang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Di Indonesia, katarak menjadi penyebab utama kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas, dengan sekitar 81,2 persen kasus kebutaan disebabkan oleh kondisi ini.

Penglihatan yang jernih bukan hanya tentang kemampuan melihat dengan baik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri dan percaya diri. Ketika penglihatan mulai memburuk, warna tampak memudar, cahaya terasa menyilaukan, atau bahkan berkendara di malam hari menjadi lebih sulit, kualitas hidup seseorang akan terganggu.

Katarak sendiri merupakan kondisi di mana lensa alami mata menjadi keruh, biasanya terjadi seiring bertambahnya usia. WHO mencatat bahwa katarak memengaruhi lebih dari 100 juta orang di dunia pada 2020, dengan sekitar 17 juta di antaranya mengalami kebutaan. Di Indonesia, survei RAAB (Rapid Assessment of Avoidable Blindness) yang dilakukan oleh PERDAMI dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa angka kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen, dengan katarak sebagai penyebab utamanya.

Perkembangan Teknologi dalam Pengobatan Katarak

Dengan semakin majunya teknologi, metode operasi katarak juga semakin presisi dan efektif. Dalam gelaran Smart Business Lunch 2026, Dr. Nina Asrini Noor, SpM, Dokter Spesialis Mata sekaligus Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group, berbagi wawasan mengenai perkembangan penanganan katarak modern, terutama melalui teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS).

FLACS merupakan bentuk transformasi dalam bedah katarak. Teknologi ini menggunakan laser femtosecond yang dipandu komputer dan sistem pencitraan optik untuk membantu beberapa tahapan penting dalam operasi katarak, seperti pembuatan sayatan kornea, pembukaan kapsul lensa, dan pemecahan lensa yang keruh sebelum diganti dengan lensa tanam.

Menurut Dr. Nina, FLACS memberikan presisi tinggi dalam prosedur operasi, sehingga tidak hanya menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga mengoptimalkan penglihatan setelah tindakan. Dengan perencanaan yang lebih terukur, dokter dapat menyesuaikan tindakan sesuai dengan kondisi mata pasien, termasuk anatomi mata, tingkat katarak, kebutuhan penglihatan, serta pilihan lensa tanam yang akan digunakan.

Pentingnya Pemilihan Lensa Tanam

Selain teknologi, pemilihan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) juga sangat penting dalam proses pengobatan katarak. Lensa inilah yang akan menggantikan lensa alami mata yang keruh, sehingga sangat berperan dalam menentukan kualitas penglihatan pasien setelah operasi.

Dalam operasi katarak, lensa alami mata yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan berukuran kecil yang disebut IOL. Seiring perkembangan teknologi, pilihan IOL kini semakin beragam, sehingga pasien memiliki opsi yang lebih personal sesuai kebutuhan aktivitas sehari-hari.

Dengan demikian, operasi katarak tidak lagi hanya sekadar mengganti lensa mata yang keruh, tetapi menjadi bagian dari perencanaan penglihatan yang lebih menyeluruh. Pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya

11 Juli 2026

Waktu luang jadi ruang kreatif untuk modifikasi skutik murah

11 Juli 2026

Harga iPhone 17e 512GB Stabil, Ini Update Terbaru iPhone 17e dan Seri iPhone 17 iBox

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?