Pengakuan ART di Rumah Erin yang Mengungkap Kondisi Kerja yang Menyedihkan
Beberapa bulan terakhir, kasus dugaan kekerasan yang melibatkan Rien Wartia Trigina (RWT) atau yang lebih dikenal dengan nama Erin menjadi sorotan publik. Kasus ini mencuat setelah mantan asisten rumah tangganya, Hera, melaporkan dugaan tindakan kekerasan ke pihak kepolisian. Dalam laporan tersebut, Hera mengaku mengalami kekerasan fisik maupun verbal selama bekerja di rumah Erin.
Peristiwa yang dilaporkan itu disebut berawal dari hal yang terbilang sepele. Saat itu, Hera tengah membersihkan lantai dua rumah, namun situasi justru berkembang hingga memicu dugaan tindakan kekerasan. Meskipun tidak ada informasi detail tentang kejadian tersebut, pengakuan Hera menunjukkan bahwa kondisi kerja di rumah Erin sangat menegangkan.
Di sisi lain, Erin membantah seluruh tuduhan yang diarahkan kepadanya. Ia menyatakan memiliki sejumlah bukti untuk membantah klaim tersebut, mulai dari rekaman CCTV rumah, bukti percakapan di aplikasi pesan, hingga kesaksian dari sekuriti dan ART lain. Namun, beberapa pengakuan dari ART lain juga muncul, seperti Nia, yang mengaku telah merasakan hal yang tidak menyenangkan sejak awal bekerja.
Nia mengungkap bahwa Erin adalah sosok yang perfeksionis. Semua barang-barang di rumahnya harus ditata oleh sang ART sesuai keinginan Erin. Ia juga mengungkap bahwa gajinya sebagai ART di keluarga Erin kurang dari UMR Jakarta, yakni Rp3 juta. Meskipun demikian, Nia mengaku tidak sampai mengalami kekerasan, tetapi ia merasa tertekan karena tuntutan yang terlalu tinggi.
“Alhamdulillah enggak sampai harus bayar (ganti rugi). Tapi enggak sampai kekerasan. Barang-barang harus perfect, enggak boleh diubah, harus detail, bersih. Nanti kalau kurang perfect baru,” ujar Nia.
Enam bulan bekerja dengan Erin, Nia akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah Erin dan mencari pekerjaan baru. Namun, hal itu justru membuat KTP Nia diambil Erin. Bukan hanya itu, Nia bercerita bahwa gajinya yang masih kurang hingga kini belum ditransfer oleh Erin.
“Kalau saya KTP saya ditahan, sama kekurangan gaji saya masih kurang. Hanya kurang Rp500 ribu. Belum dikasih, (Erin) janji kalau saya datang lagi (bakal dikasih), tapi saya bilang saya enggak bisa datang lagi tolong ditransfer KTP sama kekurangan gaji,” imbuh Nia.
Kesal, Nia nyatanya tetap ogah datang ke rumah Erin. Sebab Erin cemas jika ia kembali bekerja di rumah Erin, maka dirinya bakal sulit pulang lagi seperti dulu. “Takut disuruh kerja lagi di situ, soalnya susah. Kalau udah masuk situ susah keluar. Kalau ibu Erin nyuruh kita pulang ya pulang, tapi kalau kita izin pulang tapi bu Erin enggak ngizinin ya kita enggak bisa pulang,” akui Nia.
Gaji di Bawah UMR dan Tugas yang Berat
Gajinya masih belum dibayarkan sepenuhnya, Nia mengungkap nominal bayaran dari Erin mantan istri Andre Taulany. Ternyata gaji sebagai ART di keluarga Erin itu kurang dari UMR Jakarta. Nia mengungkap bahwa gajinya hanya sebesar Rp2,5 juta, meski ia mengaku bertanggung jawab atas anak-anak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Di situ gjih 2,5 Krena pak Andre sanggup segitu, karena saya pegang anak-anak dan yg lainnya jadi gajih 3 juta, sisanya Erin yg byar karena jam kerja sya jga beda SMA mba2 yg di sana jdi agak dibedain,” ujar Nia.
Selain itu, Nia juga mengungkap tugas di rumah Erin. Ia mengaku meskipun ia perempuan, tapi ia juga disuruh-suruh oleh Erin untuk mengangkat sofa dan guci ketika bekerja.
“Ya gaji disitu 3jta itu Massa Allah kerjanya hrus perfek dan harus angkat2 meja sofa blum patung2 yg kecil2 dan naro harus sesuai engga boleh kegeser wlau 1 cm,” ungkap Nia.
Mengetahui cerita dari Nia soal gaji ART Erin, netizen syok. Banyak dari mereka mengungkapkan kekecewaan dan keheranan terhadap kondisi kerja yang diterima oleh para ART di rumah Erin.
“Ku kira sm artis tu gajinya gede..nyatanya,”
“Kirain kerja di artis gajinya bisa ampe 4jtaan,”
“Aku pikir kerja sama artis enak,”
Diberitakan sebelumnya, diketahui, Rien Wartia Trigina (RWT) atau yang akrab disapa Rien baru saja dilaporkan oleh sang ART berinisial H atas dugaan penganiayaan. Peristiwa dugaan penganiayaan itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.00 WIB di Jalan Bunga Mayang 8, Bintaro, Jakarta Selatan.
“Bahwa benar telah datang ke SPKT Polres Metro Jakarta Selatan, seorang perempuan berinisial H, yang menurut pengakuannya mengalami kekerasan fisik,” kata Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi, Rabu (29/4/2026).
Terkait tuduhan itu, Erin membantah keras. Ia juga membuat laporan balik untuk menjerat asistennya tersebut atas dugaan pencemaran nama baik. “Agendanya kita mau bikin laporan pencemaran nama baik. Kita bikin laporan dulu ya,” ujar Erin saat ditemui di Polres Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026).
“Semua bukti saya udah pegang. CCTV, bukti chat, rekaman, dan segala macam,” lanjutnya.



