KKB Mengalami Perlambatan, Pemulihan Masih Tertahan
Pada Februari 2026, kredit kendaraan bermotor (KKB) kembali mengalami perlambatan, menunjukkan bahwa pemulihan pembiayaan di segmen ini masih lemah dan belum konsisten. Berdasarkan data Analisis Uang Beredar Bank Indonesia (BI), kredit konsumsi pada bulan kedua tahun ini tumbuh sebesar 6,3% secara tahunan (year on year/YoY), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang mencapai 7,2% YoY.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan KKB yang mengalami kontraksi sebesar 7,9% YoY setelah pada Januari 2026 mengalami kontraksi sebesar 6,9% YoY. Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede, kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti daya beli rumah tangga, terutama kelas menengah bawah, yang masih terbatas, kapasitas membayar cicilan yang belum kuat, serta sikap bank yang cenderung lebih berhati-hati dalam memberikan kredit konsumsi untuk menjaga kualitas aset.
“Saya melihat ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa pembiayaan otomotif masih tertahan,” ujar Josua kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026). Ia menambahkan bahwa arah penyaluran kredit memang lebih condong ke segmen yang risikonya lebih terukur dan arus kasnya lebih kuat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit investasi yang mencapai 20,72% dan kredit korporasi sebesar 14,74% YoY, jauh di atas kredit konsumsi.
Meskipun demikian, Josua menyatakan bahwa pergeseran preferensi bank ke segmen lain lebih merupakan penyesuaian sikap hati-hati dan manajemen risiko, bukan berarti bank meninggalkan kredit konsumsi sepenuhnya. Ia menilai bahwa kinerja penjualan kendaraan bermotor di awal tahun masih solid, terlihat dari penjualan ritel kendaraan Januari hingga Februari 2026 yang masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Artinya, masalah utama KKB saat ini lebih banyak berada pada sisi pembiayaan, keterjangkauan cicilan, dan sikap selektif bank, bukan semata-mata karena minat membeli kendaraan hilang,” tambahnya. Menurutnya, intervensi kebijakan diperlukan jika tujuannya mendorong pemulihan kredit otomotif. Namun, intervensi tersebut harus sangat terarah.
Ia menyebutkan bahwa transmisi penurunan suku bunga ke kredit konsumsi masih tertahan lantaran premi risiko pada segmen konsumsi dan UMKM meningkat. Oleh karena itu, respons yang lebih tepat adalah memperbaiki transmisi suku bunga agar penurunan biaya dana benar-benar sampai ke bunga kredit konsumsi. Selain itu, insentif likuiditas yang lebih selektif bagi bank yang menyalurkan pembiayaan ke debitur yang sehat serta menjaga daya beli rumah tangga juga menjadi penting.
“Kredit otomotif akan lebih mudah pulih bila kebijakannya fokus pada keterjangkauan cicilan, kualitas debitur, dan kepastian pendapatan rumah tangga, bukan sekadar mengejar pertumbuhan volume kredit setinggi mungkin,” ujarnya.
Pertumbuhan KKB Masih Terjadi di Beberapa Bank
Dari sisi industri, sejumlah bank Tanah Air masih mencatatkan pertumbuhan pada pembiayaan kendaraan bermotor. Contohnya, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) membukukan pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,32% YoY menjadi Rp323 triliun sejak awal 2026. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan bahwa kinerja pembiayaan yang solid tersebut utamanya didorong oleh segmen konsumer. “Pertumbuhan segmen konsumer juga dikontribusi oleh pembiayaan BSI OTO yang mengalami kenaikan 16,5% YoY,” katanya.
Menurutnya, capaian positif itu kemungkinan didukung oleh stimulus dari pemerintah terkait kendaraan listrik serta kesadaran masyarakat terhadap kendaran ramah lingkungan. Selain itu, momentum Ramadan dan Idulfitri yang berlangsung pada awal tahun turut menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan daya beli masyarakat.
Adapun hingga Februari 2026, BSI mencatat penjualan mobil melalui pembiayaan BSI OTO mencapai Rp489,2 miliar. Anggoro mengatakan, capaian ini turut didorong oleh berbagai promo menarik serta angsuran tetap sampai lunas sehingga nasabah nyaman untuk mengatur cashflow bulanannya.
Strategi Peningkatan KKB dari Bank Lain
Di sisi lain, EVP Corporate Communication and Social Responsibility di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn mengungkapkan bahwa portofolio KKB mencapai Rp56,6 triliun per Desember 2025. “Ke depan, BCA akan terus menyesuaikan produk dan layanan agar relevan dengan kebutuhan pasar, serta memperkuat kerja sama strategis dengan mitra guna memperluas jaringan dan jangkauan di sektor pembiayaan kendaraan,” jelas Hera.
Selain itu, BCA turut mendorong nasabah agar mempertimbangkan kemampuan finansial dan memilih tenor maupun skema bunga yang paling sesuai dengan kebutuhan jangka panjang. Guna mendorong KKB, perseroan melalui BCA Expoversary 2026 memberikan penawaran KKB BCA yaitu bunga spesial 2,15% flat p.a tenor 3 tahun dan potongan biaya admin hingga Rp900.000. Perhelatan ini digelar hingga 30 April 2026.
Pengembangan Bisnis Pembiayaan Kendaraan Bermotor
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) tengah mengkaji kerja sama (joint finance) dengan sejumlah perusahaan multifinance, menyusul rencana perseroan untuk masuk bisnis pembiayaan kendaraan bermotor. Kerja sama pembiayaan kendaraan bermotor ini ditargetkan rampung pada semester II/2026. Nantinya melalui kerja sama ini, perseroan akan menghadirkan skema bundling antara pembiayaan rumah dan kendaraan bermotor.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan, langkah ini didasari oleh kebutuhan nasabah yang umumnya tidak hanya membeli rumah, tetapi juga membutuhkan kendaraan dalam waktu yang bersamaan. “Jadi kita enggak menciptakan [anak usaha baru], kita kerjasama, joint finance, atau kerjasama khusus untuk pembiayaan kendaraan bermotor. Terutama sekali ini kan temen-temen yang beli rumah saat yang sama juga butuh kendaraan. Jadi kita nanti akan bundling,” jelas Nixon beberapa waktu lalu.



