Rencana IPO Anak Usaha DEWA untuk Sektor Tambang Emas dan Tembaga
PT Darma Henwa Tbk (DEWA), salah satu emiten Grup Bakrie, mengungkapkan rencana aksi korporasi terbaru yang melibatkan anak usahanya. Kali ini, perseroan sedang mempersiapkan langkah strategis untuk PT Gayo Mineral Resources, perusahaan tambang emas dan tembaga yang berada di bawah naungan DEWA.
Direktur DEWA, Ricardo Silaen, menjelaskan bahwa perseroan tengah menyiapkan pengembangan jangka panjang untuk Gayo Mineral. Salah satu opsi pendanaan yang dipertimbangkan adalah melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap kebutuhan dana untuk ekspansi dan monetisasi aset.
“Salah satu metode untuk bisa mengembangkan kita butuh funding, monetisasi tentu saja IPO adalah salah satu opsi yang megang kita pertimbangkan,” ujar Ricardo dalam sebuah siaran YouTube Samuel Sekuritas bertajuk Prospek DEWA hingga IPO Anak Usaha, dikutip Jumat (10/4).
Aset Eksplorasi dengan Potensi Besar
Gayo Mineral merupakan aset eksplorasi yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi seluas sekitar 34.550 hektare. Perseroan telah melakukan kegiatan pengeboran (drilling) di sejumlah titik prioritas, salah satunya di area Tengkereng Atas.
Berdasarkan hasil eksplorasi tersebut, DEWA telah melakukan penilaian aset oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Hasilnya, nilai bruto (gross valuation) Gayo Mineral tercatat sekitar Rp 7 triliun. Setelah dikurangi biaya akuisisi, liabilitas dan penyesuaian aset, perseroan membukukan nilai negatif goodwill sekitar Rp 4,5 triliun.
Prospek Jangka Panjang
Lebih lanjut, Ricardo menjelaskan bahwa ke depannya DEWA akan memprioritaskan penyelesaian eksplorasi untuk memastikan besaran cadangan (reserve) secara optimal. Dengan kepastian cadangan, perseroan dapat menghitung potensi produksi serta kebutuhan belanja modal (capex) untuk pengembangan tambang.
“Kita ingin untuk saat ini prioritasnya adalah untuk mengoptimalkan eksplorasi yang ada. Jadi, kami akan melakukan penyelesaian drilling untuk memastikan bahwa berapa sih sebetulnya reserve yang ada secara optimal yang bisa kita kerjain,” kata Ricardo.
Dia menambahkan bahwa prospek Gayo Mineral dinilai menarik, terutama karena komoditas emas tengah mengalami kenaikan harga signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan dalam meningkatkan nilai aset dan daya tarik bagi investor.
Profil Usaha dan Proyek Tambang
Merujuk pada profil usaha perseroan, Gayo Mineral merupakan anak usaha DEWA sejak 2021 dengan kepemilikan saham sebesar 99,75%. Perusahaan ini berfokus pada produksi emas, tembaga dan mineral lainnya yang berlokasi di Kecamatan Pantan Cuaca, Gayo Lues Aceh.
Saat ini, Gayo Mineral tengah mengembangkan proyek tambang tembaga bawah tanah. Dalam 12 bulan terakhir, kegiatan eksplorasi difokuskan pada dua prospek utama, yakni Tengkereng Atas dan Tengkereng Bawah.
Tengkereng Atas menunjukkan indikasi sistem epitermal sulfidasi tinggi melalui zona alterasi yang kuat, sedangkan Tengkereng Bawah mengindikasikan potensi mineralisasi tipe porfiri atau urat berdasarkan kontrol struktural dan keberadaan urat kuarsa-sulfida.
Kinerja Keuangan yang Mengesankan
Pada tahun 2025, DEWA meraup laba bersih sebesar Rp 4,30 triliun atau naik 7.697% secara tahunan (YoY) dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat laba sebesar Rp 55,23 miliar.
Berdasarkan laporan keuangannya, DEWA membukukan pendapatan sebesar Rp 6,39 triliun sepanjang 2025. Torehan itu naik 5,98% YoY dari periode yang sama sebelumnya Rp 6,03 triliun.
Menurut Analis Investasi Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, laba bersih DEWA sepanjang 2025 jauh melampaui ekspektasi atau setara 1.324% dari estimasi konsensus 2025F. Kenaikan laba bersih tersebut terutama ditopang oleh pengakuan negative goodwill sebesar Rp 4,5 triliun dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR).
Lonjakan ini juga menutupi sejumlah kerugian yang timbul dari penghapusan piutang dan persediaan, hilangnya pengendalian atas entitas anak, serta penjualan dan penghapusan aset tetap dengan total sekitar Rp 724 miliar.
Meski kontribusi dari konsolidasi GMR bersifat satu kali (one-off), Stockbit menilai prospek kinerja DEWA tetap positif ke depan.
“Core profit meningkat signifikan menjadi Rp 573 miliar selama 2025 (vs 2024: Rp 65 miliar) didukung ekspansi margin laba kotor,” kata Everson dalam analisisnya, Jumat (27/3).
Stockbit Sekuritas mengungkapkan, sebelumnya Darma Henwa telah merampungkan akuisisi 99,75% saham PT Gayo Mineral Resources (GMR) pada November 2025. Transaksi ini melalui realisasi uang muka investasi yang sebelumnya sudah dicatat dalam laporan keuangan 2024 sehingga tidak menimbulkan tambahan arus kas pada 2025.



