Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 8 April 2026
Trending
  • Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?
  • Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular
  • Sinyal Kuat Timnas Indonesia: Dua Bintang Luar Negeri Bergabung dengan FCV Dender
  • Makna Nama Anak AHY dan Annisa Pohan: Filosofi Kuat Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono
  • Tumpukan Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Ganggu Pengunjung
  • 5 Shio Paling Beruntung Bulan April 2026, Kaya dan Berkembang
  • Notifikasi WhatsApp Tidak Muncul? Ini Penyebab dan Solusinya
  • Perbarui Klasemen Moto3 2026: Poin Veda Ega Pratama dari MotoGP Spanyol 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?
Nasional

Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover7 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com.CO.ID, BEIRUT – Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan tiga penjaga perdamaiannya gugur di Lebanon selatan hanya beberapa jam dalam insiden terpisah. Seluruhnya merupakan tentara dari Indonesia.

PBB mengatakan pada Senin bahwa ledakan yang “tidak diketahui asal usulnya” menghancurkan sebuah kendaraan di dekat kota Bani Haiyyan, menewaskan dua penjaga perdamaian Indonesia. Dua penjaga perdamaian lainnya terluka, satu luka parah.

Ini terjadi hanya beberapa jam setelah penjaga perdamaian lainnya terbunuh setelah pangkalan UNIFIL terkena proyektil di dekat desa Adchit al-Qusayr di Lebanon selatan.

Ketiga penjaga perdamaian tersebut berasal dari tentara Indonesia, kata para pejabat PBB. Pada serangan pertama, yang jadi korban jiwa adalah Praka Farizal Rhomadhon. Dalam serangan kedua, dua prajurit TNI Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) XXIII-S/Unifil gugur. Informasi yang didapatkan

Indonesiadiscover.com

, kedua korban serangan brutal militer Israel itu adalah Mayor Inf ZA dan Sertu I. Keduanya saat itu sedang berusaha mengevakuasi prajurit TNI lain yang terluka. Namun, dalam perjalanan konvoi itu diserang Zionis Israel.

UNIFIL mengatakan pihaknya meluncurkan penyelidikan atas kedua insiden tersebut tetapi tidak mengatakan siapa yang bertanggung jawab atas kematian tersebut pada Ahad malam hingga Senin tersebut.

PBB mengatakan pada hari Senin bahwa setiap serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaiannya merupakan “pelanggaran berat” terhadap hukum kemanusiaan internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701. Resolusi itu diadopsi pada tahun 2006 dan mencakup membantu angkatan bersenjata Lebanon dalam membersihkan wilayah tersebut dari “personil bersenjata, aset dan senjata.”

“Ini hanyalah salah satu dari sejumlah insiden baru-baru ini yang membahayakan keselamatan [dan] keamanan pasukan penjaga perdamaian,” tulis Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah postingan di X, menyerukan akuntabilitas.

Menanggapi kematian pertama, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi bahwa penjaga perdamaian tersebut adalah warga negara Indonesia. Kehilangan apapun terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima, kata Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia juga menyampaikan kecaman atas “serangan Israel di Lebanon selatan.”

Saat ini, lebih dari 8.200 pasukan penjaga perdamaian PBB – atau dikenal sebagai Helm Biru – dari 47 negara ditempatkan di Lebanon selatan, menurut angka UNIFIL yang diperbarui pada 23 Maret.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, membuka suara terkait insiden serangan misil yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon. Dave menilai pemerintah perlu melihat kembali efektivitas misi perdamaian tersebut di tengah pertempuran yang terus berlanjut.

“Ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi ataupun juga melihat apakah keberadaan prajurit kita ini benar-benar berfungsi atau tidak karena jelas dengan adanya serangan yang tidak berhenti, yang terus berlanjut, bahkan sampai menewaskan prajurit kita,” kata Dave saat ditanya wartawan di Kompleks Parlemen, Senin (30/3/2026).

Dave mempertanyakan apakah posisi pasukan TNI saat ini masih sebagai penjaga perdamaian atau justru terjebak dalam pusaran konflik.

“Ini apakah keberadaan kita ini berguna untuk menjaga perdamaian atau justru malah menjadi serangan target daripada serangan daripada IDF,” tegasnya.

Melihat kondisi keamanan yang kian mengkhawatirkan, Dave menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan opsi penarikan personel. Ia merujuk pada langkah negara lain yang memiliki keresahan serupa.

“Nah, maka itu bilamana kondisinya ini memang tidak bisa dinyatakan aman, ada baiknya untuk pemerintah melakukan apa namanya penarikan ataupun juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon,” kata Dave.

“Saya juga sempat baca tadi katanya ada salah satu negara Eropa Barat, Italia tepatnya, menyampaikan siap menarik personilnya dari sana. Maka itu apakah kita harus mengambil hal tersebut, nah tentu harus ada pertimbangan dan juga harus ada komunikasi,” katanya menambahkan.

Menurut Dave, misi utama TNI dalam UNIFIL adalah menjaga perdamaian. Namun, fakta di lapangan menunjukkan situasi sudah bergeser menjadi zona perang aktif yang menyulitkan pelaksanaan misi.

“TNI ini kan fungsi kita ini adalah untuk menjaga perdamaian. Nah, jelas di sana ini tidak terjadi perdamaian, justru terjadi pertempuran. Nah, jadi ya kalau begitu ya fungsi kita ini tidak, tidak bisa melaksanakan misi kita. Nah, bahkan sudah ada korbannya,” jelasnya.

Terkait desakan penarikan mundur, Komisi I menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pemerintah. Dave menegaskan pentingnya investigasi mendalam untuk memastikan penyebab jatuhnya korban jiwa dari pihak Indonesia.

“Harus ada investigasi mendalam karena ini kan berkaitan dengan keadilan kepada keluarga prajurit ya. Ini serangannya itu dari mana, siapa yang menyerang, titiknya itu mau nyerang ke mana hingga akhirnya ada korban kita,” katanya mengakhiri.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 Shio Paling Beruntung Bulan April 2026, Kaya dan Berkembang

7 April 2026

Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular

7 April 2026

Tumpukan Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Ganggu Pengunjung

7 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?

7 April 2026

Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular

7 April 2026

Sinyal Kuat Timnas Indonesia: Dua Bintang Luar Negeri Bergabung dengan FCV Dender

7 April 2026

Makna Nama Anak AHY dan Annisa Pohan: Filosofi Kuat Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono

7 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?