Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Friday, 2 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»ICW Soroti Kasus Yaqut Cholil Qoumas, Minta KPK Turun Tangan
    Politik

    ICW Soroti Kasus Yaqut Cholil Qoumas, Minta KPK Turun Tangan

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover2 April 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Polemik Pengalihan Status Tahanan Yaqut dan Kritik terhadap KPK

    Perubahan status penahanan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, memicu perdebatan yang cukup luas di masyarakat. Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengalihkan status penahanan Yaqut dari rutan menjadi tahanan rumah menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk lembaga pemantau antikorupsi seperti Indonesia Corruption Watch (ICW).

    Pengalihan status tersebut dilakukan atas permohonan keluarga Yaqut dan diumumkan ke publik pada 21 Maret 2026, bertepatan dengan momentum Idul Fitri 1447 Hijriah. Namun, keputusan ini tidak bertahan lama. Hanya beberapa hari kemudian, pada 23 Maret 2026, KPK kembali mengubah status penahanan Yaqut menjadi rutan.

    Yaqut sendiri menyampaikan bahwa pengalihan tersebut merupakan permintaannya sendiri. Ia juga menyampaikan rasa syukur karena sempat memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan tradisi sungkem kepada ibunya saat Idul Fitri.

    ICW Soroti Dugaan Keistimewaan dan Intervensi

    Menanggapi dinamika tersebut, ICW menilai kebijakan pengalihan tahanan rumah kepada Yaqut berpotensi menimbulkan persepsi adanya perlakuan istimewa dalam penegakan hukum. Peneliti ICW, Wana Alamsyah, menyatakan bahwa bagi ICW, pemberian keistimewaan kepada YCQ dapat berdampak efek bola salju bagi tahanan KPK yang lain.

    Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dinilai wajar memicu keinginan tahanan lain untuk mendapatkan perlakuan serupa. Dalam konteks hukum, hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu prinsip keadilan.

    ICW juga secara tegas mendesak Dewan Pengawas KPK (Dewas KPK) untuk segera turun tangan memeriksa kebijakan tersebut. “Oleh sebab itu, ICW mendesak agar Dewas segera turun tangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap pimpinan KPK beserta jajarannya yang memberikan keistimewaan bagi pelaku korupsi,” ujar Wana.

    Lebih lanjut, ICW juga menyoroti kemungkinan adanya intervensi dari pihak luar dalam pengambilan keputusan tersebut. “Dan apabila ada dugaan intervensi dari pihak eksternal, KPK penting untuk menyampaikannya secara transparan dan akuntabel,” katanya.

    Desakan Transparansi dan Prinsip Kesetaraan Hukum

    Selain Wana, peneliti ICW lainnya, Almas Sjafrina, turut meminta KPK memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait alasan pengalihan status penahanan tersebut. “Kami menilai KPK justru harus menghentikan praktik pengalihan tahanan tanpa alasan yang jelas dan mendesak,” ujar Almas.

    “Jika terus dilakukan, ini akan melanggar asas equality before the law,” tambahnya. Istilah equality before the law merujuk pada prinsip hukum yang menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum tanpa pengecualian. Dalam konteks ini, ICW menilai kebijakan tersebut berpotensi membuka ruang konflik kepentingan dan ketidakadilan.

    Efek Domino: Tahanan Lain Ajukan Permohonan Serupa

    Dampak dari kebijakan ini mulai terlihat dalam proses hukum lain. Salah satunya terjadi dalam sidang kasus dugaan pemerasan yang melibatkan Gubernur nonaktif Riau, Abdul Wahid. Dalam sidang dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, penasihat hukum Abdul Wahid mengajukan permohonan agar kliennya juga dialihkan menjadi tahanan rumah.

    Permintaan tersebut disampaikan dengan merujuk pada preseden yang terjadi pada kasus Yaqut. “Ketiga, terdakwa juga ingin mengajukan pengalihan penahanan dari penahanan rutan menjadi tahanan rumah. Ini berdasarkan Pasal 108 ayat 5 dan 11 KUHAP dan pertimbangan adanya preseden dari salah satu tersangka Bapak YC dialihkan jadi tahanan rumah,” kata penasihat hukum.

    Selain itu, alasan kesehatan serta jaminan keluarga juga menjadi dasar permohonan tersebut. Dalam sistem hukum Indonesia, KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) memang mengatur kemungkinan pengalihan jenis penahanan, termasuk menjadi tahanan rumah, dengan syarat tertentu.

    KPK Tegaskan Keputusan Sesuai Prosedur

    Menanggapi berbagai kritik tersebut, KPK membantah bahwa pengalihan status tahanan Yaqut dilakukan secara diam-diam atau tanpa prosedur. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil keputusan lembaga, bukan individu.

    “Sejauh ini tidak ada. Karena tidak sembunyi-sembunyi juga karena pihak-pihak yang menurut undang-undang harus menerima pemberitahuan sudah kami berikan pemberitahuan,” ujar Asep di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

    Ia menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan pengalihan tersebut adalah strategi penyidikan untuk mempercepat penanganan perkara. “Nah itu saya sampaikan itu adalah strategi terkait dengan penyidikan khususnya bagaimana caranya kita supaya mendapat percepatan dalam penanganan perkara ini,” katanya.

    Lebih lanjut, Asep menegaskan bahwa langkah tersebut telah melalui proses rapat dan ekspos internal serta didasarkan pada norma hukum yang berlaku. “Jadi begini, tentunya terkait dengan permohonan tersebut tentunya itu sudah apa namanya dilakukan rapat atau ekspos ya jadi itu bukan keputusan pribadi jadi itu adalah keputusan lembaga,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa dasar hukum pengalihan penahanan telah diatur dalam KUHAP, baik dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 maupun pembaruan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025.

    Kasus Korupsi Kuota Haji Jadi Latar Belakang

    Dalam perkara yang menjerat Yaqut, KPK menduga adanya korupsi terkait pengelolaan kuota haji tahun 2023–2024. Nilai kerugian negara dalam kasus ini disebut mencapai Rp 622 miliar. Kasus ini menjadi perhatian publik karena berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji, yang merupakan layanan publik bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan tersangka dalam kasus ini turut mendapat sorotan intens.

    Dinamika Pengawasan dan Kepercayaan Publik

    Seiring berkembangnya polemik ini, berbagai laporan juga telah disampaikan kepada Dewas KPK oleh sejumlah pihak, termasuk masyarakat sipil. Salah satu laporan bahkan menyoroti dugaan pembiaran intervensi oleh pimpinan KPK.

    ICW menilai, langkah Dewas dalam menindaklanjuti laporan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga antikorupsi. “ICW mendesak agar Dewas melakukan pemeriksaan terhadap pimpinan KPK dan para pihak yang patut diduga terlibat dalam pengalihan tahanan YCQ (Yaqut),” kata Wana.

    Dengan berbagai perkembangan yang terjadi, polemik pengalihan status tahanan ini tidak hanya menjadi isu hukum, tetapi juga menyangkut aspek transparansi, akuntabilitas, serta prinsip keadilan dalam penegakan hukum di Indonesia.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?