Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Friday, 2 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Penggemar Kecil Kecewa, Sebut Donald Trump ‘Pengkhianat’ America First
    Politik

    Penggemar Kecil Kecewa, Sebut Donald Trump ‘Pengkhianat’ America First

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 April 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Indonesiadiscover.com.CO.ID, JAKARTA — Konflik militer yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran sejak awal Maret 2026 telah memicu gelombang kritik internal terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Eskalasi konflik ini dinilai tidak hanya bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menjauhkan AS dari keterlibatan dalam konflik baru di Timur Tengah, tetapi juga memperburuk tekanan ekonomi domestik, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak yang bertentangan dengan janji menekan inflasi.

    Hasil jajak pendapat CBS News terkini menunjukkan tingkat ketidaksetujuan terhadap kinerja Presiden Trump melonjak hingga 60%. Di berbagai wawancara jalanan dan media sosial, sentimen penyesalan dari pemilih yang sebelumnya mendukung Trump semakin terlihat. Bahkan, sejumlah politisi Partai Republik yang selama ini menjadi pilar pendukung administrasi mulai menunjukkan kegelisahan mereka.

    Keraguan di Tubuh Partai Republik

    Pada awal Maret lalu, Senator Partai Republik John Kennedy sempat menyatakan optimisme dengan pernyataan “Kita sudah menang di Iran.” Namun, seiring berjalannya waktu dan situasi di lapangan yang tidak kunjung mereda, nada optimistis itu mulai luntur. Titik balik terjadi ketika pemerintahan Trump mengajukan permintaan tambahan dana perang sebesar 200 miliar dolar AS, angka yang mengejutkan mengingat konflik baru berlangsung kurang dari sebulan.

    Kennedy kemudian menyatakan tidak akan menyetujui alokasi dana sebesar itu tanpa melalui proses sidang dengar pendapat yang ketat. Senada dengan itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari faksi MAGA (Make America Great Again), Lauren Boebert, secara vokal menentang pendanaan tambahan. Boebert menyampaikan kelelahan atas alokasi dana pajak yang terus mengalir ke kompleks industri militer, sementara warganya di Colorado justru kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

    Sikap Boebert ini menarik perhatian. Bersama Marjorie Taylor Greene, ia dikenal sebagai figur perempuan paling vokal dalam kubu MAGA. Namun, kebijakan luar negeri Trump yang dinilai terlalu akomodatif terhadap kepentingan Israel, bahkan di atas kepentingan nasional AS, mulai menggoyahkan loyalitas mereka.

    Pergeseran Sikap Tokoh Pro-Trump

    Kritik paling tajam justru muncul dari tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi pendukung setia Trump. Marjorie Taylor Greene, yang pada 2021 gencar mempromosikan gelang “Berdoa untuk Israel”, kini secara terbuka mengecam apa yang disebutnya sebagai kekejaman Israel di Palestina. Ia bahkan menulis bahwa “perang dengan Iran adalah perang terakhir Amerika” dan menyoroti bagaimana pihak-pihak pro-perang merayakan gugurnya tentara AS.

    Pergeseran serupa terjadi pada Carrie Prejean Boller, mantan Miss California 2009 yang memiliki hubungan dekat dengan Trump. Setelah diangkat dalam Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih, Boller justru vokal menyuarakan kritik terhadap genosida di Gaza dan menolak tekanan pejabat yang memintanya mundur. Ia akhirnya diberhentikan setelah pernyataan anti-Zionisnya menuai kecaman dari kelompok pro-Israel. Pemberhentian ini kemudian memicu solidaritas dari tokoh seperti Tucker Carlson dan sejumlah kritikus Israel lainnya.

    Komentator Politik Candace Owens

    Candace Owens, komentator politik yang dulu menjadi ikon sayap kanan, kini secara terang-terangan menyatakan AS sepenuhnya berada di bawah kendali Zionis. Ia menuding Trump hanya menjalankan perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menantu presiden, Jared Kushner. Owens bahkan menyebut militer AS saat ini bekerja untuk kepentingan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

    Candace Owens adalah aktivis politik konservatif dan komentator media yang dikenal sebagai pendukung kuat gerakan konservatif Amerika, terutama di kalangan generasi muda. Owens sebelumnya aktif dalam organisasi Turning Point USA dan kemudian membangun basis pengaruhnya melalui podcast, media sosial, serta berbagai forum politik. Ia dikenal karena kritik keras terhadap Partai Demokrat, media arus utama, serta kebijakan liberal, dan sempat menjadi salah satu suara yang cukup vokal dalam mendukung agenda konservatif.

    Owens juga menunjukkan sikap lebih independen dalam beberapa isu, termasuk kebijakan luar negeri dan strategi politik Trump menjelang pemilu. Ia mengkritik pendekatan politik yang dinilai terlalu bergantung pada konflik politik internal tanpa menawarkan solusi jangka panjang. Owens juga menekankan pentingnya gerakan konservatif yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada satu figur politik, termasuk Trump.

    Tucker Carlson dan Megyn Kelly

    Tucker Carlson, yang pernah memilih Trump dalam pemilu, kini menilai presiden telah mengkhianati prinsip “America First”. Dalam wawancara dengan The Economist, Carlson menyampaikan kekecewaannya, sebuah sikap yang dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap opini publik mengingat popularitasnya yang luas di kalangan pemilih konservatif.

    Ia dikenal sebagai salah satu tokoh media paling berpengaruh dalam basis pemilih konservatif Amerika. Carlson sering mengangkat isu populisme, anti-intervensi luar negeri, kritik terhadap elite politik Washington, serta skeptisisme terhadap kebijakan globalisasi. Karena pengaruhnya yang besar di kalangan pendukung konservatif, sikap politik Carlson sering dianggap mencerminkan dinamika di dalam basis pendukung Partai Republik.

    Tucker Carlson semakin kritis terhadap kemungkinan Trump mengambil kebijakan luar negeri yang dianggap terlalu konfrontatif, terutama terkait konflik geopolitik global. Carlson dikenal sebagai tokoh konservatif yang cenderung mengusung pendekatan non-intervensi, sehingga ia menilai bahwa sebagian kebijakan Trump berpotensi bertentangan dengan prinsip tersebut.

    Megyn Kelly, jurnalis yang selama pemilu menjadi pendukung vokal Trump, kini juga berbalik kritis. Ia menyebut perang dengan Iran jelas merupakan perang untuk kepentingan Israel, dan menyesalkan gugurnya tentara AS dalam konflik tersebut. Kelly juga mengungkapkan bahwa mendiang aktivis konservatif Charlie Kirk, sebelum meninggal, sempat mengkritik keras pengaruh Israel terhadap politisi AS.

    Dinamika yang Terus Bergerak

    Perubahan sikap dari tokoh-tokoh berpengaruh ini menggambarkan adanya pergeseran signifikan dalam peta politik domestik AS. Mereka yang sebelumnya menjadi corong propaganda pro-Israel dan pro-perang kini mulai mempertanyakan arah kebijakan luar negeri Trump. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah upaya lobi Zionis yang selama ini menggelontorkan dana besar untuk mempertahankan pengaruh mereka.

    Bagi Trump, yang tengah menjalani masa jabatan terakhir, reputasi jangka panjang mungkin bukan lagi prioritas utama. Namun, bagi publik Amerika dan struktur politik yang selama ini terbangun atas dukungan koalisi konservatif, perang ini telah membuka keretakan yang tidak mudah diperbaiki. Citra Israel di mata masyarakat AS, terutama di kalangan konservatif, kini berada pada titik terendah, sementara perlawanan terhadap kebijakan luar negeri yang dinilai mengorbankan kepentingan nasional terus menguat.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?