Aksi Jujur Petugas Wisata di Kabupaten Majalengka Jadi Sorotan
Di tengah kekacauan dan risiko yang sering terjadi saat berlibur, tindakan jujur dari seorang petugas wisata di Kabupaten Majalengka menjadi sorotan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa integritas dan tanggung jawab masih ada dalam masyarakat.
Kronologi Kehilangan Dompet dan Pengembalian
Peristiwa ini terjadi di objek wisata Situ Cipanten, Desa Gunung Kuning, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dompet yang hilang adalah milik pengunjung bernama Putri Oktapiani. Dompet berwarna merah muda tersebut berhasil ditemukan oleh petugas wisata dan dikembalikan utuh kepada pemiliknya pada hari Kamis (26/3/2026) pagi.
Awalnya, petugas keamanan sedang melakukan patroli rutin di area wisata dan menemukan dompet tersebut tergeletak. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB, pemilik dompet datang ke pos pengamanan untuk melaporkan kehilangan barangnya.
Kepala Pos Pam Wisata Situ Cipanten, Iptu Aseng Suwanda, mengonfirmasi bahwa dompet tersebut benar-benar milik Putri Oktapiani. Pemiliknya berhasil menunjukkan identitas diri yang sah dan sesuai dengan isi dompet. Setelah verifikasi dilakukan, dompet kini telah diserahkan kembali kepada pemiliknya.
Apresiasi atas Kejujuran Petugas
Berdasarkan hasil pemeriksaan, dompet merah muda tersebut berisi uang tunai senilai Rp 150.000. Selain itu, terdapat dokumen penting seperti SIM C dan STNK kendaraan sepeda motor milik Putri yang sangat dibutuhkan untuk perjalanan pulang.
Iptu Aseng menyebut tindakan cepat dan jujur para personel di lapangan sebagai bentuk integritas dalam menjalankan tugas. Petugas ditekankan untuk selalu mengedepankan tanggung jawab sebagai nilai utama dalam operasional sehari-hari di objek wisata.
Langkah ini juga selaras dengan fungsi kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, terutama saat terjadi lonjakan pengunjung di masa libur panjang seperti sekarang.
Iptu Aseng menegaskan bahwa keamanan dan kenyamanan pengunjung menjadi prioritas utama pihak kepolisian di wilayah hukum Polres Majalengka. Dengan adanya tindakan nyata seperti ini, diharapkan masyarakat bisa merasa lebih tenang saat menghabiskan waktu liburan di Situ Cipanten.
Berita Lain: Mahasiswi Keperawatan di Surabaya Jadi Korban Pejambretan
Selain kejadian di Situ Cipanten, ada berita lain yang juga menarik perhatian. Seorang mahasiswi keperawatan di Surabaya menjadi korban pejambretan yang dilakukan dua orang pria misterius bersenjata pistol, sepulang kuliah, di kawasan Jalan Karang Menjangan, Mojo, Gubeng, Surabaya, pada Rabu (7/1/2026) malam.
Korban merupakan perempuan asal Mojokerto berinisial NE (20), seorang mahasiswi Program Diploma Tiga (D3) semester empat jurusan Keperawatan sebuah kampus swasta di Gubeng Surabaya. Lokasi kampusnya tidak jauh dari lokasi kejadian dirinya menjadi korban perampasan.
Pada malam itu, korban NE berjalan kaki sendirian menuju ke kosannya di kawasan Jalan Kedung Tarukan I. Saat itu, ia memegang ponsel dan dompetnya. Tiba-tiba, dari arah belakang, dirinya didekati dua pria misterius berboncengan motor. Kedua pria tersebut berusaha merampas ponsel dan dompet yang sedang dipegangnya.
Korban NE sempat berusaha kabur ketika didekati oleh kedua pria misterius tersebut. Namun, karena tangannya sempat dipegang paksa oleh si pelaku eksekutor yang duduk di bangku bonceng, membuatnya tak bisa kabur. Ia juga ketakutan dan syok saat si pelaku mengeluarkan benda menyerupai pistol yang ditodongkan kepadanya.
“Ketika saya didekati, saya langsung melepaskan genggaman tangan dari ponsel dan dompet yang sedang dibawa,” kata korban. Meski begitu, ponsel korban NE malah terlepas dari genggaman tangan si pelaku dan jatuh ke tanah. Namun, dompetnya tetap berada di tangan pelaku.
Setelah kejadian tersebut, korban NE mengaku syok dan trauma. Selain kehilangan dompet berisi KTP dan uang tunai sekitar Rp500 ribu, pergelangan tangannya juga terluka baret hingga berdarah karena diduga terkena kuku tangan pelaku.
Kendati begitu, korban NE belum membuat laporan resmi ke markas kepolisian setempat. Ia juga sempat menceritakan pengalaman mencekam tersebut kepada orangtua di kampung halaman, sehingga diminta untuk segera pulang lebih cepat ke Mojokerto.



