Krisis Energi Global yang Mengancam Ekonomi Dunia
Krisis energi global yang sedang berlangsung akibat konflik di kawasan Timur Tengah disebut memiliki dampak yang luar biasa besar, bahkan lebih parah daripada kombinasi krisis minyak pada 1970-an dan dampak invasi Rusia ke Ukraina. Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa situasi ini bisa semakin memburuk karena mengganggu sektor-sektor penting dalam ekonomi global.
Menurutnya, gangguan tersebut terjadi pada “arteri vital ekonomi global”, termasuk industri petrokimia, pupuk, belerang, hingga helium. Birol menyampaikan pernyataannya saat berbicara di Klub Pers Nasional Australia di Canberra. Ia menilai bahwa dampak dari pemboman Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran, serta penutupan Selat Hormuz, awalnya tidak sepenuhnya dipahami oleh para pemimpin dunia.
Langkah-Langkah Penghematan Energi yang Diusulkan
Untuk menghadapi krisis ini, IEA mengusulkan langkah-langkah penghematan energi dari sisi permintaan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Peningkatan kerja dari rumah
- Penurunan sementara batas kecepatan di jalan raya
- Pengurangan perjalanan udara
Birol juga memperingatkan bahwa sedikitnya 40 aset energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan berat hingga sangat parah. Hal ini membuat pemulihan pasokan energi tidak akan langsung terjadi meski konflik berakhir.
Perbandingan dengan Krisis Sebelumnya
Ia membandingkan krisis saat ini dengan dua guncangan besar sebelumnya, yakni Krisis Minyak 1973 dan Krisis Minyak 1979, yang masing-masing menyebabkan hilangnya sekitar 5 juta barel minyak per hari. Sementara itu, invasi Rusia ke Ukraina 2022 menghilangkan sekitar 75 miliar meter kubik gas dari pasar global.
Namun, krisis yang dimulai sejak pemboman di Teheran pada 28 Februari ini disebut jauh lebih besar, dengan kehilangan sekitar 11 juta barel minyak per hari serta 140 miliar meter kubik gas.
Respons Darurat IEA
Sebagai respons darurat, pada 11 Maret 2026, IEA melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, yang menjadi langkah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut. Pasar minyak global sempat mengalami surplus pada awal 2026. Namun, serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia itu, memicu kekurangan pasokan dan meningkatkan kekhawatiran global.
Birol menilai kawasan Asia Pasifik menjadi wilayah yang paling terdampak akibat penutupan selat tersebut. “Satu-satunya solusi terpenting untuk masalah ini adalah membuka Selat Hormuz,” kata Birol.
Konsultasi dengan Pemimpin Dunia
Lebih lanjut, Birol mengatakan bahwa pihaknya tengah berkonsultasi dengan para pemimpin dunia terkait kemungkinan pelepasan cadangan minyak tambahan. Ia mencatat bahwa langkah awal baru mencakup sekitar 20% dari total stok yang tersedia.
“Jika diperlukan, kami dapat menempatkan lebih banyak minyak di pasar, baik minyak mentah maupun produk, jika diperlukan. Rilis saham kami akan membantu menghibur pasar, tetapi ini bukan solusinya. Itu hanya perlu mengurangi rasa sakit pada ekonomi,” tuturnya.
Dampak Global dan Upaya Bersama
Birol juga menyoroti kekhawatiran terkait kebijakan negara-negara yang mulai menahan pasokan energi untuk kepentingan domestik, terutama di Asia. Sementara itu, perubahan pasokan bahan bakar seperti diesel dan avtur mulai terasa di Eropa.
Meski demikian, peningkatan produksi minyak dari Kanada dan Meksiko diperkirakan dapat membantu meredam dampak krisis. Ia menegaskan bahwa krisis ini bersifat global dan membutuhkan respons bersama.
Perkembangan Terbaru
Dalam perkembangan terbaru, pemerintah Inggris telah mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya untuk melancarkan serangan terhadap target Iran yang berkaitan dengan Selat Hormuz. Kebijakan ini menandai perubahan sikap Inggris yang sebelumnya hanya mengizinkan penggunaan pangkalan untuk operasi defensif.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump membahas pentingnya membuka kembali Selat Hormuz dalam percakapan telepon terkait konflik Timur Tengah yang terus memanas. Juru bicara Kantor Perdana Menteri Inggris, Downing Street, menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar energi global.
Harga Minyak Mentah Melonjak
Seiring konflik yang terus meningkat, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak hingga 45% menjadi sekitar US$106 per barel. Kenaikan ini memperburuk tekanan ekonomi global, termasuk biaya hidup masyarakat di berbagai negara.
Harga minyak Brent untuk kontrak Mei naik 1,5% ke level US$113,90 per barel pada pukul 06.01 pagi waktu Singapura. Sementara itu, harga minyak WTI untuk pengiriman Mei meningkat 2,1% ke level US$100,28 per barel.



