Pengalaman Pilu Seorang Ibu Hamil yang Diduga Jadi Korban Kekerasan
Seorang wanita yang sedang dalam masa kehamilan tiga bulan mengungkapkan pengalaman traumatis setelah diduga menjadi korban kekerasan dari suaminya. Kejadian ini terjadi di area parkir sebuah apartemen dan akhirnya menjadi perhatian publik setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang memperlihatkan peristiwa tersebut beredar luas di media sosial.
Kasus ini bermula dari unggahan video oleh korban, yang kemudian ramai dibagikan oleh warganet. Video tersebut menunjukkan dugaan aksi kekerasan terhadap dirinya. Saat itu, korban bernama Oranee atau Bee, seorang perempuan berusia 24 tahun, tengah mengandung tiga bulan. Dalam wawancara dengan tim media pada 9 Juni 2020, Bee menceritakan kejadian tersebut dengan penuh rasa tegar meskipun tampak menahan air mata.
Bee mengungkapkan bahwa sebelum bertemu dengan suaminya, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki. Ia lebih memilih hubungan dengan perempuan dan bahkan pernah memiliki hubungan dengan seorang perempuan tomboy yang cukup lama. Hubungan tersebut berakhir setelah terjadi pertengkaran hebat. Setelah perpisahan itu, Bee berjanji kepada keluarganya bahwa jika hubungannya dengan perempuan tersebut benar-benar berakhir, ia akan mencoba membangun keluarga dengan seorang pria dan memiliki keturunan.
Dalam perjalanan hidupnya, Bee bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya. Ia merasa telah membuat keputusan yang tepat untuk memulai kehidupan baru bersama. Keduanya menjalani hubungan hingga dua tahun lamanya dan memutuskan membangun rumah tangga. Tidak lama kemudian, Bee diketahui hamil dan usia kandungannya saat ini memasuki tiga bulan. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, ia mulai merasakan perubahan sikap dari suaminya.
Menurut Bee, perubahan perilaku suaminya mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Rasa curiga pun muncul karena sikap sang suami dinilai tidak lagi seperti sebelumnya. Pada suatu waktu, suaminya mengantar Bee ke rumah kakaknya. Suaminya kemudian mengatakan bahwa ia akan membawa mobil ke bengkel modifikasi untuk melakukan penyetelan mesin.
Namun kecurigaan Bee membuatnya memutuskan untuk memeriksa langsung ke bengkel tersebut. Ia kemudian meminjam mobil milik adiknya dan pergi ke lokasi yang disebutkan oleh suaminya. Setibanya di bengkel tersebut, Bee tidak menemukan suaminya. Hal itu semakin memperkuat kecurigaannya bahwa sang suami tidak benar-benar berada di tempat yang ia katakan.
Bee kemudian memutuskan untuk mencari suaminya sendirian, meskipun saat itu hujan turun cukup deras. Ia menyetir mobil sambil memikirkan kemungkinan keberadaan suaminya. Dalam perjalanan itu, Bee mengaku terus mengusap perutnya dan berbicara kepada bayi yang sedang ia kandung. Ia berharap dapat menemukan suaminya dan mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa saat kemudian, Bee teringat sebuah komentar di Facebook suaminya yang pernah menyebut sebuah apartemen di wilayah Tambon Map Yang Phon, Provinsi Rayong. Ia pun memutuskan untuk menuju ke lokasi tersebut. Setibanya di apartemen itu, Bee melihat mobil suaminya terparkir di area parkir. Pemandangan itu membuat perasaannya campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa.
Bee sempat berpikir untuk mengetuk setiap pintu kamar di apartemen tersebut untuk mencari keberadaan suaminya. Namun ia mengurungkan niat itu karena menyadari bahwa tempat tersebut merupakan area pribadi penghuni. Ia kemudian memilih menunggu di dekat mobil suaminya. Tidak lama berselang, suaminya datang dan menemui Bee di area parkir.
Pertemuan itu kemudian berujung pada adu mulut antara keduanya. Pertengkaran tersebut semakin memanas hingga akhirnya terjadi peristiwa kekerasan yang kemudian terekam oleh kamera CCTV di lokasi tersebut. Rekaman itulah yang kemudian diunggah Bee ke media sosial hingga akhirnya viral dan memicu reaksi luas dari masyarakat.
Bee mengaku bahwa rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ia merasa sangat terpukul karena sebelumnya yakin telah membuat pilihan yang tepat dalam hidupnya. Selain itu, ia juga menyebut bahwa selama menjalani kehidupan bersama, mereka memiliki berbagai tanggung jawab dan beban utang yang dibangun bersama. Namun di tengah kondisi tersebut, suaminya justru ingin berpisah dan memulai hubungan baru.
Merasa menjadi korban kekerasan, Bee kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian di Kantor Polisi Pluak Daeng, Provinsi Rayong. Laporan tersebut diterima oleh penyidik setempat. Sebagai bagian dari proses hukum, Bee diminta menjalani pemeriksaan medis di Rumah Sakit Pluak Daeng untuk mendokumentasikan kondisi fisiknya. Selanjutnya, pihak kepolisian berencana memanggil suami Bee untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kasus ini akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



