Perjuangan Penjual Cilok yang Mudik Jalan Kaki
Asep Kumala Seta (31) adalah seorang penjual cilok yang nekat memilih mudik jalan kaki dari Cibaduyut, Kota Bandung, ke Sindangkasih, Kabupaten Ciamis. Perjalanan ini bukan pilihan yang diidamkan, melainkan jalan terakhir yang bisa ia tempuh karena tidak memiliki ongkos. Dengan tas berisi beberapa potong baju, sisa cilok untuk mengganjal perut, dan perlengkapan sederhana, Asep memulai estafet perjalanannya.
Di balik aroma gurih cilok, ada kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Penghasilan yang tak menentu membuatnya sulit menyisihkan uang. Setoran biasanya tujuh ratus ribu, untungnya cuma tiga ratus. Tapi belakangan jarang habis. Kadang cuma dapat seratus ribu, disetor tujuh puluh ribu ke bos. Uang pulang jadi kurang. Akibatnya, uang di sakunya bahkan tak cukup untuk membeli tiket bus yang harganya melambung saat musim mudik.
Perjalanan ini bukan pilihan yang diidamkan, melainkan jalan terakhir yang bisa ia tempuh. Dari Terminal Leuwi Panjang, ia sempat duduk di kursi bus Damri hingga Bundaran Cibiru. Setelah itu, perjalanan sepenuhnya bergantung pada langkah kaki dan tumpangan yang tak pasti. Ia menyebutnya “megat”—mencegat truk yang bersedia memberi ruang di bak terbuka. Tak semua langkah berjalan lurus. Asep sempat menumpang truk dari Rancaekek menuju Nagreg, namun kendaraan itu justru berbelok ke arah Kadungora. Ia turun di tengah jalan, lalu memutar arah, berjalan kembali menuju Limbangan dengan kaki yang mulai berdenyut.
Berjalan jauh bukan hal baru baginya. Ia terbiasa mendaki gunung. Namun berjalan di jalan raya menghadirkan jenis lelah yang berbeda—bukan hanya di kaki, tetapi juga di hati. Di emperan toko atau teras masjid tempat ia beristirahat, tatapan curiga kerap menyambut. “Kadang ada yang nanya, tapi malah disangka yang bukan-bukan,” tuturnya, lirih.
Di balik perjalanan panjang ini, ada kerinduan lain yang diam-diam ia bawa: laut. Sebelum menetap di Bandung, Asep adalah seorang nelayan di Indramayu. Ia akrab dengan jaring, angin, dan cakrawala yang luas. Berjualan cilok, baginya, mungkin hanya persinggahan. Setelah tiba di Sindangkasih dan melepas rindu dengan keluarga, ia berencana kembali ke Indramayu. Laut, bagi Asep, menawarkan kepastian yang tak ia temukan di balik tutup panci cilok.
Kisah Pemudik Lain
Edi Rasidi (50), pedagang siomay yang mudik jalan kaki sambil dorong gerobak dari Cilacap menuju Pemalang, Jawa Tengah. Jarak yang harus ia tempuh diperkirakan lebih dari 130 kilometer. Ada alasan pula di balik aksinya tersebut. Rupanya, ia tengah melaksanakan nazar. Di gerobak yang ia bawa tertulis tulisan “Aja Ngeluh Ora Due Duit, Mudik Mlaku Taklakoni, Demi Njlaluk Pangapura, Negara Makmur Go Kasab Angel Temen, Demi Sungkem Nyong Mudik Mlaku Cilacap – Pemalang.”
“Saya perjalanan dari Sampang Cilacap tujuan Pemalang,” kata Edy, Selasa (17/3/2026) di sela perjalanan di Masjid Darul Najah, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. Gerobak siomay yang didorongnya bukan sekadar alat berdagang, tetapi juga bagian dari rencana hidupnya ke depan. “Saya menggunakan gerobak, jalan kaki. Tujuannya gerobak ini mau dibawa pulang ke kampung buat jualan juga di sana,” ujarnya.
Namun ada alasan lain yang lebih personal di balik perjalanan panjang tersebut. Edy memiliki nazar untuk berjalan kaki yang dia ikrarkan setelah mengalami kecelakaan sekira dua tahun lalu. “Nazar itu karena saya dulu pernah kecelakaan di kaki. Dengkul saya sempat lepas karena terkilir.” Waktu itu satu kaki tidak bisa jalan. Kecelakaan tersebut terjadi saat ia terjatuh dari motor. Dalam kondisi itu, Edy sempat bernazar. Kalau nanti bisa sembuh dan bisa jalan lagi, dia ingin pulang kampung jalan kaki. Kini, setelah kakinya pulih, nazar itu benar-benar ia jalankan.
Perjalanan dimulai Senin (16/3/2026) sekira pukul 06.00. Kalau menggunakan motor, perjalanan tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh dan sekira tiga jam sudah sampai. Namun dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak, Edy memperkirakan perjalanan akan memakan waktu jauh lebih lama. “Kalau jalan kaki saya perkirakan empat hari empat malam,” ujarnya. Dia menargetkan bisa sampai kampung halaman pada Kamis (20/3/2026) malam.
Selama perjalanan, Edy membawa bekal yang sangat sederhana, yaitu tekad. Dia bahkan hanya membawa uang saku Rp40 ribu saat memulai perjalanan. Di sepanjang perjalanan, dia sesekali mendapat bantuan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan. “Alhamdulillah ada yang support di pinggir jalan. Ada sekira satu sampai tiga orang yang langsung membantu,” ujarnya. Selain itu, Edy juga melakukan siaran langsung (live) selama perjalanan. Dia mengaku ada teman yang membantu membelikan kuota internet agar ia tetap bisa melakukan live.
Edy baru enam bulan merantau di Sampang Cilacap. Dia tinggal sendiri di sana dengan menyewa kamar kos. Keputusan merantau itu diambil karena ingin mencoba pengalaman baru. Sebelum merantau ke Sampang, Edy sebenarnya sudah lama berjualan siomay di kampung halamannya di Pemalang. “Kalau di Pemalang dulu sudah sekira 20 tahun, bahkan hampir 22 tahun sebelum corona,” tuturnya. Di sana ia juga membuat sendiri semua bahan siomay yang dijualnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penghasilan dari berjualan siomay tidak menentu. “Untuk tahun-tahun sekarang penghasilan saya tidak bisa diperjelas. Sangat jauh berbeda dari dulu,” tuturnya. Meski begitu, menurutnya hasil tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. “Kalau untuk makan saja cukup,” katanya.



