Penjelasan Menteri Keuangan Mengenai Outlook Kredit Indonesia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan terkait keputusan lembaga pemeringkat internasional yang merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Menurutnya, penilaian tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih kuat.
Purbaya menyatakan bahwa jika dilihat dari rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), defisit fiskal, hingga pertumbuhan ekonomi, Indonesia berada dalam kondisi yang relatif aman. Contohnya, pada tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen, salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20.
“Kalau kita lihat dari rasio utang ke PDB, kita aman. Kita lihat dari defisit ke PDB, kita aman. Pertumbuhan juga aman. Bahkan kita tertinggi di G20, tumbuhnya 5,11 persen tahun lalu,” ujar Purbaya dalam acara buka puasa bersama di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara di kawasan. Thailand, Malaysia, hingga Vietnam disebut memiliki defisit fiskal yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
“Negara sekeliling kita seperti Thailand, di bawah kita pertumbuhannya, defisitnya di atas 4 persen. Malaysia juga di atas 4 persen kalau tidak salah. Vietnam di atas 4 persen,” jelasnya.
Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings sebelumnya merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski tetap mempertahankan peringkat kredit pada level BBB atau masih dalam kategori layak investasi. Perubahan outlook tersebut didorong oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan, termasuk kekhawatiran terhadap konsistensi kebijakan fiskal dan potensi tekanan terhadap penerimaan negara dalam jangka menengah.
Meski demikian, lembaga tersebut tetap menilai Indonesia memiliki sejumlah kekuatan, seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, rasio utang pemerintah yang relatif rendah dibanding negara dengan peringkat serupa, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang masih solid.
Menanggapi hal tersebut, Purbaya mempertanyakan alasan Indonesia justru menjadi sorotan lembaga pemeringkat. Menurut dia, keraguan tersebut bisa saja dipengaruhi faktor lain, termasuk transisi pemerintahan dan pergantian pejabat ekonomi.
“Tapi kenapa yang diincar Indonesia? Mungkin masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sangsi jangan-jangan Menteri Keuangan tidak bisa mengelola anggaran,” katanya.
Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan terus memperbaiki komunikasi dengan para pemeringkat global agar mereka memahami kondisi ekonomi Indonesia secara lebih utuh. Ia bahkan berencana melakukan kunjungan ke luar negeri untuk menjelaskan langsung arah kebijakan ekonomi nasional.
“Jadi itu kesalahan saya juga karena saya tidak keluar negeri. Saya pikir sebelum Indonesia tumbuh 6 persen saya tidak akan keluar negeri. Tapi sekarang berubah. Saya akan keluar negeri untuk memastikan bahwa Menteri Keuangan kita mengerti apa yang dikerjakan,” ujarnya.
Ia menilai kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 sebenarnya cukup solid. Pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal tanpa melampaui batas defisit sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.
“Kalau kita lihat dari cara pemerintah mengendalikan ekonomi tahun 2025 kemarin, sebetulnya luar biasa. Tanpa menembus batas fiskal, kita bisa membalik ekonomi yang tumbuhnya tertinggi, bahkan mengalahkan China,” kata Purbaya.
Meski demikian, ia mengakui lembaga pemeringkat masih memiliki sejumlah kekhawatiran, terutama terkait penerimaan negara seperti pajak dan bea cukai.
“Salah satu concern mereka adalah pendapatan pajak, bea cukai, dan lain-lain yang katanya berisiko karena tahun lalu bisa berakhir lebih awal. Tapi kita pastikan ini akan membaik,” ujarnya.
Purbaya mengungkapkan pengumpulan pajak pada dua bulan pertama 2026 menunjukkan perkembangan positif.
“Sebagai indikasi awal, pengumpulan pajak di dua bulan pertama tahun 2026 ini tumbuh sekitar 30 persen, Januari–Februari. Artinya stabil di sana dan kita akan pastikan itu stabil terus ke depan,” kata dia.
Selain itu, pemerintah juga berupaya memastikan berbagai mesin pertumbuhan ekonomi berjalan optimal, mulai dari belanja pemerintah, menjaga likuiditas sektor keuangan bersama bank sentral, hingga memperbaiki iklim usaha.
“Misalnya belanja pemerintah, likuiditas di sektor finansial kita jaga bersama bank sentral. Kendala berbisnis akan kita perbaiki secepat mungkin. Kita akan fokus ke proyek-proyek besar yang memberi dampak ke perekonomian,” ujarnya.
Pemerintah juga akan memperkuat sektor ekspor melalui berbagai fasilitas pembiayaan untuk perusahaan berorientasi ekspor.
“Kita akan menggunakan semua engine of growth untuk memastikan semuanya berjalan sehingga keraguan para lembaga pemeringkat itu bisa terbantahkan,” kata Purbaya.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap penilaian outlook negatif tersebut.
“Jadi tidak usah takut. S&P, Fitch mengeluarkan outlook negatif, lalu saham jatuh. Tidak. Fondasi kita masih kuat. Tidak ada yang berubah. Kita masih dalam fase akselerasi pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.



