Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 20 Maret 2026
Trending
  • Situasi Timur Tengah Memanas, Dua Balapan F1 Dibatalkan
  • Penghasilan US$ 3,9 Miliar, Capaian Operasional PGN Tahun 2025
  • Target Persib di kandang Borneo FC tidak terlalu tinggi
  • 3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang
  • Rusdi Masse Bergabung dengan PSI, Mulai Kuasai Basis Lama NasDem di Ajatappareng
  • Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 2 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka dan Jawaban
  • Revisi DHE SDA Belum Dirilis, Ekonom Khawatir Pemerintah Masih Hitung Risiko bagi Eksportir
  • Polda Bengkulu Tanggapi Tuduhan Kriminalisasi ART Refpin yang Cubit Anak Anggota DPRD
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Arus Laut Pasifik Bawa Mikroplastik ke Indonesia
Ragam

Arus Laut Pasifik Bawa Mikroplastik ke Indonesia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover19 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Penelitian Gabungan Menemukan Mikroplastik di Lautan Indonesia Hingga Kedalaman 2.450 Meter

Sebuah penelitian gabungan antar-negara menemukan adanya mikroplastik di lautan wilayah Indonesia hingga kedalaman 2.450 meter. Partikel plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter ini dinilai berpotensi masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia. Corry Yanti Manullang dari Pusat Riset Laut Dalam, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa arus laut tidak hanya membawa massa air, garam, dan nutrien, tetapi juga partikel kecil seperti mikroplastik.

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan Cina. Lokasi penelitian berada di sekitar Arlindo, yaitu arus lintas Indonesia yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia. Arus ini melalui beberapa selat penting seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional, Marine Pollution Bulletin, dengan judul artikel Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways.

Fokus pada Distribusi Vertikal Mikroplastik

Sebelumnya, penelitian tentang arus lintas Indonesia lebih fokus pada aspek fisik laut seperti suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Sementara itu, sebagian besar penelitian mikroplastik di perairan Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir. Namun, penelitian kali ini memperluas cakupan untuk mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo.

Tim peneliti mengambil 92 sampel kolom air di 11 lokasi stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok. Kedalaman pengambilan sampel mencapai 2.450 meter. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (conductivity, temperature, depth). Dengan alat ini, peneliti dapat mengambil air secara spesifik pada kedalaman tertentu. “Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan,” jelas Corry.

Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik. Rata-rata konsentrasinya sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.

Jenis dan Sumber Mikroplastik

Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis. “Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” ujar Corry.

Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman. Beberapa di antaranya adalah polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri. Menurut Corry, temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik. “Di kedalaman tertentu, arus lintas Indonesia cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air,” tambahnya.

Mikroplastik dalam Rantai Makanan Laut

Selain meneliti distribusi mikroplastik di kolom air, tim peneliti juga mengkaji apakah partikel tersebut telah masuk ke rantai makanan laut di sekitar arus lintas Indonesia. Dalam studi lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana, berjudul Ingestion of Microplastics in the Planktonic Copepod from the Indonesian Throughflow Pathways, Corry dan tim menemukan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda.

Kopepoda merupakan zooplankton yang sangat melimpah di laut dan menjadi sumber makanan penting bagi berbagai jenis ikan. Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis dari beberapa lokasi di jalur Arlindo. Hasilnya menunjukkan ada 133 partikel mikroplastik ditemukan di dalam tubuh organisme tersebut. Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.



Penelitian mikroplastik pada tubuh zooplankton kopepoda (Copepoda). Dok. BRIIN

“Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan,” kata Corry. Penelitian juga menunjukkan bahwa kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan yang berukuran lebih kecil. Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian karena organisme ini merupakan sumber makanan utama bagi berbagai jenis ikan. “Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” ujarnya.

Pentingnya Penelitian Lebih Lanjut

Corry mengatakan penelitian mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan, terutama di wilayah laut dalam. Menurut dia, sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter. Sehingga, penelitian di ekosistem tersebut masih relatif terbatas.

“Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir,” kata dia. Mikroplastik sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 2 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka dan Jawaban

19 Maret 2026

Lirik Harga Toyota Yaris Bekas 2008, Cocok untuk Gen Z

19 Maret 2026

7 tanda pria pintar terlihat dari sifatnya yang unik

19 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Situasi Timur Tengah Memanas, Dua Balapan F1 Dibatalkan

20 Maret 2026

Penghasilan US$ 3,9 Miliar, Capaian Operasional PGN Tahun 2025

20 Maret 2026

Target Persib di kandang Borneo FC tidak terlalu tinggi

19 Maret 2026

3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang

19 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?