Masa Lalu Ahok Sebelum Menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta
Mantan Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama Ahok, pernah membuka masa lalunya terkait kiprahnya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saat itu, ia mendampingi Joko Widodo (Jokowi) sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012. Sebelumnya, Ahok juga pernah menjadi Anggota DPR RI dengan masa jabatan dari tahun 2009 hingga 2012.
Ahok mengungkapkan bahwa dirinya ingin berhenti menjadi anggota DPR RI karena diarahkan oleh Partai Golkar, partai yang menaunginya. Partai Golkar menawarkan Ahok untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur atau wakil gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Alasannya adalah karena Ahok memiliki reputasi baik ketika menjabat sebagai Bupati Belitung Timur dari tahun 2005 hingga 2006.
Namun, Ahok memilih menolak tawaran tersebut karena ingin mencalonkan diri sebagai cagub atau cawagub DKI Jakarta. Keinginan ini akhirnya membuat Partai Golkar mengambil langkah tegas dengan memecatnya. Ahok menyebut bahwa Partai Golkar memiliki kandidat lain, yaitu Tantowi Yahya dan Azis Syamsuddin, untuk maju sebagai cagub dan cawagub DKI Jakarta.
Penawaran dari Partai Gerindra
Setelah dikeluarkan dari Partai Golkar, Ahok menerima tawaran dari Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Karena sesuai dengan keinginannya, Ahok akhirnya menerima tawaran tersebut. Namun, ada kendala karena kursi Partai Gerindra di DPRD DKI Jakarta tidak cukup untuk mengusung calon sendiri.
Oleh karena itu, Gerindra memilih untuk berkoalisi dengan PDIP. Ahok menjelaskan bahwa tanpa dukungan dari partai lain, sulit bagi Gerindra untuk mengusung calon gubernur secara mandiri.
Persaingan dalam Pemilihan Wagub DKI Jakarta
Ahok menyebut bahwa ketika Gerindra menawarkannya untuk menjadi cawagub DKI Jakarta mendampingi Jokowi, mantan Wali Kota Solo itu ternyata sempat tidak mau. Jokowi, kata Ahok, justru ingin didampingi oleh mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar.
“Kita gandeng PDIP, kamu jadi wakil ya. Ketika mau jadi wakil gak bisa juga. Pak Jokowi maunya Deddy Mizwar,” ujarnya.
Ahok menjelaskan bahwa Jokowi merasa tidak cocok dengan dirinya karena alasan-alasan tertentu seperti latar belakang etnis dan agama. Di sisi lain, Ahok mengaku mendengar dari internal PDIP bahwa selain Deddy Mizwar, kandidat lain yang dimunculkan adalah Sandiaga Uno.
Menurut hasil survei kala itu, kedua nama tersebut dianggap layak untuk mendampingi Jokowi. Sementara, Ahok tidak pernah masuk bursa menjadi cawagub DKI Jakarta.
Perbedaan Pandangan antara Jokowi dan Megawati
Ahok mengungkapkan bahwa Jokowi sebenarnya enggan untuk berkontestasi didampingi oleh Sandiaga Uno. Sementara, Megawati tidak ingin Jokowi dicalonkan bersama dengan Deddy Mizwar. Ahok menduga bahwa Jokowi memilih dirinya agar Megawati tidak memiliki pilihan lain selain mencalonkannya bersama dengan Deddy Mizwar.
“Menurut keyakinan saya, Pak Jokowi nggak mau (mencalonkan diri) bersama Sandiaga Uno. Kan kalau tinggal dua nama harus dimasukin ke Bu Mega nih. Pak Jokowi isunya minta nama Sandiaga Uno diganti nama saya yang dari nomor 12 naik-naik terus.”
Pemilihan Akhir dan Kemenangan
Pilihan Megawati untuk mencalonkan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2012 berujung manis. Pasangan tersebut mampu mengalahkan petahana kala itu yakni Fauzi Bowo atau Foke yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli alias Nara.
Pada putaran pertama, Jokowi-Ahok unggul dengan raihan 1.847.157 suara atau 42,6 persen suara. Sementara, Foke-Nara di peringkat kedua dengan raihan 1.476.648 suara atau 34,05 persen.
Di putaran kedua, Jokowi-Ahok kembali menang dengan raihan 2.472.130 suara atau 53,82 persen. Sementara Foke-Nara kalah dengan perolehan suara 2.120.815 suara.



