Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Monday, 5 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Mojtaba Khamenei, Anak Kedua Pemimpin Tertinggi Iran, Terpilih Jadi Pemimpin Baru
    Nasional

    Mojtaba Khamenei, Anak Kedua Pemimpin Tertinggi Iran, Terpilih Jadi Pemimpin Baru

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover14 March 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru Terpilih

    Pemimpin tertinggi Iran yang baru telah terpilih, yakni Mojtaba Khamenei, anak kedua dari Ayatollah Ali Khamenei. Penunjukan ini dilakukan untuk mengisi kekosongan jabatan setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu. Kabar kepemimpinan tersebut dikonfirmasi oleh media resmi Iran, Tasnimnews.ir, pada Minggu (8/3/2026). Mojtaba Khamenei kini tercatat sebagai Pemimpin Revolusi Islam ketiga dalam sejarah modern Republik Islam Iran.

    Keputusan oleh Majelis Pakar Iran diambil tepat sembilan hari setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang Teheran. Serangan militer tersebut dilaporkan menjadi penyebab kematian Ayatollah Ali Khamenei di ibu kota Iran. Selama ini, sosok Mojtaba Khamenei dikenal sangat tertutup dari panggung politik praktis. Ia tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum di Iran. Meski demikian, selama beberapa dekade terakhir, ia menjadi tokoh paling berpengaruh di lingkaran dalam kepemimpinan tertinggi.

    Mojtaba dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer elit Iran. Kedekatannya dengan IRGC membuat namanya sering disebut-sebut sebagai calon tunggal pengganti ayahnya.

    Profil Mojtaba Khamenei

    Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei merupakan ulama asal Iran. Ia adalah putra kedua dari Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei lahir di kota Mashhad, Iran pada 8 September 1969. Nama Mojtaba Khamenei menjadi sorotan ketika kerusuhan terjadi dalam unjuk rasa yang terjadi dalam sengketa pemilihan umum Presiden Iran 2019. Ia diyakini bertanggungjawab atas kerusuhan itu. Ia juga disebut-sebut pernah mengambil alih kendali Basij yang digunakan untuk menekan protes atas pemilihan presiden 2009.

    Perjalanan Karir Mojtaba Khamenei

    Ia menerima pendidikan awal di Sardasht dan Mahabad dan lulus SMA dari Teheran. Setelah itu, ia mempelajari teologi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan Mahmoud Hashemi Shahroudi. Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada tahun 1987 dan bertugas dalam Perang Iran-Irak. Pada tahun 1999, ia melanjutkan studinya di Qom untuk menjadi seorang ulama, dan kemudian bergabung dengan Seminari Qom sebagai guru teologi.

    Status Keulamaan Mojtaba

    Dari sisi keagamaan, Mojtaba Khamenei saat ini menyandang gelar hojatoleslam, yaitu tingkat ulama menengah dalam hierarki ulama Syiah. Status ini sempat menimbulkan perdebatan karena posisi pemimpin tertinggi Iran biasanya dipegang oleh ulama dengan gelar ayatollah yang lebih tinggi. Mojtaba Khamenei sendiri jarang tampil di depan publik dan hampir tidak pernah memberikan pidato politik atau khutbah terbuka. Bahkan banyak warga Iran yang mengaku belum pernah mendengar langsung suaranya meski namanya sering disebut dalam lingkaran kekuasaan.

    Keluarga

    Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel. Zahra merupakan putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif Iran dan mantan Ketua Parlemen. Keduanya dilaporkan menikah pada tahun 2004. Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Pasangan ini dilaporkan memiliki tiga anak, meskipun tidak banyak detail yang tersedia mengenai anak-anak tersebut.

    Mojtaba Selamat dari Serangan AS-Israel

    Pekan lalu, Mojtaba dilaporkan selamat dari serangan udara AS dan Israel. Informasi tersebut disampaikan dua sumber Iran kepada Reuters pada Rabu (4/3/2026). Menurut sumber tersebut, Mojtaba selama ini dipandang oleh kalangan penguasa Iran sebagai salah satu kandidat penerus ayahnya. Salah satu sumber Iran mengatakan, Mojtaba tidak berada di ibu kota ketika serangan terjadi. “Dia (Mojtaba) masih hidup. Dia tidak di Teheran ketika Pemimpin Tertinggi terbunuh,” kata sumber tersebut.

    Tidak Dipilih Langsung oleh Rakyat

    Pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh sebuah badan khusus bernama Majelis Ahli. Badan ini terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali. Namun, proses ini memiliki mekanisme yang ketat. Setiap kandidat yang ingin menjadi anggota Majelis Ahli harus terlebih dahulu melewati pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan dari Dewan Penjaga. Dewan ini merupakan badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.

    Apabila jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli akan segera berkumpul untuk menentukan pengganti melalui proses pemungutan suara sederhana. Proses pemilihan sederhana sudah cukup untuk menunjuk pemimpin tertinggi yang baru. Sesuai dengan konstitusi Iran, kandidat harus seorang ahli hukum senior dengan pengetahuan mendalam tentang yurisprudensi dalam Islam Syiah, serta memiliki kualitas seperti penilaian politik, keberanian, dan kemampuan administrasi.

    Pemilihan Dilakukan dengan Hati-Hati

    Mohammad Mehdi Mirbagheri, anggota Majelis Pakar, menyebut proses penunjukan ini telah dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal tersebut diambil guna mencegah terjadinya perpecahan atau penolakan di internal pemerintahan Iran. Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang tersebut mengklaim telah mencapai suara mayoritas yang signifikan. Hal itu dipertegas oleh pernyataan Ahmad Alamolhoda, tokoh ultra-konservatif dari kota suci Mashhad, pada Minggu sore.

    “Suatu pendapat yang hampir pasti telah tercapai. Mayoritas yang signifikan telah terbentuk,” kata kepala Akademi Ilmu Islam Qom dalam sebuah video yang dirilis pada hari Minggu oleh kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

    Sementara itu, Pemimpin Muslim ultra-konservatif terkemuka yang mewakili kota suci Syiah Mashhad di Majelis Pakar, Ahmad Alamolhoda, mengatakan pada Minggu (8/3/2026) pemimpin telah dipilih dan sekretariat Majelis Pakar harus segera mengumumkan hasilnya. “Pemilihan pemimpin telah berlangsung dan pemimpin telah ditentukan. Semua rumor bahwa Majelis Pakar belum mengambil keputusan adalah kebohongan belaka. Semuanya sekarang bergantung pada sekretaris Majelis Pakar, Ayatollah Hosseini Bushehri, yang berkewajiban untuk mengumumkan keputusan Majelis kepada publik,” ujar Ahmad Alamolhoda.

    Respons Trump

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun memberikan respons soal langkah Iran yang akan segera mengumumkan pemimpin tertinggi baru. Trump berjanji akan memberikan pengaruh atas siapa yang dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. “Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump. “Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” lanjut Trump. Trump menambahkan bahwa dia tidak ingin pemerintahan Iran ke depan kembali ke masa lalu. “Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” katanya.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Pasar Perhatikan Aksi Demo, IHSG Melemah Di Pembukaan

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?