Pengalaman Jemaah Umrah Indonesia di Mekkah Saat Konflik Iran vs AS-Israel
dr. Ardi Santoso, SpA, M.Kes, seorang jemaah umrah asal Indonesia, menceritakan pengalamannya saat berada di Mekkah setelah terjadinya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan ke Mekkah berjalan dengan lancar tanpa adanya penutupan wilayah udara atau penundaan penerbangan.
Perjalanan yang Lancar dan Aman
dr Ardi mengatakan bahwa perjalanan ke Mekkah berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala teknis yang dialami selama perjalanan. Ia juga menyebutkan bahwa proses transit berjalan normal.
“Alhamdulillah perjalanan berjalan lancar. Tidak ada penutupan wilayah udara, tidak ada penundaan penerbangan, dan proses transit juga normal.”
Ia menambahkan bahwa meskipun pada 28 Februari kemarin merupakan awal pecahnya konflik antara Iran, AS, dan Israel, ia tidak mengalami kendala dalam perjalanan ke Tanah Suci.
“Sebagai dokter dan juga warga negara, tentu saya memantau situasi global. Tapi secara operasional, perjalanan saya tetap berjalan aman dan tertib.”
Kondisi Ibadah Umrah di Mekkah
Menurut dr Ardi, kondisi ibadah umrah di Mekkah masih berjalan dengan normal. Masjidil Haram tetap ramai oleh umat Muslim yang ingin melaksanakan umrah, terutama di bulan suci Ramadan.
“Di Mekkah, suasana ibadah berjalan normal. Masjidil Haram tetap ramai, tertib, dan penuh kekhusyukan.”
Meski saat ini tengah terjadi konflik geopolitik, dr Ardi menyebut hal itu tidak mengganggu pelaksanaan ibadah umrah di Mekkah. Para jemaah umrah dari berbagai negara masih bisa menjalankan ibadah seperti biasa.
“Konflik geopolitik tentu menjadi perhatian dunia, tetapi secara langsung di Mekkah saya tidak melihat adanya gangguan terhadap pelaksanaan ibadah umrah.”
Keamanan dan Imbauan dari KJRI
dr Ardi mengungkapkan bahwa hingga saat ini ia belum menerima imbauan khusus darurat dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah terkait keamanan jemaah umrah Indonesia.
“Sampai saat ini saya pribadi belum menerima imbuahan khusus yang bersifat darurat dari KJRI. Biasanya imbauan bersifat kewaspadaan umum dan mengikuti perkembangan situasi.”
Ia menekankan bahwa penting untuk tetap tenang dan tidak panik dalam situasi seperti ini.
Kemenhaj Pastikan Keamanan Kepulangan Jemaah
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan proses kepulangan jemaah umrah tetap berjalan secara bertahap dan terkendali di tengah memanasnya situasi keamanan di Timur Tengah.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 6.047 jemaah telah kembali ke Indonesia dengan aman dalam kurun waktu dua hari terakhir.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, merinci bahwa kepulangan massal tersebut terbagi dalam dua gelombang besar. Pada Sabtu, 28 Februari 2026, sebanyak 4.200 jemaah tiba menggunakan 12 penerbangan. Sementara pada Minggu, 1 Maret 2026, menyusul 2.047 jemaah yang mendarat dengan 5 penerbangan.
“Pemerintah terus mengawal proses ini agar seluruh jemaah dapat pulang secara bertahap dan tertib,” ujar Ichsan di Jakarta, Minggu (2/3/2026).
Nasib 43 Ribu Calon Jemaah Umrah
Selain fokus pada pemulangan, pemerintah kini tengah memantau ketat rencana keberangkatan 43.363 calon jemaah umrah yang terdaftar di 439 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).
Puluhan ribu jemaah ini awalnya dijadwalkan berangkat sebelum memasuki musim haji pada 18 April 2026.
Mengingat dinamika penerbangan dan keamanan di kawasan transit maupun Arab Saudi, Kemenhaj memberikan instruksi tegas kepada seluruh biro perjalanan.
“Kami memastikan setiap PPIU menjalankan kewajibannya secara penuh, mulai dari pemberangkatan, pelayanan selama di Arab Saudi, hingga kepulangan jemaah. Tanggung jawab itu tidak boleh diabaikan,” tegas Ichsan.
Pemerintah juga meminta agar komunikasi antara PPIU dan jemaah terus dijalin dengan baik.
“Kami mengajak jemaah dan PPIU untuk saling memahami. Yang utama adalah memastikan seluruh jemaah tetap aman, terlayani, dan mendapatkan kepastian,” lanjutnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga telah menyiagakan jalur komunikasi darurat melalui koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Jemaah yang mengalami kendala hukum atau situasi darurat di negara transit maupun Arab Saudi diminta segera menghubungi KBRI atau KJRI setempat.



